Friday, September 16, 2011

Lahan Pasir Gersang Disulap Menghijau

TIDAK begitu jauh dari debur ombak pantai selatan Kulonprogo, hamparan lahan pertanian membentang memanjang mengikuti garis pantai. Di lahan pasir berwarna kehitaman itu warga membudidayakan berbagai jenis tanaman. Hingga warna hijau pun terhampar kontras dengan lahan yang semula kering dan tidak produktif tersebut.

Pagi menjelang siang yang terik itu Tugiman (43) terlihat sedang mempersiapkan lahannya yang akan ditanami semangka dengan membuat sumur dan jaringan pipa untuk penyiraman. Tugiman merupakan satu dari ribuan petani di wilayah pesisir Kulonprogo yang memanfaatkan lahan pasir untuk bertani.

Semula, lahan pasir itu hanya berupa lahan kering dan gersang. Warga kemudian belajar memanfaatkan lahan tersebut dengan teknologi pengairan temuan mereka sendiri sejak sekitar tahun 1980-an. Upaya itu membuahkan hasil luar biasa, dari hamparan pasir gersang berubah menjadi lahan pertanian subur dan tumpuan pencaharian warga.

“Kami bisa menanam berbagai jenis tanaman di sini, seperti cabai, semangka, melon, juga buah dan sayur-sayuran lain,” ujar Tugiman, petani di Dusun Cicikan, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulonprogo itu di sela kesibukannya saat di ladang pasir.

Kepala Dusun Cicikan, Desa Bugel, Parji Mardi Utomo mengungkapkan, pertanian di lahan pesisir dengan sistem pengairan dirintis oleh warganya, Iman Rejo (73) bersama adiknya Pardiman (55), sekitar tahun 1980-an. Waktu itu belum ada warga yang memanfaatkan lahan pesisir untuk bercocok tanam. Kalau pun ada hanya beberapa yang ditanami ketela pohon, ketela rambat, dan kentang, dengan mengandalkan air hujan.

Agar bisa ditanami dengan baik, Iman Rejo membuat sumur di lahan pasir miliknya. Tentu saja tidak mudah membuat sumur di lahan pasir yang mudah longsor ketika digali. Kondisi itu disiasati Iman dengan memasang bronjong (anyaman bambu berbentuk silinder) yang dilapisi plastik untuk menjaga diding sumur agar tidak longsor. Di lahannya itu, Iman kemudian menanam cabai dan ternyata bisa panen dengan hasil yang bagus.

“Waktu itu petani lain sinis, banyak orang tidak percaya tanah gisik (pasir) kok ditanami cabai apa bisa. Ternyata Pak Iman membuktikan bisa, dan sekarang banyak petani yang menanam cabai di lahan pesisir,” ujar Mardi Utomo.

Dari waktu ke waktu, lanjutnya, Iman terus mengembangkan sistem pengairan untuk lahan pesisir yang kemudian juga diterapkan petani-petani lain. Mulai dari sistem sumur renteng hingga instalasi atau jaringan pipa yang ditanam untuk mempermudah dan mengefisienkan penyiraman. “Bertani di lahan pasir ini sekarang menjadi penopang utama perekonomian mayoritas petani pesisir,” imbuhnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Kulonprogo, Bambang Tri Budi Harsono mengungkapkan, luas lahan pasir yang ada di Kulonprogo mencapai 2.938 hektar terdistribusi di empat kecamatan yakni Kecamatan Temon, Wates, Panjatan, dan Galur. Komoditas yang dikembangkan mayoritas hortikultura seperti semangka, melon, dan cabai.

“Kontribusi hasi pertanian terutama hortikultur lahan pasir bagi Kulonprogo cukup besar. Contohnya untuk cabai, ada sekitar 900 hektar dengan produktivitas setiap hektarnya 12-15 ton per tahun. Juga ada komoditas lain seperti semangka dan melon yang hampir sama kontribusinya,” katanya.

Menurut Bambang, dari total lahan pesisir 2.938 hektar, baru 60-70 persen yang dibudidayakan secara intensif, sehingga masih ada lahan-lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Karena itu, pihaknya melakukan upaya pengembangan untuk mengoptimalkan agar lahan bisa 100 persen dimanfaatkan.

Berbagai program kegiatan dari pemerintah ditempuh untuk mendukung upaya tersebut. Program-program itu berupa fasilitasi infrastruktur, bantuan bibit, serta pendampingan teknis dan manajemen untuk penguatan dan pemberdayaan kelompok-kelompok tani.

"Seperti yang kemarin belum ada penanaman kami fasilitasi infrastruktur, jaringan irigasinya, sehingga ada peningkatan luas bertanamnya. Itu dilakukan secara bertahap. Air tanah sebenarnya tersedia, tinggal kita mengoptimalkan melalui sistem irigasi tanah dangkal, dengan sumur-sumur dan jaringan pipa,” imbuhnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dispertahut, M Aris Nugroho mengatakan, selain tanaman hortikultura, di sebagian lahan pesisir itu petani juga membudidayakan tanaman pangan berupa padi. Lahan yang biasa dimanfaatkan untuk pembudidayaan padi itu seluas sekitar 180 hektar di wilayah Desa Pleret dan Bugel, Kecamatan Panjatan.

“Pada awal musim penghujan sebagian kecil lahan ditanami padi oleh petani, sekitar 180 hektar. Jenis padi yang ditanam gogo, yang cocok untuk lahan kering,” ungkapnya.

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dja’far Siddieq mengatakan, pertanian di lahan pesisir perlu dipertahankan karena merupakan sesuatu yang langka di dunia. Bahkan, di negara-negara Asia yang memiliki wilayah pesisir, tidak banyak yang bisa mengembangkan lahan pantai untuk pertanian.

“Masyarakat berhasil mengembangkan pertanian di sini dari lahan yang kritis dengan menggunakan teknologi kearifan lokal. Beberapa waktu lalu, persatuan irigasi sedunia juga mengagumi teknologi pengairan di lahan pesisir ini,” katanya.

Terkait rencana penambangan pasir besi di wilayah pesisir Kulonprogo, menurutnya, bijih besi yang ada, selama ini menjadi pengikat partikel-partikel tanah. Bila bijih itu diambil, dirinya mengkhawatirkan partikel-partikel tanah menjadi berongga dan akan terjadi interusi air laut. Kondisi itu bisa mengakibatkan air tanah di lahan pertanian pantai tidak lagi netral atau tawar.

“Padahal lahan seperti ini di dunia jarang adanya. Seperti adanya air yang netral (tidak asin) meski berada dekat laut. Sehingga ketika airnya digunakan untuk menyiram, tanaman bisa tumbuh dengan baik,” kata Dja’far Siddieq yang juga ketua laboratorium pengelolaan tanah Fakultas Pertanian UGM.-cahpesisiran, utk suara merdeka-

Iman Rejo Merintis Pertanian di Lahan Pasir

HANYA beberapa puluh meter dari bibir pantai, seorang kakek tampak sedang menyiram berbagai tanaman yang ditanamnya di petak lahan pasir. Terlihat mudah, dia hanya memegang dan mengarahkan selang yang dari ujungnya menyembur air.

Lelaki bernama Iman Rejo (73) itulah yang merintis pertanian di lahan pesisir Kulonprogo dengan sistem pengairan. Ayah dua anak dan kakek dua cucu yang masih enerjik itu pulalah yang telah mengembangkan teknologi sistem pengairan, sehingga proses penyiraman tanaman di lahan pesisir menjadi efisien dan lebih mudah.

Meski dengan teknologi sederhana, sistem pengairan yang dia kembangkan telah diterapkan para petani lain hingga mampu mengubah lahan pesisir yang semula gersang menjadi subur. Iman Rejo mengaku mulai merekayasa lahan pasir agar bisa digunakan bercocok tanam sejak tahun 1982 dengan menanam cabai.

“Awalnya saya hanya membuang sampah bekas bumbu ke tanah pasir dekat rumah. Ternyata ada biji cabai yang tumbuh. Sehingga saya berkesimpulan cabai bisa ditanam di lahan pesisir asalkan ada air. Kemudian saya coba menanam dengan saya buat sumur di lahan pasir,” ungkap warga Dusun Cicikan, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulonprogo itu.

Menurutnya, memulai sesuatu yang berbeda dari kebiasaan masyarakat memang sulit. Saat itu, belum ada warga lainnya yang menanam cabai di lahan pasir karena dianggap sebagai perbuatan yang sia-sia. Namun dengan keyakinan yang teguh, Iman Rejo terus berupaya pantang menyerah. Usahanya pun tak sia-sia, apa yang banyak diragukan petani lainnya berhasil dia tepis.

“Dulu banyak dipaido (tidak dipercaya) waktu saya membuat sumur. Tapi dengan cita-cita tinggi akhirnya Tuhan mengabulkan, tanaman cabai saya bisa panen dengan baik.,” kenangnya.

Sekitar tahun 1990, Iman Rejo mengembangkan lagi dengan menanam semangka, melon, dan tumpang sari kacang tanah, kacang panjang, jagung, bawang merah, dan kedelai. Selain itu, dia juga menanam padi varietas IR 36, IR 64, dan ketan. Upayanya ini kembali berhasil meski pada awalnya juga sempat mendapat tanggapan sinis dari warga lainnya.

“Waktu itu masih dikucilkan lagi (mendapat tanggapan sinis, red), apa tanaman-tanaman itu bisa hidup. Ternyata bisa, bahkan hasinya diukur ubinan untuk padi IR 36 bisa mencapai 7,5 ton/hektar (ha), IR 64 bisa 6,5 ton/ha, dan ketan 5,5 ton/ha,” tuturnya.

Iman Rejo menuturkan, sistem pengairan yang dia kembangkan, pada mulanya hanya dengan membuat sumur memakai bronjong (anyaman bambu berbentuk silinder) agar dinding sumur tidak longsor. Untuk mengangkat air dan menyiramkan ke tanaman masih dilakukan secara manual dengan timba senggot dan gembor.

Kemudian untuk memudahkan penyiraman agar menghemat tenaga dan lebih efisien, tahun 1986 dia membuat bak-bak penampungan yang bagian bawahnya saling dihubungkan dengan pipa. Dengan begitu, air dari sumur yang diangkat dengan pompa air cukup diisikan ke bak terdekat dan bak-bak lainnya akan ikut terisi. Sehingga ketika menyiramkan air ke tanaman tinggal mengambil dari bak-bak terdekat. Sistem ini kemudian dikenal para petani dengan sebutan sumur renteng.

Sistem sumur renteng ini kembali dikembangkan agar lebih efisien. Jika semula untuk menyiramkan air ke tanaman dari bak-bak penampungan masih menggunakan gembor, maka disempurnakan tinggal menggunakan selang saja. Bak-bak yang saling dihubungkan itu dirombak dan tinggal dibuat jaringan pipa yang ditanam di bawah permukaan lahan pasir.

Pada jarak tertentu, pipa itu diberi saluran-saluran yang menyembul ke permukaan lahan. Saat penyiraman, air yang dinaikkan dari sumur dengan pompa air dimasukkan ke ujung pipa terdekat. Kemudian dari ujung-ujung lain yang menyembul, disambungkan selang untuk menyiramkan air ke tanaman. Sistem yang biasa disebut “instalasi” ini mulai diterapkan para petani sekitar tahun 2004 setelah banyak yang menggunakan pompa air dan menggunakan sumur bor.

Pengembangan sistem pengairan di lahan pasir tersebut tidak lepas dari kreativitas dan pemikiran Iman Rejo. Karena prestasinya itu, lelaki lulusan Sekolah Rakyat (SR) tahun 1953 itu mendapat beberapa penghargaan. Diantaranya penghargaan atas pengembangan teknologi tepat guna dan penghijauan pantai dari pemerintah pusat, serta penghargaan lingkungan hidup juara I dari Pemerintah Provinsi DIY. Bahkan, berkat keberhasilannya itu Iman Rejo juga pernah kedatangan tamu dosen dari Jepang untuk studi banding ke lahan pasir yang dia kembangkan.

“Petani harus kreatif. Apa yang diinginkan harus diupayakan agar melampaui dari yang tidak berhasil menjadi berhasil, bagaimana caranya,” katanya saat ditanya apa yang memotivasi dirinya hingga mampu mengembangkan teknologi tepat guna meski hanya melalui proses belajar otodidak.

Pemikiran kreatif Iman Rejo ternyata tidak berhenti sampai di situ. Sejak setahun lalu dia juga mengembangkan sistem penyiraman yang sekaligus pemupukan. Caranya, pupuk dilarutkan dalam air pada bak yang kemudian disambungkan ke jaringan pipa penyiraman melalui pompa air. “Ini untuk menghemat tenaga, sudah ada beberapa petani yang juga menerapkannya,” tandasnya.-cahpesisiran, utk suara merdeka-

Sunday, July 03, 2011

Elang Jawa Diselamatkan dari Perdagangan Gelap

ELANG sering kali menjadi simbol kekuatan dan ketangguhan. Namun ketika harus berhadapan dengan keserakahan manusia, burung gagah berani itu terkadang harus takluk tak berdaya.

Seperti yang saya lihat belum lama ini, salah satu elang jawa yang terampas kemerdekaannya dan harus terjerat dalam lingkaran pasar gelap.

Beruntung elang itu berhasil terselamatkan dan diserahkan ke Jogja Orangutan Center (JOC) di Kulonprogo oleh warga Bantul. Burung bernama ilmiah Nisaetus bartelsi itu kemudian dilakukan pemeriksaan fisik dan pengambilan sampel uji serologi untuk menentukan langkah konservasi yang akan dilakukan.

Elang jawa itu diserahkan ke JOC sepekan lalu oleh seorang pecinta satwa, Khusnun Irawan (22), warga Jalan Wonosari, Bintaran Wetan, Piyungan, Bantul. Mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta itu mengaku mendapatkan elang jawa tersebut dari perdagangan gelap di internet dengan harga sekitar Rp 1.500.000.

“Awalnya saya tidak tahu kalau itu satwa langka. Setelah saya cari informasi, populasi satwa itu tinggal sedikit bahkan kurang dari 400 ekor. Sehari kemudian, elang itu saya serahkan ke JOC karena mengetahui bahwa binatang itu langka, saya ingin ikut melestarikan saja,” katanya.

Khusnun menturkan, elang itu diantarkan ke rumahnya oleh pembeli setelah sepakat dengan harganya melalui penawaran di internet. Menurutnya, saat itu kondisi elang tersebut terlalu jinak dan ada beberapa helai bulu ekornya yang hilang.

“Saya iklas menyerahkan elang itu ke JOC untuk ikut melestarikan. Kalaupun saya pelihara juga berat di ongkos, jadi saya serahkan ke lembaga konservasi,” ujarnya.

Dokter hewan JOC, drh Dian Trisno Wikanti mengatakan, pemeriksaan medis awal tersebut diperlukan untuk menentukan langkah penanganan yang akan dilakukan apakah akan direhabilitasi untuk dilepasliarkan kembali atau dilakukan langkah lainnya. Pemeriksaan awal berupa pemeriksaan fisik meliputi kondisi badan, pernafasan, jenis kelamin, kondisi sayap, ekor, cakar, serta mata.

“Selain itu juga kami ambil sampel darahnya untuk sampel uji serologi, akan dicek di laboratorium apakah terinveksi virus AI (avian influenza atau flu burung) dan penyakit ND (tetelo) atau tidak,” katanya.

Menurut drh Dian, berdasarkan pemeriksaan fisik, elang jawa tersebut layak untuk dilakukan rehabilitasi agar kemudian bisa dilepasliarkan kembali. Elang berjenis kelamin jantan itu secara fisik kondisinya sedang dan tidak terlalu kurus serta nafsu makan dan pergerakannya bagus. Namun elang yang berusia sekitar dua tahun itu saat ini masih terlalu jinak dan bulu-bulu sayap serta ekornya agak rusak.

“Kalau uji serologi baru bisa diketahui hasilnya sekitar 1-2 minggu lagi. Jika ternyata terinveksi AI maka tidak bisa dilepasliarkan,” ujarnya.

Dian mengatakan, saat ini elang jawa tersebut masih dipelihara di kandang karantina. Jika nantinya secara fisik dan uji serologi lolos maka akan dipindahkan ke kandang konservasi. Elang itu akan dikondisikan agar perilakunya kembali normal dan siap dilepaskan kembali ke habitat alamiahnya. “Antara lain bisa dilepas di Merapi dan Merbabu,” imbuhnya.

Saat ini di JOC terdapat empat ekor elang dengan jenis berbeda yang sedang dilakukan konservasi, yakni elang hitam, elang ikan kepala kelabu, elang brontok, dan elang jawa.

Kepala Bagian Pengembangan Program JOC yang juga mantan direktur suaka elang Gunung Salak, Jawa Barat, Gunawan mengatakan, saat ini populasi elang jawa memang tinggal sedikit. Hal itu dikarenakan burung tersebut hanya bertelur sekali dalam dua tahun. Setiap kali bertelur hanya satu hingga dua butir dan rata-rata yang menetas hanya satu telur.

“Residu pestisida di alam juga menjadi penyebabkan penurunan populasi. Berdasarkan penelitian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), populasi elang jawa di alam tinggal sekitar 500 pasang. Habitat elang jawa yang diidentikkan dengan lambang negara, burung garuda, itu di pegunungan yang masih mempunyai 75 % hutan alami,” imbuhnya. -cahpesisiran, utk suara merdeka-

Wednesday, June 08, 2011

Teh Pegagan dari Kaki Menoreh


Tanaman Liar Jadi Minuman Berkhasiat

MENCICIPI segelas teh hangat di rumah Odo Sumarto (67) yang ada di kaki Pegunungan Menoreh, Kulonprogo, DIY, terasa menyegarkan. Sekilas rasanya tidak berbeda dengan rasa teh pada umumnya. Tapi ternyata minuman itu dibuat dari tanaman pegagan dan campuran tanaman-tanaman herbal lainnya.

Teh berkhasiat itu menjadi minuman kesehatan karena memiliki kandungan kimia alami yang bermanfaat bagi tubuh.

Ayah dari dua orang anak itu sedang menggoreng sangrai pegagan kering di dapurnya saat saya datang. Pegagan disangrai dalam kuali gerabah yang diletakkan di atas tungku arang. Dengan cekatan, Odo Sumarto mengaduk-aduk pegagan agar kering merata hingga warnanya menjadi kecoklatan.

“Agar hasilnya bagus, arangnya hanya dibuat membara tidak sampai menyala api. Kualinya dari tanah dan pengaduknya dari bahan kayu agar alami,” ungkap warga Dusun Turusan, Desa Pendoworejo, Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo itu.

Odo Sumarto mulai memproduksi teh pegagan sejak empat tahun lalu dengan bendera Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Ngudi Rejo. Kemasan tehnya pun dibuat menarik dengan bungkus kertas bertuliskan Teh Antana.

Saat ini, dalam sebulan produksinya mencapai 5.000 bungkus yang selalu terjual habis bahkan terkadang tidak cukup untuk memenuhi permintaan. Pemasarannya antara lain telah mencapai Solo, Jawa Timur, Jakarta, Sumatera, dan Kalimantan.

“Teh ini dibuat dari tumbuh-tumbuhan liar yang multiguna, banyak khasiatnya. Yang sudah konsumsi banyak yang cocok, seperti untuk penyakit gula, asma, ambeien, darah tinggi, meningkatkan daya ingat, serta pencegah liver dan kanker,” ujarnya.

Bahan baku pegagan kebanyakan didapat dari Purworejo, sedangkan teh hijau dari wilayah Kecamatan Samigaluh. Bahan-bahan lainnya didapat dari daerah sekitar, seperti akar alang-alang, benalu, dan bunga melati.

Komposisi dari bahan-bahan itu dalam ramuan tehnya yakni 70 persen pegagan, 10 persen teh hijau, 10 persen akar alang-alang, dan 10 persen sisanya untuk bahan-bahan lain (benalu, jeruk nipis, dan bunga melati).

Proses pembuatannya dimulai dengan mengeringkan bahan-bahan dengan penjemuran dibawah sinar matahari selama sekitar tiga hari. Setelah kering, masing-masing bahan itu dicacah dan disangrai dengan arang sekitar 10-15 menit. Barulah kemudian masing-masing bahan dicampur dengan komposisi tertentu dan siap dikemas.

Kakek empat cucu itu mengaku tidak mengalami kesulitan dengan bahan baku. Dia bisa mendapatkan pegagan basah dengan harga Rp 2.500/kg, pegagan kering Rp 20 ribu/kg, sedangkan benalu kering Rp 25 ribu/kg.

“Harga jual produk Rp 25.000 setiap pak, berisi 10 bungkus. Kami mengambil keuntungan Rp 2 juta dari kapasitas produksi per bulan. Dalam proses produksinya melibatkan warga,” ungkapnya.

Awal mula Odo memproduksi teh pegagan itu lantara dia sering dikirim magang oleh Dinas Pertanian setempat ke industri pembuatan obat. Selain itu dia juga sering membaca buku-buku tentang tanaman herbal dan mendapati adanya khasiat yang baik dari tanaman pegagan sebagai nutrisi otak.

“Dari situ saya terpikir bagaimana agar bisa dikonsumsi setiap hari. Sehingga saya buat berbentuk teh. Semula saya coba membuatnya dengan dikukus, tapi ternyata banyak nutrisi yang hilang dan khasiat kurang, kemudian saya buat dengan disangrai,” jelasnya.

Odo mengungkapkan, keluarganya sendiri sudah membuktikan khasiat teh pegagan tersebut. Seperti kakak dan istrinya yang pernah mengalami bengkak pada kaki karena asam urat, ternyata bisa sembuh setelah rutin meminum teh pegagan.

“Ada juga warga Minggir, Sleman yang harus operasi karena ambeien. Setelah mengkonsumsi teh pegagan dua bulan ternyata sembuh,” ungkapnya.

Untuk pengembangan, Odo berncana membudidayakan tanaman pegagan sendiri agar harga bahan bakunya tidak dipermainkan pasar. Dia mengaku memiliki lahan seluas 4 ribu meter persegi yang disiapkan untuk rencana itu.

“Untuk itu rencananya kami akan mengajukan penguatan modal dari pemerintah daerah. Kalu bantuan yang selama ini sudah diberikan untuk pengajuan ijin yang sekarang sudah lengkap,” imbuhnya. -cahpesisiran, utk suara merdeka-

Tuesday, March 01, 2011

Merti Bendung Kayangan

Mengenang Jasa Mbah Bei

KEINDAHAN alur sungai berbatu khas pegunungan dan sebuah tebing tinggi menjulang menjadi latar belakang elok perhelatan upacara adat warga Desa Pendoworejo, Girimulyo, Kulonprogo, DI Yogyakarta. Tradisi Saparan di Bendung Kayangan yang telah menjadi tradisi tahunan turun-temurun ini kembali digelar, Rabu (2/1).

Upacara ini dilaksanakan untuk mengenang dan menghargai jasa Mbah Bei Kayangan yang oleh warga setempat dianggap sebagai cikal bakal Dusun Kayangan. Tokoh ini pula yang telah membangun bendungan yang saat ini dikenal sebagai Bendung Kayangan.

Tradisi merti Bendung Kayangan yang disebut juga dengan Tradisi Kembul Sewu Dulur Saparan Rebo Pungkasan Bendung Kayangan ini digelar setiap tahun. Dengan waktu pelaksanaan pada hari Rabu terakhir (pungkasan) di bulan Sapar.


Acara merti bendungan ini dilaksanakan dengan setidaknya melibatkan 12 dusun di sekitarnya. Diantaranya Dusun Gunturan, Njetis, Ngrancah, Kepek, Turusan, Tileng, Banaran, Kalingiwo, dan Krikil. Saat pelaksanaan, warga berduyun-duyun datang ke lokasi bendungan dengan mengusung tenong (wadah dari bambu) berisi aneka makanan yang akan digunakan untuk kenduri dan makan bersama.

Setelah warga berkumpul dan berbagai makanan tradisional yang dibawa masyarakat sudah tertata rapi di pinggir bendungan kemudian digelar kenduri Saparan. Makanan itu dibagikan pada seluruh pengunjung setelah dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh pemuka agama setempat. Di samping menunjukkan kebersamaan, Kembul Sewu Dulur (makan bersama seribu saudara) juga sebagai simbol ungkapan rasa syukur warga kepada Tuhan yang telah memberikan kemakmuran.

“Ini sebagai ungkapan syukur warga kepada Tuhan, dengan adanya bendungan ini sangat bermanfaat untuk pertanian dan kehidupan masyarakat Kayangan dan sekitarnya,” kata pemangku adat, Mulyono.

Prosesi dilanjutkan dengan penampilan kesenian jatilan atau kuda lumping. Ada tradisi yang unik, sesudah berpentas babak pertama mereka memandikan kuda-kuda lumpingnya ke sungai atau biasa disebut ngguyang jaran. Ritual memandikan kuda lumping ini menggambarkan aktivitas Mbah Bei Kayangan yang berpofesi sebagai pawang kuda Prabu Brawijaya. Selain itu, ritual juga diyakini akan mendatangkan pelarisan bagi kelompok kuda lumping. Usai memandikan kuda-kuda lumping tersebut mereka berpentas lagi.

“Selain ngguyang kuda lumping juga alat peraga kesenian lain, seperti topeng. Ini juga sebagai simbol membersihkan diri dengan air. Karena air memiliki makna sebagai tirta marta atau sumber kehidupan,” jelas Mulyono.

Mengenai Mbah Bei Kayangan, Mulyono menuturkan, konon merupakan seorang abdi dalem atau pengikut Prabu Brawijaya yang lari bersama dua pengikutnya, Kyai Diro dan Kyai Somaitra. Mereka melarikan diri dari Majapahit sampai ke wilayah yang sekarang masuk Desa Pendoworejo, Girimulyo, Kulonprogo. Di tempat itu Mbah Bei membuka lahan sebagai pemukiman, area persawahan, dan ladang. Selain itu juga membangun bendungan secara manual yang akhirnya membawa manfaat besar bagi kesuburan tanah di sekitarnya.

Bendungan ini menampung air dari Sungai Ngiwa dan Sungai Gunturan yang berhulu di Gua Kiskendo dan daerah Purworejo. Nama Bendungan Kayangan sendiri muncul karena salah satu sisi hulunya berupa dinding tegak lurus pada bukit atau Gunung Kayangan.

Salah seorang warga, Mutrijati (40) mengaku senang dengan diselenggarakannya tradisi Saparan tersebut. Menurutnya upacara adat ini bisa menjadi sarana mempererat kebersamaan antar warga dan melestarikan kebudayaan.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Kulonprogo, Sarjana, yang menghadiri acara itu menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat yang masih melestarikan kebudayaan. “Upacara adat ini menunjukkan masyarakat yang guyub rukun. Dengan kebudayaan, semakin merekatkan kebersamaan antar warga masyarakat,” katanya. -cahpesisiran utk suara merdeka-

Nglaras Anggunging Kutut

BAGI sebagian masyarakat Jawa, burung perkutut mempunyai makna tersendiri. Konon burung ini bisa membawa hoki dan ketenteraman hidup pemiliknya. Terlepas dari itu, suara khas dari burung anggungan yang bernama latin Gleopelia striata ini memang mampu memikat para pecinta burung.

Dengan banyaknya penggemar perkutut, maka tidak jarang ajang untuk melombakan kualitas suara burung ini pun digelar. Untuk menghasilkan perkutut dengan suara yang bagus, para pehobi maupun penangkar perkutut harus berupaya menghasilkan perkutut yang berkualitas.

Seperti di Kulonprogo, upaya untuk terus meningkatkan kualitas perkutut pun dilakukan para penangkar dan pehobi. Ketua Koordinator Daerah Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia (Korda P3SI) Kulonporog, Drs Mur Widadi mengatakan, upaya penangkar di Kulonprogo untuk meningkatkan kualitas perkutut selalu dinamis.

“Harus mengikuti perkembangan perkututan, seperti suara yang lagi tren bagaimana. Ini tantangan mem-breeding untuk menghasilkan perkutut yang lebih dari standar,” kata Mur Widadi di sela lomba perkutut piala Bupati Kulonprogo, belum lama ini.

Menurutnya kualitas suara perkutut antara lain dilihat dari irama dan dasar suaranya, baik di awal atau angkatan suara, di tengah, maupun di ujungnya. Dulu kebanyakan suara perkutut hanya empat ketukan saja atau biasa disebut engkel.

Namun sekarang tren berkembang hingga ada yang enam ketukan, ketek dobel enam ketukan, dan dobel plus atau tujuh hingga delapan ketukan. Bahkan ada yang sampai tripel ketukan atau sembilan ketukan.

“Di Kulonprogo ada 14 pehobi yang mem-breeding atau menangkarkan kutut. Kami selalu mengusahakan kualitas kutut di sini juga meningkat, upayanya antara lain dengan mencari indukan dan bapakan yang bagus. Sudah ada juga yang bisa menghasilkan kutut dobel plus,” ungkapnya.

Salah satu penangkar perkutut di Kulonprogo, Kadiri mengungkapkan, tidak ada kendala signifikan dalam menangkarkan untuk menghasilkan perkutut yang berkualitas. Kendala yang dihadapi hanyalah cuaca kurang bagus. Jika cuaca buruk maka menghambat penetasan telur. Kendala yang lainnya berupa penyakit, terutama cacingan, namun bisa diatasi dengan pemberian obat.

“Kalau mencari indukan gampang-gampang susah. Tapi kalau sudah ada persepsi yang sama dengan penangkar yang lain, itu tidak masalah,” ujarnya.

Mur Widadi menambahkan, selain meningkatkan kualitas burung perkutut dengan penangkaran, upaya memajukan dunia perkututan di Kulonprogo juga ditempuh dengan menggelar lomba. Dalam setahun setidaknya digelar sekali perlombaan. Seperti lomba perkutut Piala Bupati Kulonprogo yang diadakan Minggu (13/2) lalu di lapangan Kecamatan Pengasih.

“Ini rutin digelar setiap tahun, untuk kemajuan kutut di Kulonprogo. Juga mewujudkan kekompakan kung mania baik pehobi, penangkar, perajin sangkar, dan penjual pakan burung perkutut,” katanya.

Lomba itu diikuti 70 peserta. Selain dari Kulonprogo dan lingkup DIY, juga diikuti peserta dari Jawa Tengah seperti Kebumen, Cilacap, Magelang, dan Solo. “Ada juga yang dari Jawa Timur seperti dari Pacitan. Yang dari Bandung juga ada,” imbuhnya. -cahpesisiran utk suara merdeka-

Petani Gelar Tradisi Wiwit Panen Padi

TRADISI wiwit untuk memulai panen padi saat ini sudah mulai jarang dilakukan oleh petani. Namun para petani di Desa Giripeni, Kecamatan Wates, Kulonprogo masih memelihara tradisi itu dengan menggelar wiwit bersama, Kamis (10/1).

Para petani berduyun-duyun datang ke sawah dan berkumpul di gubug tani yang menjadi tempat digelarnya wiwit bersama. Mereka datang dengan membawa aneka makanan, beberapa diantaranya berupa ingkung dan nasi tumpeng. Para petani di Dusun Dobangsan itu sedikit mengubah tradisi wiwit dari yang sudah dilakukan turun-temurun.

“Dulu dan sekarang ada bedanya. Kalau dulu petani membuat ingkung dan tumpeng dan dibawa ke sawahnya malam hari waktu sawah sepi, agar tidak dicuri orang. Kalau sekarang kita gelar bersama di siang hari, sekaligus bersedekah makanan bersama,” kata Untung Suharjo, sekretaris kelompok tani setempat.

Wiwit bersama itu digelar satu kali setahun setiap akan dimulai panen pada masa tanam pertama. Penyelenggaraan wiwit secara bersama sudah dilakukan selama empat tahun ini. Dengan diselenggarakan bersama, tradisi itu sekaligus mejadi ajang silaturahmi para petani termasuk dengan perwakilan pemerintah yang turut diundang. Suasana kebersamaan yang tercipta pun begitu kental.

Dalam acara itu sekaligus dilakukan dzikir untuk mensyukuri hasil panen dan doa bersama agar panen yang akan datang lebih baik. “Berdoa bersama agar hasil panen bermanfaat dan panen berikutnya hasilnya lebih baik lagi,” katanya.

Di lahan sawah seluas sekitar 41 hektar itu para petani kebanyakan menanam padi varietas Ciherang. Tapi ada juga padi varietas lainnya seperti Inpari 1 dan 2 serta Situgangga. Untung mengungkapkan, panen kali ini hasilnya lebih bagus dari panen sebelumnya. Walaupun pada awal masa tanam beberapa hama penyakit menyerang namun para petani berhasil mengatasinya. Beberapa hama itu diantaranya hama putih palsu, penggerek batang, dan hama kresek.

“Dari pengukuran ubinan, hasil panen kali ini rata-rata mencapai 11,3 ton per hektar. Sedangkan tahun lalu hanya 10,4 ton per hektar,” ungkapnya.

Salah satu petani, Ngatijo mengaku senang dengan digelarnya wiwit secara bersama karena mereka bisa berkumpul dan mempererat kebersamaan. Dia pun setiap tahun selalu ikut dalam penyelenggaraan wiwit bersama sekaligus sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan dan berdoa agar panen bisa melimpah.

“Alhamdulillah panen kali ini bisa bagus, lebih baik dari sebelumnya. Padahal dari kecil sudah ada hama tapi hasilnya bisa baik,” imbuhnya. -cahpesisiran utk suara merdeka-