Monday, December 06, 2010

Pantai Ayah


- suatu sore di Pantai Ayah aka Pantai Logending (Gombong, Kebumen, Jateng) -


Tuesday, October 05, 2010

Masjid Kedondong

Peninggalan Sunan Kalijaga

Di bulan Ramadan, setiap malam Masjid Kedondong selalu dipenuhi jamaah yang menunaikan shalat tarawih. Jamaan tidak hanya memenuhi bangunan utama tapi juga di serambi masjid, bahkan tidak jarang barisan shaf jamaah sampai di halaman.

Selain tingginya aktivitas masyarakat sekitar dalam beribadah, bangunan masjid yang ada di Dusun Kedondong (Semaken I), Desa Banjararum, Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo itu juga mempunyai keistimewaan tersendiri. Masjid kuna itu merupakan peninggalan dari Sunan Kalijaga.

Masjid berusia ratusan tahun itu didirikan oleh Panembahan Bodho atau Adipati Terung pada tahun 1477 (Abad 15) atas perintah dari Sunan Kalijaga. Ditengah perjalanan ke Demak dengan ditemani sahabatnya yang bernama Adipati Terung, Sunan Kalijaga beristirahat di Desa Kedondong. Setelah beristirahat, Sunan Kalijaga meminta Adipati Terung agar membangun masjid di tempat itu. Sedangkan ia sendiri malanjutkan perjalanan ke Demak dan melihat kembali masjid itu setelah selasai dibangun.

“Yang masih asli di masjid ini bedug, kentongan, empat tiang kayu, encis atau tongkat yang dipegang khotib saat shalat Jumat, sumur, dan mustaka yang berbentuk seperti mahkota,” kata takmir Masjid Sunan Kalijaga, Muh Sahlan.

Masjid itu telah beberapa kali dipugar dan dibangun sejak tahun 1936. Pemugaran terakhir dilakukan pada 1990 berupa renovasi serambi dan beteng yang mengelilingi masjid. Berdasarkan catatan yang dimiliki takmir, terakhir kali sebelum dipugar bentuk bangunan masjid itu semula hanya terdiri dari bangunan utama tanpa serambi.

Memiliki empat tiang kayu di tengah yang hingga kini masih dipertahankan. Sedangkan dindingnya semula model setengah tembok yang diatasnya disambung tiang kayu. Diantara tiang-tiang itu terbuka tanpa dinding.

“Tahun 1936 atapnya masih dari rumput ilalang. Antara masjid dan serambi memakai talang pohon jamebe. Atap diganti genting setelah dipugar tahun 1937,” ungkap Solihuddin Kosim, takmir yang lain.

Pada bulan Ramadan ini berbagai kegiatan ibadah warga di Masjid Kedondong atau Masjid Sunan Kalijaga semakin semarak. Mulai dari shalat tarawih, tadarus Al Quran hingga pengajian. Setiap Jumat sore diadakan buka bersama yang diikuti warga seluruh usia di dusun itu. “Shalat tarwih masjid dan serambi selalu penuh, sering juga sampai ke halaman,” ujarnya.

Pada malam tanggal 21 Ramadan, di masjid itu juga diselenggarakan kegiatan khusus. Usai shalat tarwih warga akan membawa nasi tumpeng dengan tenong (wadah dari bambu) lengkap dengan lauk-pauknya. Selanjutnya warga yang hadir makan bersama atau biasa disebut kembul bujana.

“Malam 21 Ramadan itu diselenggarakan tiga acara sekaligus. Malam selikuran atau Lailatul Qadar, Nuzulul Quran, dan khataman tadarusan Al Quran,” imbuh Solihuddin. -cahpesisiran utk suara merdeka 30/8-

Tuesday, June 22, 2010

Berbalut Motif Batik

Nuansa Tradisi Yogyakarta di Pohon

KETIKA melewati depan Gedung Agung kawasan Malioboro, Jalan Panembahan Senopati, maupun memasuki kompleks Balaikota maka akan terlihat nuansa tradisi pada pohon-pohon yang berbalut motif batik.

Mungkin sekilas tampak seperti pohon-pohon di Bali yang diberi kain poleng berpola hitam dan putih. Tapi tentu saja keduanya mempunyai latar belakang dan maksud yang berbeda.

"Ini untuk memperindah kota. Kalau dulu pohon-pohon hanya dicat dengan warna putih dan garis hitam melingkar, di semua kota sama seperti itu. Ini kami buat berbeda, sekaligus lebih memperkenalkan dan melestarikan batik," ungkap Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Yogyakarta, Suyana, medio Juni.

Terobosan pemeliharaan lingkungan sekaligus pelestarian tradisi khas Yogyakarta ini memang dilakukan oleh BLH Kota Yogyakarta. Pemasangan motif batik dilakukan di tiga titik yakni pada pohon-pohon di depan Gedung Agung, Jalan P Senopati, dan kompleks Balaikota. Setidaknya ada sekitar 200 pohon yang telah diberi sentuhan khas Yogyakarta itu. Motif batik yang dipasang pun merupakan motif-motif batik Jogja, seperti parang dan ceplok bolu rambat.

"Ini sebagai test case untuk melihat respons dan pendapat masyarakat. Kalau masyarakat memberi respons positif akan kami anggarkan lebih untuk itu, kemungkinan bisa kami ajukan di APBD Perubahan. Saat ini hanya dialokasikan dari anggaran untuk pemeliharaan perindang," tuturnya.

Suyana mengatakan, inspirasi pemasangan motif batik di pohon itu berasal dari para seniman yang telah melakukan hal serupa saat perhelatan biennale beberapa waktu lalu. Hanya saja, motif-motif yang dipasang itu menggunakan kain tipis sehingga tidak dapat bertahan lama.

"Yang sekarang bisa bertahan sekitar 1 tahun, dengan bahan berupa media print outdoor. Jadi ini tidak meniru seperti yang di Bali, ini inspirasinya dari teman-teman biennale," jelas Suyana.

Dalam pemasangannya, dilakukan dengan lem dan tidak dengan cara dipaku atau distaples agar tidak merusak pohon. Suyana menambahkan, motif-motif batik di kompleks Balaikota dipasang menjelang HUT Pemerintah Kota (Pemkot) pekan lalu, sedangkan yang di depan Gedung Agung dan Jalan Senopati dipasang sekitar dua bulan lalu.

"Kalau ada masyarakat yang tertarik untuk ikut memasang motif-motif batik boleh juga. Motifnya diatur bareng, karena dalam tradisi ada motif-motif tertentu yang tidak boleh digunakan sembarangan," imbuhnya.

Sementara itu, di Bali pemasangan kain berwarna hitam dan putih pada pohon dilakukan terkait kepercayaan masyarakat. Salah satu tour guide di Bali, Nyoman Agus Wiranata, menuturkan kain poleng hitam-putih dipasang secara kolektif oleh masyarakat desa adat pada pohon-pohon yang dianggap keramat.

"Tidak semua pohon dipasang kain yang melambangkan keseimbangan baik dan buruk itu. Hanya pohon yang dikeramatkan dan langka yang dipasang, karena di masyarakat Bali masih hidup kepercayaan animisme-dinamisme. Dari sisi lingkungan, juga berdampak pada pelestarian pohon. Karena pohon-pohon yang dipasang kain poleng tidak akan ditebang," unjarnya. -cahpesisiran-

Saturday, April 24, 2010

Tebing Sungai Bertumpuk Sampah

Disulap Jadi Kolam Lele



TEPI Kali Winongo yang sekitar tiga bulan lalu masih berupa tumpukan sampah dan tebing batu padas mampu disulap oleh warga RW 9 Badran, Bumijo, Jetis, Yogyakarta menjadi bersih. Bahkan bisa dimanfaatkan untuk membangun enam petak kolam lele yang dikelola kolektif.

"Dulu tidak terpikir akan jadi seperti ini, karena di sini dulunya gunungan sampah sampai dua meter," ungkap Yatno (38) salah satu warga yang mengelola kolam itu.

Tepian sungai sepanjang sekitar 100 meter itu terlihat bersih, bahkan terasa nyaman dengan pemandangan alam Kali Winongo yang alami. Udara pun terasa sejuk karena pepohonan tumbuh lebat di kanan kiri kali itu. Pembersihan sampah dan perataan lahan untuk kolam dilakukan bergotong royong oleh warga sejak Februari lalu. Lahan seluas 48 m persegi diantaranya dimanfaatkan untuk kolam ikan.

Di enam petak kolam yang masing-masing berukuran 2x4 m itu kini telah terisi ikan lele yang benihnya ditebar awal April lalu. Kolam dikelola bersama dalam kelompok Mina Jaya yang dijalankan oleh 18 warga. Di samping kolam itu dibuat sebuah cakruk (gubug) dari bambu yang biasa digunakan warga untuk berembug.

"Kalau Minggu biasanya cakruk digunakan untuk rembugan membicarakan permasalahan-permasalahan kolam. Juga untuk istirahat yang dapat giliran memberi pakan dan merawat kolam," kata lelaki yang juga sekretaris Rt 39 itu.

Yatno menuturkan, lele akan dipanen 2,5 - 3 bulan setelah benih ditebar. Hasilnya akan digunakan lagi untuk modal membeli benih, pakan, dan obat-obatan berikutnya. Keuntungan digunakan bersama oleh kelompok dan 2,5 persen disisihkan untuk Forum Komunikasi Winongo Asri (FKWA) untuk digulirkan di wilayah lainnya.

Pembersihan dan pemanfaatan tebing Kali Winongo itu mendapatkan bantuan dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY melalui FKWA. Dana tersebut sebesar Rp 23,156 juta yang dimanfaatkan untuk pembersihan, penyiapan lahan, pembuatan kolam, hingga pembelian bibit lele dan pakan serta obat-obatan. "Masing-masing petak diisi 1.000 benih. Perkiraannya nanti bisa panen 6 kwintal lele. Kalau harganya tergantung pasaran," kata Jumirin (50) yang juga ketua Rt 42.

Mengenai kesadaran warga terhadap kebersihan Kali Winongo, Jumirin, menuturkan sudah baik. Sampah rumah tangga dilakukan pengelolaan bersama dalam kelompok dasawisma. Sampah-sampah sekaligus dipilah antara yang organik dan anorganik.

"Sampah yang bernilai ekonomi dijual, yang organik dibuat kompos karena setiap Rt sudah mempunyai komposter. Sisanya tinggal 60 persen dibuang ke pembuangan sampah umum," kata Jumirin dibenarkan Tri Suprianto warga yang lain. Menurut Jumirin, warga juga berharap mendapatkan pendampingan dan pelatihan pengelolahan sampah menjadi barang-barang kerajinan. -cahpesisiran utk bernas jogja-

Wednesday, April 21, 2010

Lebih 30 Tahun di Eropa

Keris Pertama Setelah Kemerdekaan Kembali Ke Jogja


SALAH satu keris bernilai sejarah dihibahkan ke Museum Sonobudoyo Yogyakarta oleh pemiliknya Dietrich Drescher, seorang pecinta keris berkebangsaan Jerman, Sabtu (9/4). Keris berjenis luk 13 dengan dapur parungsari itu dibuat oleh Empu Yosopangarso atas pesanan Dietrich Drescher pada tahun 1973.

Meskipun keris tersebut belum termasuk benda cagar budaya karena usianya yang relatif muda, tapi benda pusaka itu memiliki nilai sejarah karena merupakan keris pertama yang dibuat di Republik Indonesia pasca revolusi fisik 1945. Keris itu juga menandai bangkitnya kembali pembuatan keris di Indonesia pasca kemerdekaan.

“Pada zaman pendudukan Jepang, pembuatan keris banyak mengalami kemunduran. Pada masa itu pembuatan keris semakin surut karena situasinya tidak memungkinkan,” kata Sekretaris Paheman Memetri Wesi Aji (Pametri Wiji), Suhardoto, disela mendampingi Dietrich menyerahkan keris ke Museum Sonobudoyo.

Dietrich sendiri berpendapat bahwa keris itu dilahirkan di Yogyakarta, sehingga selayaknya untuk kembali ke Yogyakarta dan menjadi bukti sejarah atas peranan Yogyakarta dalam melestarikan budaya, khususnya budaya tosan aji. Museum Sonobudoyo dia pandang sebagai tempat yang paling tepat untuk menyimpannya.

“Sekarang saya sudah tua, dan kesehatan saya mulai menurun, sehingga saya berfikir mengembalikan keris itu ke Indonesia. Saya berpikir tempat terbaik adalah tempat dilahirkannya yaitu Yogyakarta, jadi saya mengembalikannya ke sini,” kata Dietrich.

Saat ini Dietrich mengaku masih memiliki 5 keris yang dibuat atas pesanannya dari logam meteorit, nikel, pasir Cilacap, dan pasir Luwu. “Saya juga berencana untuk mengembalikannya ke Indonesia,” imbuhnya. Bagi Deitrich, keris merupakan senjata yang paling cantik di dunia. Yakni dari bentuknya, memiliki pamor, dan tujuan utama pembuatannya yang bukan sebagai senjata pembunuh tetapi sebagai pusaka.

Di Museum Sonobudoyo, keris itu diterima oleh Kepala Museum Drs Martono, didampingi Kasi Koleksi Konservasi dan Prevarasi Dra Winarsih. Setelah penandatanganan berita acara penghibahan, keris itu selanjutnya akan disimpan dan dirawat menjadi koleksi Museum Sonobudoyo. “Museum sangat apresiate dengan penghibahan keris ini, ini juga merupakan bentuk pelestarian benda bernilai sejarah,” kata Martono.

Winarsih menambahkan, saat ini museum memiliki 43.618 koleksi. Setiap tahun, ungkapnya, selalu ada masyarakat yang menghibahkan benda koleksi ke museum. Tahun lalu hibah yang diserahkan ke Museum Sonobudoyo sebanyak 5 keris, 1 tombak, dan 1 naskah. “Tahun ini kami menerima hibah 6 keris. Benda-benda itu kami lakukan perawatan sesuai dengan jenisnya,” tambahnya.

Dietrich Drescher, dalam Ensiklopedi Keris karya Bambang Harsrinuksmo (2004), disebut sebagai orang yang berjasa besar dalam menumbuhkan kembali kehidupan dan tradisi ke-empuan di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Sekaligus membangunkan budaya keris yang telah “tidur” sejak zaman pendudukan Jepang. Pada sekitar tahun 1975 ia membangkitkan semangat Ki Yosopangarso di Godean Yogyakarta untuk kembali menempa keris.

Pada awalnya Yosopangarso sempat bingung karena ayahnya, Supowinangun almarhum, tidak sempat mewariskan pengetahuan pembuatan keris kepada dia dan adik-adiknya. Namun Dietrich Drescher terus memberinya semangat. Akhirnya dengan dibantu adik-adiknya, Genyodiharjo, Wignyosukoyo, dan Jeno Harumbrojo, Ki Yosopangarso berhasil lagi membuat keris. Peristiwa itu menjadi tonggak baru dalam sejarah perkerisan di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, yang sejak zaman pendudukan Jepang tidak punya lagi pembuat keris.

Pada waktu itu, Dietrich Drescher adalah seorang kapten kapal bangsa Jerman yang tinggal di Freiburg, Jerman. Pada tahun 70-an kapal yang dinahkodainya mempunyai jalur pelayaran tetap ke Indonesia. Pekerjaan itu dijalaninya selama lebih enam tahun dan menyebabkan tumbuhnya cinta pada budaya Indonesia, terutama budaya keris. -cahpesisiran utk bernas jogja-

Sunday, December 20, 2009

Ditengah Kontroversi

Bertani Harus Tetap Jalan



Di tengah kontroversi rencana penambangan pasir besi yang tidak juga berujung, para petani di lahan pantai Kulonprogo Yogyakarta tetap menjalankan kegiatan pertaniannya. Seperti terlihat di lahan pantai wilayah Desa Bugel Minggu (25/10) pagi kemarin, puluhan petani bergotong-royong memanen semangka milik salah satu petani setempat.

Pagi itu Pardiman (50) yang mengelola lahan itu bersama keponakannya, Nriman, merasa senang karena tanaman semangka yang dia rawat selama 50 hari akhirnya tiba masa panen. Dari lahan seluas 20 x 60 meter itu Pardiman memanen 5 ton semangka yang dibeli tengkulak Rp 600 per kg. Dia pun mengaku mendapat untung besar, karena keseluruhan modal yang dikeluarkan hanya sekitar Rp 700 ribu.


“Ya bertani harus jalan terus, karena ini menjadi mata pencaharian kami yang utama,” kata Pardiman disela panen, Minggu pagi akhir Oktober lalu.

Berbagai jenis tanaman bisa dibudidayakan di lahan tersebut. Mulai dari buah-buahan seperti semangka dan melon, palawija, hingga sayur-sayuran. “Yang paling menguntungkan kalau ditanami cabai,” katanya. Dalam sekali masa tanam, kata Pardiman, cabai bisa dipanen hingga 30 kali. Keuntungan yang diraih tergantung naik turunnya harga. Kisaran harganya dari yang terendah Rp 2.500 hingga tertinggi sekitar Rp 22.000 per kg.

Pardiman mengaku, saat harga terendah Rp 2.500 pun dia tidak mengalami kerugian. “Waktu harga Rp 2.500 per kg, saya masih mendapat keuntungan 50% dari penjualan,” ungkapnya.
Dari hasil pertanian di lahan pantai, kata Pardiman, warga setempat bisa memenuhi kebutuhan hidup. Tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan sandang pangan, tapi juga untuk membiayai sekolah dan kuliah anak. “Hasil di sini tidak sekedar cukup. Kebutuhan apa-apa dipenuhi dari bertani di sini,” kata Pardiman.

Sebagian besar warga, lanjut Pardiman, memang bermata pencaharian utama sebagai petani di lahan pantai. Maka Pardiman pun mengaku susah jika mengingat rencana akan dilakukannya penambangan pasir besi di wilayah tersebut. “Kami harus kemana kalau daerah ini ditambang?” tanya Pardiman yang mengaku menolak rencana penambangan itu.
“Dulu lahan sini kering, setelah dicoba-coba ditanami warga tahun 1986 akhirnya bias hijau begini. Bahkan waktu itu dapat dukungan dari menteri lingkungan hidup untuk terus dikembangkan. Tapi kok sekarang tau-tau mau dibor (ditambang –red),” kata Slamet (46) petani yang lain menambahkan.

Hal yang sama diungkapkan oleh Murizal (28) warga Desa Bugel. Menurutnya, mayoritas warga pesisir hidupnya dari bertani di lahan pantai. “Seperti saya ini tidak punya ijazah SMP, mau kerja apa kalau tidak bertani di sini. Dulu saya waktu nikah tidak punya apa-apa. Dari menanam cabai saya bisa memenuhi kebutuhan juga membeli sepeda motor,” ungkap ayah seorang anak tersebut. Budi Wiyana, yang juga petani di Desa Garongan secara terpisah mengungkapkan, hasil dari menanam cabai tidaklah kecil. Setelah 3 bulan sejak masa tanam, kata Budi, cabai bisa dipanen setiap 5 hari sekali dengan hasil penjualan 3 juta setiap kali panen.

“Kalau banyak menanamnya, dan harga bagus Rp 25 ribu per kg,” ungkapnya. Selama ini dia mengeluarkan modal sekitar Rp 2 juta untuk sekali masa tanam. “Sekali panen sudah menutup modal,” katanya. Sekali masa tanam bisa panen hingga 4 bulan.


Terkait rencana penambangan pasir besi, Rizal mengaku tidak setuju. Menurutnya, jika lahan tersebut ditambang warga akan kehilangan pekerjaan. “Yang muda-muda mungkin bisa bekerja di pertambangan, tapi yang tua-tua mau kerja apa,” katanya. Rizal juga mengkhawatirkan terjadinya kerusakan lingkungan yang membahayakan akibat kegiatan penambangan. “Di sini dekat bibir pantai, kalau lingkungan rusak air laut bisa naik ke daratan,” tambahnya.

“Kehidupan orang sini dari pertanian, kalau ditambang mau kerja dimana, makan dari apa. Banyak yang tidak setuju dengan rencana penambangan. Harapannya tidak jadi ditambang,” pungkas Budi.
-cahpesisiran utk bernas jogja-

Tuesday, April 14, 2009

Oleh-oleh Dari Solo

Warung Angkringan Pak Kemin


Kukendarai motorku malam ini melintasi depan Monumen Pers Solo. Udara masih terasa sejuk karena sore tadi hujan mengguyur lumayan deras. Tak begitu banyak kendaraan yang lalu lalang di jalanan, sehingga bisa kuhela napas dalam-dalam tanpa khawatir banyak karbon akan masuk ke rongga paru-paruku. Lampu-lampu yang menyala temaram terlihat sedikit menyilaukan, tapi tidak membuat udara terasa panas seperti malam biasanya.

Kuhentikan laju motorku di sebelah barat Monumen Pers. Tak jauh, hanya beberapa puluh meter dari bangunan bersejarah dan legendaris itu. Kuparkirkan motorku tepat didepan sebuah warung angkringan yang berlantaikan trotoar. Sejenak aku belum beranjak dari jok sepeda motor yang selalu mengantarku kemana saja. Kulihat spanduk yang tertempel di tenda berbentuk seperti atap yang melingkupi warung angkringan. Di spanduk itu tertulis ”Warung Wedangan Tukiyo Kemin”. Memang inilah warung angkringan yang juga legendaris itu, tak kalah dengan bangunan di sebelahnya.

Dari cerita yang kudengar, dulu banyak tokoh sering datang kongkow-kongkow di warung angkringan ini. Seperti Setiawan Djodi, W.S. Rendra, juga tokoh-tokoh lain. Ku dudukkan pantatku di kursi kayu panjang, sembari kupesan teh hangat pada bapak pemilik angkringan.

Sesekali sempat kuperhatikan suasana warung angkringan itu. Sekelompok orang datang, beberapa diantaranya menanyakan menu apa yang ada. “Nasi sambel bandeng ada, oseng ada,” jawab lelaki setengah baya sembari sesekali membenahi arang yang membara memanggang dua ceret berbentuk khas. Lelaki yang telah menjadi penjual angkringan sejak tahun 70 an itu tak lain adalah Tukiyo Kemin, sang pemilik warung.

Setelah memesan, kelompok-kelompok itu pun duduk pada kursi kayu panjang. Di depan mereka terhidang aneka makanan khas angkringan. Nasi kucing, sate usus, sate kikil, tempe dan tahu goreng maupun bacem, pisang goreng, beberapa jajanan pasar, dan banyak lagi. Sebagian dari mereka duduk bersila diatas tikar sembari menikmati menu yang telah dipesan.

Setelah beberapa saat duduk menikmati teh hangat dan Pak Kemin terlihat tidak begitu sibuk, barulah aku bisa sedikit ngobrol dengan ”Sang empunya angkringan”. Pak Kemin pun mulai bercerita. Sebelum di tempat ini, dia membuka warung angkringannya di seberang Monument Pers. Tepatnya di lokasi rumah dinas wakil walikota Solo saat ini.

Ia memutuskan pindah ke lokasinya saat ini sejak tahun 2007. Karena lokasi yang lama akan dibangun rumah dinas bagi wakil walikota. “Tidak masalah pindah. Gimana lagi, tempat itu juga bukan punya saya,” kata Pak Tukiyo yang biasa dipanggil Pak Kemin. Kemin adalah nama ayahnya.

Ayah tiga anak ini menuturkan bahwa usaha warung angkringan yang ia geluti ini meneruskan usaha ayahnya. Semula, ayahnya membuka warung angkringan di Monumen Pers, kemudian sejak tahun 1972 pindah ke lokasi rumdin wawali sebelum mulai dibangun tahun 2007. “Sejak tahun 1966 saya sudah mulai membantu bapak,” ungkap Pak Tukiyo Kemin yang malam itu mengenakan polo shirt putih.

Di lokasi barunya saat ini, warung angkringan ini tak sepi pengunjung. Kalaupun agak berkurang, itu karena sekarang sudah banyak warung-warung angkringan sejenis. “Sekarang sudah banyak, tidak seperti dulu,” kata kelahiran Ngreco, Weru, Sukoharjo tahun 1957 itu.

Pelanggan-pelanggan lama yang dari luar kota pun masih ada yang datang. Seperti dari Jakarta, Kudus, dan Semarang. Aku pun penasaran, benarkah dulu tokoh-tokoh sering datang ke sini. Maka kutanyakan langsung pada Pak Kemin. “Saya sendiri awalnya tidak tahu. Tahu-tahu ada yang memberi tahu saya kalau orang yang datang itu tokoh atau pejabat,” jawabnya. Pak Kemin membuka warung angkringannya dari pukul enam sore hingga dua pagi.

Selain menu-menu yang sudah biasa, ternyata ada yang khas dari menu yang disajikan di warung angkringan Pak Kemin ini, yaitu apolo. Yang ia maksud adalah jadah (dari beras ketan) yang diberi coklat. “Dari dulu sampai sekarang ada. Sudah lima puluh tahun pun ndak karatan. Karena buat baru terus,” selorohnya bercanda.

Sebelum kembali sibuk menyiapkan menu yang dipesan serta meracik kopi dan teh hangat, Pak Kemin masih sempat sesekali bercerita. Dari menjalankan usahanya itu, ia mampu mencukupi kebutuhan keluarganya, bahkan membiayai pendidikan anaknya hingga ke bangku kuliah.

Dan tak terasa, segelas teh hangat yang ku pesan tadi disusul juga apolo sudah hampir punah kupindahkan ke perutku yang kini tak lagi keroncongan. Aku pun kembali menembus udara jalanan yang sudah mulai dingin, tentu setelah membayar dan pamit kepada ”tuan rumah Pak Kemin”. –cahpesisiran, utk Harian Rakyat Merdeka-