Showing posts with label rerasan. Show all posts
Showing posts with label rerasan. Show all posts

Thursday, December 04, 2008

terserak



detik meloncat lewati hari
bulan pun melesat berganti tahun
kemarin tunas hijau tumbuh dan mekar
esok, daun kering terserak
penuhi tanah yang telah berlumut

kemarin tanah itu berdebu
tersengat panasnya mentari kemarau
pagi tadi hujan menjamu lumut
untuk kembali menghijau

debu berteriak,
“air membuat angin tak mampu lagi menerbangkanku”

daun kering pun berlari
coba meraih kembali waktu
yang perlahan menghancurkannya menjadi remah

"aku bukan untuk kau kejar,
tapi untuk tidak kau siakan”
waktu berlalu

Tuesday, November 04, 2008

racunmu merahku


ketika racunmu
menjadi anggur bagiku

wahai cinta
percikmu
selalu memerahkan hatiku


dan kan kukatakan,
“kau tiada arti apa pun bagiku!”
...


tlah ku bunuh hatiku
dengan mengkhianatinya
bersamaan kau telah membunuhku
dengan anggurmu


- pernah diposting di blog kawan di sini, gambar mengambil koleksi kawan di situ -

Saturday, October 25, 2008

sisa hujan semalam



hujan semalam masih menyisakan basah di tanah
angin pun terasa dingin
karena mentari belum memancarkan sinarnya pagi ini
masih bertiraikan awan tipis kelabu

yah, langit memang kelabu pagi ini
tapi tidak selamanya warna itu membawa kesedihan

toh pagi ini begitu indah bagiku
angin dingin berhembus sepoi
membawa aroma tanah yang masih basah
simfoni lembut gesek dedaunan di halaman
terdengar lebih indah dari lagu apa pun

seraut wajah
membayangiku dengan senyum manisnya
ah.. pagi kelabu ini benar-benar indah

-terinspirasi seorang sahabat di kendari-

Wednesday, October 22, 2008

Sindoro Sumbing

Selayak dewa dewi berdiri gagah dan anggun
puncak-puncakmu senantiasa menyapa awan
kaki-kakimu membentang luas
memberi penghidupan bagi para petani
tembakau cengkeh palawija sayuran buah-buahan

kembali
terpukau kumenatapmu

biarlah rangkaian kata-kata ini
menjadi rangkaian kata salon
yang hanya berucap tentang keindahanmu

karena bagiku
kau bukanlah sekedar
tapi kau adalah nyata keindahan

ijinkan aku suatu saat nanti
kembali membelai batuan terjalmu
di malam berbintang dan pagi berkabut

kembali menatap senyum mentari fajar
bersama indah sunyi kawahmu
suatu saat nanti

-Temanggung, Oktober 2008-

Monday, October 06, 2008

kertas kumal dan untaian kata

Untaian kata-kata yang kusalin dalam selambar kertas beberapa tahun lalu kembali menarik hatiku untuk merasapinya lagi. Tak sengaja kutemukan selembar kertas kumal itu beberapa waktu lalu saat membongkar buku-buku dan arsip-arsipku yang sudah cukup lama tak kupedulikan. Entahlah, aku menyukai sekali rangkaian kata-kata itu. Seolah bukan sekedar kata-kata yang dirangkaikan satu dengan yang lain, tapi lebih dari itu. Ada jiwa yang berucap di sana.

...

Tuhan telah menciptakan pada kalian jiwa bersayap untuk terbang mengarungi cakrawala cinta dan kebebasan.
Betapa sedihnya memotong sayap itu dengan tanganmu sendiri dan menyiksa jiwamu seperti kutu yang merayap di atas bumi.

~

Yang penting bagi manusia bukan hasil yang ia dapatkan, tapi apa yang ia inginkan.

~

Ketika kamu menyanyikan keindahan, meskipun di tengah gurun akan ada yang mendengarkan.

~

Keindahan adalah apa yang menarik jiwa,
Kepadanya cinta diberikan dan bukan diminta.

~

Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun.
Cinta adalah anak kecocokan jiwa dan jika itu tidak pernah ada, cinta tidak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia.

~

Hakekat sifat kita adalah diam, berbicara hanyalah sekedar tambahan.

~

Kebenaran diri seseorang bukan pada apa yang ia nampakkan, tapi pada apa yang tidak dapat ia ungkapkan.
Oleh karena itu, bila engkau ingin mengerti dirinya dengarkanlah bukan apa yang ia katakan, tapi apa yang tidak ia ucapkan.

~

Alangkah jauhnya aku dari orang-orang ketika aku bersamanya, dan alangkah dekatnya ketika mereka jauh.
Mempercayai adalah satu hal, melakukan adalah hal lain. Banyak orang berbicara seperti laut tetapi kehidupan mereka bagaikan rawa-rawa yang diam. Yang lain-lainnya menaikkan kepala mereka mengatasi puncak gunung, sementara jiwa-jiwa mereka menggelantungi dinding-dinding gua yang gelap.

~

Penindasan tidak membuat manusia adil menjadi menderita, juga penindasan tidak menghancurkan manusia bilamana dia berada pada sisi kebenaran.
Socrates tersenyum ketika dia meminum racun, dan Stephen tersenyum ketika dia dirajam. Yang sungguh menyakitkan adalah nurani kita yang pedih ketika kita membantahnya, dan mati ketika kita mengkhianatinya.

~

Jiwa Barat adalah teman kita bila kita menerima dia, tetapi musuh kita bila kita dimabukkannya; teman kita jika kita membuka hati kepadanya, musuh kita ketika kita menyerahkan kepadanya hati-hati kita; teman kita bila kita mengambil dari apa-apa yang menyenangkan kita, musuh kita bila kita biarkan diri kita dipakai untuk menyenangkan dia.

(Kahlil Gibran)

Sunday, August 31, 2008

terbitlah

kau pernah menjadi matahari terbit ku
dan hari ini kau benar-benar telah terbit
menyatulah dengan garis edarmu
tersenyumlah dan raihlah tangannya

raihlah tangannya
yang 'kan membawamu melewati hari-hari penuh asa
jalani siang penuh makna dan malam bertabur gemintang
diantara pagi yang cerah dan senja yang indah

tak ada
sesuatu yang membuatmu bahagia
tanpa aku pun lebih bahagia
tentu saja, doa ku terucap untuk mu

tersenyumlah dan raihlah tangannya

Thursday, August 21, 2008

gagak dan rembulan

langit gelap
rembulan muram membenamkan wajahnya
dibalik segumpal awan menghitam

“tersenyumlah dan pancarkan sinarmu”
seekor gagak terbang melintas menyapa rembulan

rembulan pun tersenyum
sinarnya terpancar
langit pun menjadi cerah
tak ada lagi awan hitam

sayup kaok semakin menghilang di kejauhan
gagak telah berlalu
namun kini bulunya telah menjadi putih
berkilau terkena sinar rembulan

Saturday, August 16, 2008

Postingan Tirakatan

...
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka..

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap setia
Mempertahankan Indonesia
...
(H. Mutahar)



Njih,
17 Agustus memang hari yang patut disyukuri dan dirayakan oleh bangsa Indonesia. Mungkin tak keliru bila banyak kemeriahan yang dilakukan untuk menyambutnya. Tentu tak semata-mata sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa para pahlawan yang telah mewujudkan kedaulatan bangsa ini. Namun juga untuk memupuk rasa nasionalisme dan persatuan diantara kita.

Sebagian orang mengisi malam 17an dengan acara tirakatan sebagai media untuk introspeksi dan perenungan. Nah dalam Postingan Tirakatan ini, saya ingin mengutip beberpa pernyataan yang meskipun bukan hal baru, tapi menurutku tetap menarik untuk menjadi bahan perenungan dan pemikiran.

- Di masa sekarang makna kemerdekaan perlu didefinisikan ulang/redefinisi. “Kalau saya, merdeka itu harus diredifinisi sebagai merdeka dari pengangguran, kemiskinan, dan dari modal asing,” (Ekonom UGM, Mudrajad Kuncoro).

- Melihat sejarah ke belakang, ada puluhan kerajaan yang pernah hidup di nusantara. Kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Majapahit, Mataram, dan Tarumanegara. Tapi kerajaan-kerajaan tersebut tidak berumur panjang. “Kehancurannya bukan oleh serangan musuh tetapi oleh penghianatan dan kebodohan bangsanya sendiri. Sejarah itulah yang semestinya menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia,” (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara -yang berpemikiran seorang negarawan- Taufiq Effendi)

Melihat kondisi bangsa Indonesia saat ini, mungkin memang bisa dikatakan bahwa kita belum sepenuhnya merdeka. Selain masih terjajah oleh kekuatan kapitalis asing, kapitalis dari bangsa sendiri pun tak kalah garangnya mencengkeram yang lainnya.

Jadi tentu saja, perjuangan belum berakhir..

Tapi kita tetap harus meneriakkan “MERDEKA”, sebagaimana pejuang kemerdekaan meneriakkan kata itu ketika mengusir penjajah.

Foto: Pantai Ngrenehan Gunung Kidul Yk, Mei 08

Angin dan Lelaki Kabur Kanginan

Lelaki kabur kanginan,
Pengembara yang berjalan mengikuti arah angin kehidupan.
Pengembara yang papa tanpa harta dan kuasa, kecuali harapan.
Ia bukanlah angin, karena anginlah yang membawanya melangkah.


Lelaki kabur kanginan,
Adalah nelayan yang tak kuasa mengajak kekasihnya turut serta berlayar,
karena perahunya terlalu kecil untuk mereka berdua.

Ia adalah papa tanpa harta dan kuasa, kecuali harapan.
Harapan tuk menjadi angin,
agar bisa menentukan sendiri arah hembusannya.
Harapan tuk menjadi angin,
agar bisa membawa kekasihnya berlayar.
Harapan tuk menjadi angin,
agar mampu menghembus lautan,
hingga menjadi gelombang yang tak lelah menerjang karang.

Saturday, August 02, 2008

tanda-tanda alam

Di awal musim kemarau beberapa bulan lalu…

Bocah 1: Hoi garengpung!!!!
(menyapa bocah 2 yang sedang menamakan diri garengpung setelah mendengar ocehan serangga-serangga itu di pekarangan belakang rumahnya)

Bocah 2: Hoei juga.... Aku datang, maka kemarau pun akan segera datang...

Bocah 1: Wah jan ilmu titenmu sip.
(Wah ilmu titen mu hebat)

Bocah 2: Sekedar membaca tanda-tanda alam..

Bocah 1: We ek ek ek.. meh nyaingi madam Lauren..?
(Mau menyaingi madam Lauren?)

Bocah 2: Yen aku melu ngelmune Mbah Maridjan wae..
(Kalau aku ikut ilmunya Mbah Marijan aja. -Mbah Marijan: juru kunci gunung Merapi-)

Bocah 1: Wah cari profesi alternatif setelah pensiun ya?

Bocah 2: Lumayan nggo samben..
(lumayan untuk sampingan)
Mungkin ada yang mau kau konsultasikan tentang tanda-tanda alam nak?

Bocah 1: Piye (gimana) mbah berdasarkan tanda tanda alam, temenku yang di Yogya sekarang lagi musim apa?

Bocah 2: Berdasarkan angin yang berhembus ke arah timur.. temenmu yang di Yogya lagi musim ngobrol (suka ngobrol) dengan seseorang di arah timurrr...

Bocah 1: *tersipu*

Bocah 2: Wah ki aku iso nyaingi Mbah Hadi no ya...
(wah aku bisa menyaingi Mbah Hadi ya.. -Mbah Hadi : KRH Darmodipuro, kepala museum Radya Pustaka Solo, pakar ilmu pawukon-)

Bocah 1: Mbah, kapan koncoku iku dolan nang Solo, terus bawa oleh-oleh buat aku?
(Mbah kapan temenku bisa maen ke solo, dan membawa oleh-oleh untuk ku?)

Bocah 2: Jika kelak di Yogya telah tumbuh buah pear.. dia akan membawakannya untukmu..
Tapi sungguh sayang nak.. buah pear tidak bisa tumbuh di kawasan Yogya..

Bocah 1: Waduh !!! Betapa malangnya aku!!
He he.. koe pindah Solo wae nggenteni Mabah Hadi...
(Kamu pindah Solo aja, menggantikan Mbah Hadi)

Bocah 2: Wah yen pawukon aku isih rung terlalu lanyah je.. ki sih meguru karo mbah buyut..
(Wah kalau ilmu pawukon –hitungan penanggalan Jawa- aku masih belum mahir. Ini masih belajar sama nenek buyut)

Bocah 1: Yo banyak belajar, po perlu tak colongne primbone Mbah Hadi?
(Ya banyak belajar. Apa perlu ku curikan buku primbon-nya Mbah Hadi?)

Bocah 2: Gelem, tapi khawatire yen malah katut keseret dadi pesakitan lho.
(Mau, tapi khawatirnya malah ikut terseret jadi pesakitan. –beberapa waktu lalu Mbah Hadi terseret kasus pencurian arca-)
*mengernyitkan dahi*

Bocah 1: Malah seneng no iso mangan tidur gratis.
(Malah seneng dong, bisa makan tidur gratis)

Bocah 2: Iyo sih.. tapi yo sekalian dadi panganan nyamuk-nyamuk..
(Iya sih.. tapi juga sekaligus jadi makanan nyamuk-nyamuk)

Bocah 1: Yo saling memakan aja... biar sama-sama untung.

Bocah 2: *huh*
Tapi jare (kata) Mbah Marijan.. yen (kalau) nyamuk berdatangan, itu suatu pertanda....
bakalan banyak orang terkena gatal-gatal..

Bocah 1: *ennggg...* Ya iya lahhhhh....!!

Bocah 2: Hehe.. namanya juga bo'ong-bo'ongan.. *nyengir*


Sudah sejak lama manusia mencoba memahami alam dengan membaca tanda-tanda yang ada. Sepeti memprediksi datangnya musim kemarau atau penghujan, datangnya badai, gunung meletus, dan lain sebagainya. Tanda-tanda yang biasa dibaca oleh masyarakat tradisional bermacam memang, mulai dari perilaku binatang, tumbuh-tumbuhan, hingga arah angin.

Sepertinya alam memang memberikan ciri-ciri atau pertanda sebelum terjadinya sesuatu (bencana misalnya), tinggal bagaimana kejelian manusia mencermati untuk mewaspadainya. Jadi alangkah indahnya kalau manusia bisa hidup selaras dengan alam dan menjaganya, bukan justru merusaknya.

Thursday, July 24, 2008

Wiji tuwuh


Melintasi Kawat Berduri

tak mudah memang, menggapai apa yang diingini
harus bersabar
pun terkadang harus merangkak dan merayap
belum lagi rintangan yang mesti dihadapi.

tetapi bukankah buah semangka yang memerah,
dihasilkan oleh batang yang tumbuh merambat..

Monday, March 17, 2008

karang dan istana lumpur




- Sebentuk Karang Untukmu -

Di pantai berpasir putih itu,
Kutemukan dua bentuk karang mungil indah berwarna putih.
Satu untukku dan satu untukmu.
Ku berharap, meski kecil itu kan menjadi bagian dari hidupmu, hidupku, dan hidup kita.
Hingga waktu berkata lain..


- Sebentuk Karang Untukku -

Seperti karang yang membatu,
Hati tak kan mengalir ketika membeku.
Biarlah karang mungilku kuletakkan di dasar danau terdalam..
Mungkin jika beruntung, kerang akan menyelimutinya dengan keindahan hingga berubah menjadi mutiara berkilau, pada waktunya.
Kalaupun tidak beruntung, biarlah lumpur di dasar sana menjadi istananya.
“Tinggallah di sini, di negeri kaya mineral ini,” kata lumpur kepada karang kecilku.
_
pesisiran kidul, sebelum fajar

Thursday, February 07, 2008

menatap ke depan (tiada perlu berpaling ke belakang)

Selalu melangkah..
Selalu menjejakkan kaki sejauh asa membawa..
Kucoba arahkan pandang ke depan dan bukan ke belakang.
Tiada guna kupalingkan pandang ke belakang, karena di situ ada suatu kelam.
Sesekali tergoda hatiku tuk menghardik kelam yang membayang.. Namun segera kuhempas, toh tiada guna jika ku hardik.
Toh tiada yang kan berubah jika ku menghardik, karena kelam tlah ada di belakang.
Toh aku pun tak lagi menghirau terhadap kelam, karena kini kelam tiada arti sebutir debu pun buatku.
Karena pandangku tlah ku teguhkan tuk menatap ke depan, bukan kepada kelam yang tlah lalu dan tiada berarti.
Tiada berarti..

Setapak jalan di depan pun berkata, "laluilah aku, didepan ada asa mu".

Banyak yang hilang di generasi 'setelah babe gue'

Seorang teman dalam blog nya menyampaikan kegundah-gulanaan hatinya tatkala melihat generasi 'kini' yang mulai kehilangan nilai lokal.
Aku pun ketika itu kemudian turut menyampaikan uneg-uneg ku yang kutuliskan mengomentari tulisan temen ku itu:

Pancen..
banyak yang hilang..
Entah mengapa, apakah kita terlena dengan modernitas, globalisasi, dan teknologi..?
Ataukah kita memang sempat bosan dengan kelokalan kita..?
Bak pepatah mengatakan, 'Apa yang tak kita miliki, itulah yang kita ridu. Sedang apa yang ada di genggaman tangan seolah tiada lagi berharga..'
Ketika kemudian kita mulai bosan dengan hingar-bingar modernitas, teknologi, dan 'barat'..
Kita tersentak kaget, apa yang kita miliki diklaim orang lain..
Tentu rasa pilu dan perih ada di dada..apa yang ada di genggaman kita hendak diambil orang!!
Tapi.., kenapa bisa diambil orang?
Mungkinkah kita sempat lupa dengan apa yang ada di genggaman kita? Mungkinkah kita pernah bosan terhadapnya, dan tanpa sadar menghempaskannya? ...
<<< >>>
Ya..
Aku pun turut prihatin ketika banyak nilai-nilai lokal dan budaya lokal di sekitar, yang mulai banyak ditinggalkan oleh generasi-generasi 'setelah babe gue'.. Ya, banyak sekali anak-anak sekarang yang tak mengenal lagi nilai lokal yang telah turun temurun dari generasi 'neneknya buyut gue.. dan seterusnya ke atas'.
Anak-anak sekarang memang banyak yang telah melunturkan nilai lokal dari dirinya..
Anak-anak sekarang?
Termasuk generasiku dong?!! Ya memang.. dan mungkin juga aku di dalamnya, telah melebur pada apa yang dinamakan globalisasi, hingga nilai-nilai lokal mulai tergeser dari jiwa dan hatiku..
Padahal, betapa dan begitu berharganya kelokalan kita. Betapa indah, mulia, dan bahkan bisa juga bersifat universal, 'local wishdom' yang kita miliki di dalam budaya dan nilai-nilai lokal kita.
Maka akankah kita hanya berdiam diri saja membiarkan 'yang berharga itu' luntur dari diri kita, dari hidup kita, dari keseharian kita? .. Sumonggo dipun jawab piyambak-piyambak..!!
--
Aku terkesan dengan tulisan temenku. Maka ku hadirkan pula tulisan temenku itu di sini, dari dua orang teman berjuluk jangkrik ngerik dan juga ilalang berbisik:

PADHANG MBULAN EUEY

wengi iki padhang mbulan.....!
takbayangake...krisdayanti rengeng_rengeng geguritan,
ing sandinge "the rock" jingkrak jingkrak nunggang jaran kepang..
lamunane wong edan???

ing ati iki ono roso kuciwo..
jare ngaku wong jowo
,nanging do ora iso honocoroko..(padahal aku yo ora iso..he..)
sopo kang gelem nguri_uri mogobothongo?
mosok arep di_ekspor ing negoro liyo???
tempe wae(panganan ket jaman majapait) jare wis di hakpatenke jepang?
tembang rasa sayange,kok yo iso diaku tembang malasia?
lha piye maneh???
bocah kang lagi thingis....diajari "good morning"
didolani tamiya,ps,komputer...
dipakani hotdog,pizza.....
metu soko ngomah,wedi keno bledug...
sesuk sopo yo?
kang muni sugeng enjang...
dolanan gobag sodor..
ngopeni thiwul growol.....
santai wae ding,isih ono wong tuwo tuwo..
lha yen kabeh kang iso do tilar donyo???
we lah,padhang mbulan tho saiki??
ah,isih kalah padhang karo neon,
mending ing njero ngomah,iso nonton,,,, po kelon ??? (www.jangkrikngerik.blogspot.com)

Menyimak puisi diatas, kita seperti tersadarkan betapa anak-anak dan generasi muda kita telah begitu jauh melupakan budaya asli daerahnya. Saya jadi teringat masa kanak-kanak dulu sekitar tahun 80an sewaktu bulan purnama tiba. Sehabis Isya hingga menjelang larut malam, anak-anak bermain di halaman di bawah terang sinar rembulan. Ada yang bermain gobag sodor, petak umpet, jethungan, nom tuwa dan sebagainya. Sedang anak perempuan bermain tali atupun dakon. Terasa sekali suasana keceriaan dan keriangan yang khas kekentalan lokalnya. Rasa suka cita terbawa sampai ke alam mimpi kemudian.

Kini suasana seperti itu sudah jarang kita temukan lagi, berganti permainan canggih produk barat dan budaya luar lainnya. Anak-anak lebih senang bermain playstation atau nge-game di warnet. Budaya televisi pun merampas budaya bermain anak-anak. Mereka lebih senang nongkrong di depan televisi nonton sinetron atau gosip infotainment daripada mengembangkan kreativitasnya di luar. Jadilah anak-anak ini generasi yang malas tak mau bekerja keras. Mereka selalu mendapatkan sesuatu dengan mudah tanpa melalui bayak perjuangan. (www.ilalang-berbisik.blogspot.com)