... Di seluruh pantai
Siapa berani menurunkan engkau
Serentak rakyatmu membela
Sang merah putih yang perwira
Berkibarlah slama-lamanya..
Foto: Pantai Ngrenehan Gunung Kidul (Mei 2008)
-pasir merapi berkah di balik erupsi-
Dibalik aktifnya Gunung Merapi yang terkadang dianggap oleh sebagaian orang sebagai bencana, ternyata juga memberikan sumber penghidupan bagi banyak orang. Setiap erupsi yang menghasilkan material batuan dan pasir, ternyata membawa berkah tersendiri. Tidak sedikit warga Sleman yang merasakan aliran sumber penghidupan dari erupsi tersebut. Dengan menjadi penambang pasir di sungai-sungai alur aliran material Gunung Merapi, mereka mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai pendidikan anak-anak mereka. Bahkan, tidak hanya warga Sleman yang mendapat berkah dari menambang pasir. Penambang-penambang dari luar wilayah pun banyak yang mengais rejeki di kawasan penambangan pasir Merapi, seperti dari Klaten, Magelang, dan Purworejo.
Kawasan penambangan pasir Merapi –di alur sungai Gendol- yang paling banyak terdapat penambangnya terletak di Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. Dalam menambang pasir, para penambang berkelompok 2 hingga 7 orang. Seperti Selam (40 tahun) misalnya, warga Kopeng, Kepuharjo yang telah menambang pasir sejak 1980-an, biasa menambang bersama enam orang dalam kelompoknya. Dalam sehari ia mampu mengumpulakan
Berbeda dengan Selam, Parjo (60 tahun) warga Tegal Lurung, Kemalang, Klaten, menjadikan usaha menambang pasir ini sebagai satu-satunya sumber penghasilan. Sejak setahun lalu ia mulai menambang pasir di Kali Gendol Cangkringan. Sebelumnya ia menggantungkan kebutuhan keluarga dari nderes kelapa (mengambil nira kelapa) dijadikan gula jawa. Parjo lebih memilih menjadi penambang pasir karena penghasilan lebih besar dan tidak ribet. “Kalau nderes itu repot, pagi dan sore harus ambil legen (nira),” ungkap lelaki yang mendapat penghasilan 30 hingga 50 ribu rupiah per hari dari menambang pasir tersebut.
Mengenai resiko terkena longsoran pasir atau batu yang dihadapi penambang, Parjo mengaku jarang terjadi. Yang dikhawatirkan penambang adalah datangnya banjir. “Kalau hujan tidak ada yang berani menambang di sungai ini. Terutama yang ada di ujung atas karena takut kalau tiba-tiba terjadi banjir dari atas,” katanya.
Hal senada dikemukakan rekan sekelompok Parjo, Mitro (55 tahun). Menurut Mitro, yang terpenting untuk meminimalisir resiko terjadinya kecelakaan adalah dengan berhati-hati. “Jarang ada yang kelongsoran sampai meninggal. Kalau saya paling hanya lecet atau luka di kuku,” ungkap warga Kepuharjo, Cangkringan yang menambang pasir sejak 2 tahun lalu tersebut. Setiap hari Marto menambang dari pukul 7 pagi hingga pukul 3 sore, dengan rata-rata penghasilan bersih sebesar 30 ribu rupiah.
-kontribusi bagi perekonomian masyarakat-
Pasir dari erupsi Merapi di Kali Gendol, khususnya di kawasan penambangan Desa Kepuharjo, ternyata mampu memberikan kontribusi bagi perekonomian masyarakat sekitar. Penghasilan dari menambang pasir lebih besar jika dibanding dengan penghasilan dari beternak sapi dan bertani. “Lebih untung dari penambangan. Hanya saja kalau usaha sapi
Oleh karena itu, pemerintah desa juga melakukan upaya penataan kawasan penambangan, yang dimaksudkan agar pasir dari erupsi lebih awet. “Kalau banyak ditambang oleh penambang dari luar
Realitas di lapangan untuk penambangan rakyat, menurut Kepala Bidang Pertambangan dan Energi, Dinas Pengairan Pertambangan dan Penanggulangan Bencana Alam (P3PA) Kabupaten Sleman, Purwanto, lebih bayak penambang yang belum berijin dibanding yang telah memegang ijin. Hal itu jika tidak dikendalikan akan berpotensi juga menimbulkan kerusakan lingkungan. Atas kondisi itu Dinas P3PA Kabupaten Sleman melakukan pengendalian berupa pembinaan dan penjelasan bagi para penambang, dan kemudian dilakukan pengaturan dengan ijin penambangan.
Langkah yang lebih nyata dilakukan dengan mendorong para penambang yang belum berijin, untuk membentuk kelompok-kelompok dan mengajukan permohonan ijin penambangan.
-jaman kolobendu-
Pasir di jaman ini bisa dimakan...?!!
Tapi masih untung, karena mungkin baru pasir yang bisa dimakan manusia.
Jika meminjam istilah pewayangan, kelak akan ada jaman yang bisa dibilang jauh lebih fenomenal lagi, yaitu jaman kolobendu. Yaitu jaman edan, jaman ketika antara pemimpin dengan pencuri tidak bisa lagi dibedakan. Lebih ngerinya lagi, jaman kolobendu adalah jaman ketika manusia memakan manusia. Tentu saja (juga) bukan karena daging manusia lebih gurih dari daging sapi, tapi karena timbulnya keserakahan. Keserakahan akan harta, akan jabatan, dan akan kekuasaan. Kalau boleh meminjam istilah dari negeri sebrang, manusia menjadi homo homini lupus (manusia merupakan srigala bagi sesamaya). Ngeri kalau jaman seperti itu datang. Atau.. jangan-jangan jaman itu sudah datang??
Yah, ngeri memang kalau jaman seperti itu datang.. (walaupun bagi saya nama kolobendu tidak begitu mengerikan, bahkan cenderung lucu bila dilafalkan).
Seorang teman malah bilang “kolobendu” seperti nama makanan. Waduhh jaman apa lagi ini, bila ada manusia memakan kolobendu..?!!

-pernah diposting sebagai komentar di www.negeriajaib.blogspot.com-
Kalau ngomong tentang sampah, aku jadi teringat seorang bapak setengah baya yang setiap harinya, pagi-pagi sekali sudah berkeliling di kompleks perumahan dengan memanggul karung di punggungnya. Tak lelah, setiap ada tong sampah ia berhenti dan mengais di dalamnya, berharap ada plastik-plastik ataupun sampah lain yang laku dijual. Perjuangan yang tiada kenal lelah kupikir.. bergelut dengan sesuatu yang banyak orang menjauhinya karena bau, kotor, jijik, dan sebagainya. Meski banyak yang tak ingin dekat-dekat dengan sampah, nyatanya sampah selalu saja ada seiring dengan aktivitas manusia.
Sampah memang seolah tak dapat terlepas dari kehidupan manusia. Tanpa disadari pun, sering kali dalam aktivitasnya manusia menghasilkan sampah, walaupun dalam kuantitas yang kecil. Belum lagi sampah-sampah yang dihasilkan oleh industri, dan juga sampah rumah tangga, jika dihitung secara komulatif tentu tidak sedikit jumlahnya.
-kampung Sukunan, pionir pengelola sampah mandiri-
Tentu saja, jika tidak dikelola dengan baik sampah akan menimbulkan berbagai permasalahan. Baik permasalahan lingkungan hingga kesehatan. Namun ternyata, tidak selamanya sampah menimbulkan masalah yang buruk. Bila dikelola dengan baik, sampah masih dapat memberikan berbagai manfaat bagi manusia. Seperti di Kampung Sukunan, Banyuraden, Gamping, Sleman misalnya. Kampung ini merupakan perintis dan pioner di
Ide awal pengelolaan sampah secara mandiri dan produktif ini muncul dari salah seorang warganya bernama Iswanto, yang mempunyai kepedulian terhadap permasalahan sampah dan lingkungan.
Gagasan tersebut muncul karena bagi Iswanto sampah betul-betul menjadi masalah. Sebelumnya ia tinggal di Gondomanan
Dari situlah Iswanto merasa terpanggil, bagaimana mengelola sampah dengan warga tanpa harus mengeluarkan biaya. Ia juga merasa prihatin dengan cara mengelola sampah yang sudah tidak cocok lagi dengan cara-cara konvensional seperti dibakar, dikubur, tetapi masih banyak dilakukan masayarakat. Pengelolaan sampah dengan cara-cara tersebut tetap saja menimbulkan pencemaran dalam bentuk lain.
Atas kondisi tersebut pada tahun 2003, Iswanto merintis pembentukan tim pengelola sampah kampung. “Waktu itu kita merintis sebuah sistem pengelolaan sampah yang mandiri, tidak tergantung dengan pemerintah. Masyarakat bisa mengelola sampahnya sendiri, bahkan juga menjadi produktif. Jadi dari pengelolaan sampah itu justru menghasilkan pendapatan-pendapatan bagi kampung ataupun masyarakat,” paparnya.
Dalam perkembangannya, kegiatan itu memunculkan berbagai unit usaha. Yaitu unit usaha kompos, dan unit usaha kerajinan daur ulang yang ada aspek kewirausahaannya. Kemudian ada unit untuk pemuda, yaitu bengkel rekayasa alat-alat pengelolaan sampah. Unit tersebut akhirnya bisa menyerap beberapa tenaga kerja dari kalangan pemuda, dan juga bisa menghasilkan income tambahan. Kemudian ada juga unit diklat, yang fungsi utamanya menyelenggarakan pelatihan dan pendidikan bagi amsyarakat baik masyarakat Sukunan sendiri maupun masyarakat di luar kampung Sukunan, tentang pengelolaan sampah secara mandiri. Kemudian unit terakhir adalah unit jual beli sampah. Di rumah tangga sampah telah dipilah-pilah menjadi kertas, plastik, dan logam-kaca, kemudian dibawa ke unit jual beli sampah. Jika telah banyak, sampah yang telah dipilah tersebut dijual ke pengepul, dan hasil penjualannya masuk ke kas kampung.
Setelah berjalan dan berkembang dengan beberapa unit usaha, tim dikembangkan atau diubah menjadi paguyuban dengan nama Paguyuban Sukunan Bersemi. Lingkup dari paguyuban tersebut mencakup satu kampung. Namun untuk kegiatan diklat dan pelatihan telah berkembang ke luar Sukunan. Bahkan ada beberapa kampung yang sudah mereplikasi. Di Kabupaten Sleman, kurang lebih 16 kampung telah melaksanakannya, diantaranya Mulungan (kecamatan Mlati), Ngemplak (kec Sleman), Minomartani (kec Ngaglik), dan Sidokarto (kec Godean).
Mengenai alur pengelolaan sampah dalam sistem pengelolaan sampah secara mandiri dan produktif yang dilaksanakan oleh Paguyuban Sukunan Bersemi, sebenarnya sangat simpel. Prinsipnya, jelas Iswanto, setiap rumah tangga memilahkan sampah non organik menjadi tiga yaitu kertas, plastik, dan logam-kaca. Kemudian dikumpulkan di drum sampah yang juga masing-masing terpisah. Dari drum itu akan diangkut oleh petugas seminggu sekali dibawa ke gudang sampah untuk ditampung. Setelah sekitar 1,5 hingga 2 bulan gudang penuh, selanjutnya dijual kepada pengepul.
Sementara untuk sampah-sampah yang tidak laku dijual seperti bungkus/sachet minuman yang mengandung aluminium foil dimanfaatkan di unit kerajinan. Unit kerajinan ini terdiri dari kelompok ibu-ibu. Hasil penjualan 5 % masuk ke kas kelompok, 25% untuk memebeli bahan-bahan dari masyarakat, 70% untuk ibu-ibu yang membuat. Pangsa pasarnya kepada para pengunjung yang datang untuk belajar pengelolaan sampah di Sukunan. Selain itu juga kalau ada seminar ataupun workshop tentang lingkungan, biasanya panitia order kepada unit kerajinan di Sukunan, seperti untuk map dan tas. Bahkan, menurut Iswanto, orderan tidak hanya dari dalam negeri saja tapi ada juga dari luar negeri. “Kita pernah mendapat order dari
Khusus untuk sampah stereofoam dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. “Kita giling, dibuat menjadi berbagai macam produk yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Dibuat dengan campuran semen dan pasir, menjadi seperti batako, bata, dan pot bunga,” Iswanto menambahkan.
Meski selama ini pemasaran barang-barang kerajinan hasil dari unit kerajinan masih pasif (kepada pengunjung dan menerima order), namun penghasilannya telah mampu menunjang operasional. Bahkan, unit kerajinan menjadi unit yang paling banyak menyumbangkan pendapatan ke kampung. “Yang pertama mandiri adalah kegiatan kerajinan ini. Karena 70% saja sudah masuk ke pengrajin sehingga biaya pengadaan material sudah tertutup. Bahkan yang paling banyak menyumbang ke kampung (PKK) dari unit usaha ini. Omzetnya untuk ukuran kampung sudah lumayan. Juga bisa menambah pendapatan ibu-ibu anggota kelompok perajin,” ungkap dosen yang juga Sekretaris Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Yogyakarta tersebut.
Pendapatan dari unit usaha kerajinan, secara hitungan kotor sudah lebih dari Rp 50 juta (dihitung sejak 2005, berjalan sekitar 2 tahun ini). Dengan rata-rata penjualan per bulan sekitar Rp 3 juta. Sedangkan untuk penjualan kompos sekitar Rp 600 – 800 ribu per bulan.
Sementara kapasitas sampah yang dihasilkan dan dikelola secara mandiri oleh 300 keluarga di kampung Sukunan dalam sebulan rata-rata sebanyak 12 meter kubik, yang berupa logam dan kaca. “Dalam sekali penjualan Rp 300-500 ribu, dikurangi untuk membayar petugas pengangkut dan pengumpul Rp 150 ribu. Pendapatan tidak terlalu besar, tapi yang terpenting masyarakat tidak perlu membayar pengelolaan sampah ini,” kata Iswanto. Untuk kompos per bulan dihasilkan sebanyak sekitar 1 ton, sementara sampah residu (sampah yang tidak dapat dimanfaatkan lagi dan tidak laku dijual seperti pembalut, bekas pampers) sekitar 5% dari keseluruhan, atau sekitar 0,6 meter kubik.
Keberhasilan kampung Sukunan mengelola sampah secara mandiri dan produktif seperti sekarang, tidak serta-merta bisa berjalan dengan lancar. Perlu perjuangan ulet dari para perintisnya. Pada waktu awal menyampaikan gagasan kepada tokoh-tokoh masyaraka beberapa tahun lalu, tak luput juga dari tanggapan pesimistis dari sebagian diantaranya.
Bahkan, setelah berjalan di tahun kelima saat ini, ternyata belum 100% warga masyarakat menerimanya (meskipun sebagian besar warga telah melaksanakanny). “Itu menandakan bahwa untuk mengubah perilaku, membentuk kebisan, perlu komitmen bersama. Perlu monitoring, dan motivasi. Masih perlu perjalanan panjang, lebih-lebih peraturan seperti itu dari pemerintah belum ada. Karena ini merupakan suatu sistem yang diciptakan sendiri oleh masyarakat, dengan aturan-aturan yang tidak sampai melibatkan sanksi-sanksi,” katanya memaparkan.
Lebih jauh Iswanto menyebut, masih ada sekitar 15% masyarakat yang belum mau melaksanakan program tersebut.
Hwahhh….cape.. setelah ganti angkot, ojek, andong, trus jalan kaki baru ketemu. Ternyata ibu-ibu di kampung Sukunan turut berjuang menjaga bumi dan menyelamatkan lingkungan. Antara lain dengan mendaur ulang sampah, membuatnya menjadi kerajinan.. (hehe maksa)
Ku awali post ku dengan kalimat,
-Once upon a time, in a land far far away.. sak wijining dina ing sakwijining papan.. atau pada suatu ketika di negeri antah berantah..- (Halah, koyok dongeng aja..)
Pada suatu ketika, hiduplah seekor angsa yang tidak berbeda dengan kebanyakan angsa pada umumnya. Suatu pagi, ia keluar dari peraduannya dan berjalan menuju sebuah telaga tak jauh dari sarangnya. Dedaunan masih basah oleh beningnya embun. Angin semilir pun masih terasa dingin, membuat bulu-bulu angsa sedikit terangkat. Beberapa langkah berjalan, ia berpapasan dengan seekor burung nuri yang terbang rendah pagi itu.
“Hai angsa, hendak ke telaga ya.. Eh angsa, kok warna bulumu hanya putih?” kata burung itu.
“Iya. Buluku hanaya berwarna putih, dan aku menerimanya,” kata angsa singkat sembari berjalan.
Tak lama kemudian kembali ia berpapasan dengan seekor burung gagak yang tengah bertengger di sebuah ranting pohon. Butir embun jatuh ke tanah dari beberapa helai daun saat gagak hinggap.
“Hai angsa, kenapa paruhmu pipih seperti itu?” tanya gagak yang kemudian terbang menjauh dengan ber-kaok. Suaranya makin lama semakin sayup dan menghilang.
“Iya. Paruhku pipih, dan aku menerimanya,” jawab angsa.
Angsa pun melanjutkan langkah, dan air telaga jernih membiru mulai terlihat olehnya. Kali ini ia berpapasan dengan seekor puyuh yang sedang mencari makan di sela-sela rerumputan dan belukar.
“Hai angsa, kenapa lehermu panjang sekali?” tanya si puyuh.
“Iya. Leherku panjang, dan aku menerimanya,” kata angsa kembali memberi jawaban singkat.
Sampailah ia di tepi telaga. Dengan bergegas, angsa mendekati air yang memang masih dingin sepagi itu. Diulurkannya salah satu kaki ke air, namun beberapa saat sebelum menyentuh dinginnya air telaga, kembali terdengar sebuah pertanyaan untuknya.
“Hai angsa, kenapa kakimu berselaput?” kali ini suara berasal dari seekor elang yang baru saja menyambar ikan buruannya di telaga. Ikan
“Iya. Kakiku berselaput, dan aku menerimanya,” jawab angsa singkat.
Angsa pun berenang di jernihnya air telaga.
“Bisa saja aku men-cat buluku dengan warna-warni indah ataupun warna emas.
Bisa saja aku mengganti paruhku dengan paruh tajam dan kuat, seperti paruh gagak.
Bisa saja aku memotong leherku agar tak sepanjang ini.
Bisa saja aku mengganti kakiku yang berselaput dengan cakar yang kuat, sekuat cakar elang. Hanya, jika aku tak menerima apa yang ada ini,” senandung angsa sambil berenang di jernihnya
air telaga. Entah telah berapa lama angsa berada di telaga, namun kini mentari telah mulai tinggi dan memancarkan sinar hangatnya.
“Mama lihat..!
“Oh itu bukan bebek, tapi angsa,” jawab si ibu setelah mengarahkan pandangan mengikuti telunjuk si kecil.
“Oh angsa.. Angsa yang cantik ya Ma..?!” rengeknya.
“Iya sayang, angsa yang cantik. Seperti putri mama ini,” jawab si ibu kepada putri kecilnya seraya menggandeng tangan mungilnya.
The end
Tiga keponakanku telah terlelap, aku pun ikut terlelap.
-pesisiran kidul, suatu ketika-

“INI
Di tempat lain obrolan pun meluas ke masalah tercemarnya produk susu formula oleh bakteri Enterobacter Sakazakii -yang belakangan ramai menjadi sorotan media– setelah salah seorang memesan minuman kopi susu hangat. Tak hanya itu, obrolan pun meluas pula ke masalah politik dan ekonomi. Bagaimana pemerintah saat ini dirasa tidak bisa mengelola subsidi dengan baik. Berbeda dengan masa-masa lalu, dimana harga-harga tidak terlalu mahal. “Subsidi sekarang ini
Banyak memang obrolan yang terjadi di angkringan, mulai dari masalah keseharian hingga masalah kondisi politik ekonomi negara. Mulai dari omong kosong hingga yang serius. Angkringan ternyata mampu pula menjadikan suasana
Memang tidak diketahui secara pasti berapa banyak angkringan yang ada di
Menurut Pengamat Ekonomi UGM, Prof. Dr. Mudrajat Kuncoro, M. Soc, denyut nadi ekonomi Yogya sangat ditentukan pula oleh keberadaan mereka. Sektor ini telah menyerap tenaga kerja yang besar. Menyelamatkan ekonomi
Bila dilihat lebih jauh, angkringan telah berperan sebagai muara pengembangan ekonomi
Mengenai keberadaan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 26 tahun 2002 yang mengatur tentang Penataan Pedagang Kaki Lima di Kota Yogyakarta, kata Mudrajat, hal yang terpenting adalah bagaimana Perda tersebut bisa dilaksanakan optimal. “Kalau kita bicara zoning itu sudah jelas. Jalan mana yang tertutup untuk mereka. Dan mana yang boleh. Yang boleh pun juga harus ditata supaya tidak liar. Selain itu, bagaimana agar slogan Jogja berhati nyaman betul-betul bisa terwujud,” kata Mudrajat.
Angkringan memang telah menjadi tumpuan hidup banyak orang. Tak hanya di
menyemangatiku untuk menjalani esok. Halah jadi ngelantur..
-cerita dari lek-lek bakul angkringan-
Tapi pastinya, angkringan memang telah menjadi tumpuan hidup banyak orang. Seperti Lek Maryono misalnya, bakul (penjual) angkringan di depan benteng Vredeburg kawasan Malioboro Yogya. Dengan menjadi bakul angkringan, ia bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan membiayai sekolah anaknya. “Bisa mencukupi biaya hidup,
dan sekolah anak-anak,” ungkap ayah empat orang anak tersebut dengan grapyaknya. Bahkan Maryono patut berbangga, karena dengan usahanya ia mampu membiayai anak sulungnya kuliah di Fakultas Ekonomi UGM. Maryono mengaku sudah mantab untuk terus menekuni usaha angkringannya. “Manteb di angkringan. Sampai tua tetep angkringan, seperti apa pun kehidupan saya nanti, menjadi orang kaya pun, tidak saya lepas. Karena angkringan ini menjadi sejarah buat saya,” ungkap lelaki yang sudah lama bercita-cita bisa naik haji bersama istrinya tersebut.
Lain halnya dengan Pak Pujuk yang menjajakan angkringannya di Kampung Karangasem Baru Sleman, kampung yang merupakan kantung kos-kosan anak-anak UGM dan UNY. Pak Pujuk Menjadi bakul angkringan sejak tahun 1991. Setelah sempat berganti profesi sebagai kru bis Jogja –
Pak Pujuk menceritakan, waktu pertama berjualan tahun 1991, belum banyak angkringan di Jogja. Modal awalnya untuk membeli gerobag dan peralatan waktu itu hanya sekitar 300 ribu. Sementara untuk saat ini harga gerobag lengkap dengan peralatannya bisa mencapai 1,5 hingga 2 juta rupiah. Dalam semalam omzet penjualannya berkisar 300 - 350 ribu, dengan keuntungan antara 60 – 100 ribu. Pembeli paling banyak anak kos. “Yang jelas di sini asalkan perguruan tinggi tidak libur, selalu ramai,” ungkap ayah dua orang anak tersebut.
Lain lagi cerita dari Kang Raharjo yang biasa dipanggil Kang Kriwil karena rambutnya yang memang ngriwil-ngriwil. Kang Kriwil yang stand by ngangkring di Kawasan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, depan museum kereta ini mempunyai kebanggaan tersendiri. Angkringannya pernah diborong 300 ribu untuk acara perayaan ulang tahun ke-61 Sinuwun Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Pagelaran Keraton, April 2007 silam. “Di sini ramai kalau ada acara seperti grebeg, acara pentas musik di alun-alun, tahun baru, dan pas lebaran, atau malam 1 Suro. Tapi kalu bulan Suro-nya sepi, dan bulan puasa,” ungkap ayah seorang anak tersebut.

