Thursday, July 24, 2008

Wiji tuwuh


Melintasi Kawat Berduri

tak mudah memang, menggapai apa yang diingini
harus bersabar
pun terkadang harus merangkak dan merayap
belum lagi rintangan yang mesti dihadapi.

tetapi bukankah buah semangka yang memerah,
dihasilkan oleh batang yang tumbuh merambat..

Tuesday, July 22, 2008

Shopping Center Yogyakarta

Konon Pernah Jadi Pusat PKL Buku Terbesar se-Asia Tenggara

BERKUNJUNG ke Yogyakarta tidak lengkap rasanya jika tidak mampir ke Kios Buku Taman Pintar, atau yang lebih dikenal dengan nama Shopping Center. Memasuki Jalan Sriwedari -pararel di sebelah timur Jalan Malioboro- deretan kios-kios yang memajang beragam buku akan langsung terlihat.

Buku yang dijual bermacam-macam, dari buku baru hingga buku bekas. Tiap kios memiliki spesifikasinya masing-masing, dari buku-buku umum, religi, buku pelajaran, hingga novel dan komik. Tak hanya itu, di Shopping center juga tersedia berbagai kebutuhan untuk mahasiswa, dari kliping artikel dan makalah-makalah bekas untuk referensi mengerjakan tugas, hingga buku-buku penunjang kuliah.

Ada 124 kios yang tertata rapi di dua lantai. Para pedagangnya tergabung dalam Koperasi Pedagang Buku (Kopaku Taman Pintar), yang dibentuk sekitar tahun 1988. Jika dibanding harga di toko-toko buku, harga buku di shopping center relatif lebih murah. Untuk buku-buku baru rata-rata diambil langsung dari penerbit, dengan pengambilan keuntungan yang kecil. “Harga di sini jelas lebih rendah. Dari keuntungan yang diambil kan kecil 2,5 – 5 %. Tapi di sini merekrut pelanggan sebanyak-banyaknya. Sehingga walau keuntungan sedikit tapi omzet penjualan lebih banyak dibanding di toko buku,” ungkap Harjono, sekretaris Kopaku Taman Pintar yang juga berjualan buku sejak 1989 tersebut.

Hampir setiap hari shopping center selalu ramai dikunjungi calon-calon pembeli, terlebih lagi pada akhir pekan yaitu Jumat hingga Minggu. Bahkan tidak sedikit pula pembeli yang datang dari luar kota Yogyakarta. Bagi sebagian orang, Shopping Center bisa dijadikan sebagai alternatif pilihan ketika di toko-toko buku tidak bisa menemukan buku yang dicari. “Ada buku yang tidak ada di toko, ternyata bisa ditemukan di sini,” ungkap Muhammad Shokheh, mahasiswa Pasca Sarjana UGM asal Magelang.

Bahkan Shokheh mengaku sering pula mendapat buku menarik yang sebenarnya tidak dicari. ”Setelah melihat-lihat dan tertarik dengan suatu buku, selagi ada dana langsung saya beli,” kata Shokheh di sela perburuannya terhadap salah satu buku Syekh Nawawi al-Banteni (tokoh intelektual muslim).

Lain lagi dengan Endang Warti, mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta ini lebih sering mencari kliping artikel untuk bahan tugas kuliah. “Kalau ada tugas pasti ke sini, hampir tiap 2 atau 3 minggu sekali,” ungkap mahasiswi semester dua tersebut. Selain mencari artikel, Endang mengaku sering juga mencari buku-buku yang berkaitan dengan kuliah. Mengenai harga, “Di sini biasanya lebih miring,” kata gadis asal Magelang tersebut. Bagi mahasiswa, shopping center juga merupakan tempat alternatif untuk mendapatkan buku bekas yang tentu saja harganya jauh lebih murah dibanding buku baru.

Menurut Harjono, shopping center memang lebih lengkap dibanding pasar buku yang ada di kota-kota lain. Bahkan konon, tahun 80an Mahathir Muhammad (mantan PM Malaysia) pernah berkunjung ke shopping center pada waktu masih di lokasi lama, tentu saja kunjungan tidak resmi. Pasalnya, gaung shopping center waktu itu sebagai pusat pedagang kaki lima khusus buku terbesar di Asia Tenggara.

Tak hanya buku-buku bekas untuk perguruan tinggi yang ada di shopping center. Jika beruntung, para kolektor bisa juga mendapatkan buku-buku kuno dan langka di shopping center. “Paling banyak yang dicari buku kuno, seperti babad-babad dari pujangga-pujangga. Biasanya untuk perpustakaan,” ungkap Bu Abbas yang lebih mengkhususkan menjual buku-buku lama.

Mengenai harga buku lama, tergantung ketebalan dan kelangkaannya. “Semakin langka semakin mahal,” ungkap ibu lima orang anak yang pernah menjual buku kuno seharga Rp 2,5 - 3 juta untuk satu buku tersebut. “Itu buku kuno berhuruf Jawa. Kalau sudah laku sulit untuk mendapatkan lagi,” papar wanita yang merintis usaha jualan buku pada tahun 1965 bersama suaminya tersebut. -cahpesisiran-

Sunday, July 20, 2008

Oleh-oleh dari kawan


Berada tertinggi
ketika pandang begitu lega
ketika senyum mentari memberi harapan
ketika dingin dan kabut terasa hangat menyapa










Lembah hijau terhampar
wuihh.. serasa ingin terbang.
i believe i can fly
i believe i can touch the sky
i think about it every night n day
spread my wings n fly away
i believe i can fly..
-R Kelly-






Jejakkan langkah
susuri jalan setapak berbatu
teguhkan tekad
di atas ada asa
Eh.. Green grass around..!!!
ternyata banyak yang bisa dinikmati
meski harus melewati jalan terjal berliku






Saatnya kopi susu cokelat hangat
apa yang ada dalam ranselmu- kawan?
sekedar pengganjal perut dan pelepas dahaga,
ambillah sobat.










Senyap
ada kekuatan di balik kesunyian
ada kekuatan di balik keteguhan hati.









Land, Mbah Im, n Avrilia, Hatur nuhun bwt foto-fotonya..

Foto: Gunung Sindoro dan Sumbing (Polo Pala - Land n Mbah Im cs)
Danau Toba (Avrilia w)


Thursday, July 03, 2008

Gerabah Kasongan

Turun-temurun, Dari Perkakas Rumah Tangga Hingga Keramik Hias

MEMASUKI kampung Kasongan, di halaman-halaman rumah dan pekarangan warga dengan mudah akan terlihat gerabah berbagai bentuk dan ukuran. Baik yang masih alami berwarna merah bata, ataupun yang telah dilakukan finishing dengan pengecatan beraneka warna atau teknik finishing lain. Di sudut-sudut kampung akan terlihat pula tungku-tungku pembakaran. Jika tertarik, wisatawan dapat pula turut membentuk tanah liat menjadi gerabah bersama para perajin.

Desa Wisata Kasongan terletak di Dukuh Kajen, Banguntapan, Kasihan, Bantul Yogyakarta. Di dukuh seluas 49 hektar berpenduduk 1.556 jiwa tersebut, 95% warganya bermata pencaharian sebagai perajin gerabah, sedangkan sisanya petani dan PNS. Pembuatan gerabah di Kasongan memang telah diwariskan secara turun temurun dari generasi terdahulu hingga kini.

-berawal dari perkakas rumah tangga-
Pada awal mulanya, gerabah yang diproduksi warga Kasongan hanya berupa perkakas rumah tangga seperti kwali, cobek, anglo, keren (tungku untuk memasak dengan kayu bakar), dan perkakas lain. Namun setelah dikembangkan sebagai desa wisata, variasi produk gerabah pun berkembang hingga ke gerabah-gerabah hias seperti guci, berbagai patung, meja kursi, dan berbagai hiasan lain.

“Kerajinan gerabah telah turun-temurun digeluti warga. Kemudian mulai berkembang setelah ada arahan dari para tokoh seniman seperti masalah desainnya,” kata Kepala Dukuh Kajen, Muh. Hadi Suprojo.

Buang Mudiarjo misalnya, perajin gerabah yang telah memulai usahanya sejak 1965 mengaku belajar menjadi perajin gerabah dari orangtuanya. Gerabah yang dihasilkannya mulai dari perkakas rumah tangga hingga gerabah hiasan. “Yang paling diminati wisatawan seperti guci, loro blonyo (patung pengantin), dan patung Budha. Harga gerabah berkisar Rp 5 ribu - 500 ribu,” ungkap ayah empat orang anak tersebut. Kerajinan gerabah di Kasongan mulai berkembang setelah dibangunya jembatan di sisi timur kampung pada 1972, sehingga bisa menghubungkan ke kota Bantul dan daerah lain. “Sebelum tahun 72 susah karena belum ada jembatan. Untuk menjual gerabah harus menyeberang sungai. Dulu hanya dijual di pasar-pasar tradisional sekitar,” kenang lelaki kelahiran 55 tahun lalu itu.

Kini, Buang memasarkan 85% gerabahnya hingga ke mancanegara seperti Belanda, Thailand, dan Venezuela. “Mulai ekspor sejak tahun 1990. Awalnya menawarkan ke turis-turis yang berkunjung ke sini, kemudian mereka mulai memesan,” papar lelaki yang menekuni kerajinan keramik bersama puteranya tersebut. Sementara untuk pasar dalam negeri antara lain Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Bali.
Bahan baku tanah liat, didapat Buang, dari Kasongan, Godean, Kebumen, dan Imogiri.

-koperasi untuk pengembangan-
Untuk pengembangan Gerabah di Kasongan, para perajin dan pengusaha membentuk wadah berupa koperasi yang beranggotakan 581 perajin/pengusaha. Wadah yang bernama Kopersi Industri Seni Kerajinan Keramik (Kopinkra) Setya Bawana tersebut terbentuk pada 10 Agustus 2006. Sebenarnya cikal bakal dari koperasi telah ada sejak 1984 berupa kelompok campur sari Setya Bawana. Kelompok tersebut ternyata mendapatkan pesanan membuat gerabah dari turis, hingga kemudian terbentuklah sebuah koperasai. Meski keberadaannya telah lama, namun koperasi baru didaftarkan menjadi berbadan hukum pada 2006. “Ada turis yang memesan gerabah pada kelompok campur sari Setya Bawana. Kemudian terbentuklah koperasi, dan baru didaftarkan berbadan hukum setelah gempa 2006,” ungkap pengurus harian koperasi Setia Bawana, Made Supardi.

Selain fungsi teknis penguatan modal bagi anggota, berupa pijaman berbunga rendah, koperasi juga berperan dalam pengembangan sentra gerabah Kasongan. “Setiap tanggal 15 ada pertemuan pengurus inti untuk membicarakan perkembangan sentra gerabah Kasongan dan bagaimana langkah-langkah ke depan,” kata Made. Sedangkan pelatihan-pelatihan dan pembinaan bagi para perajin dilakukan oleh pemerintah daerah setempat seperti pelatihan manajemen, ekspor, ataupun finishing produk gerabah.

Peran pemerintah desa sendiri lebih pada penataan pokdarwis (kelompok sadar wisata), memberikan arahan, serta menampung keluhan mengenai kesulitan-kesulitan yang dihadapi termasuk masalah permodalan. Beberapa permasalahan yang disampaikan warga Kasongan, kata Hadi Suprojo, antara lain agar pemerintah ataupun perbankan mempermudah akses permodalan untuk pengembangan usaha.

-bangkit pasca gempa-
Sedangkan untuk mengenalkan Kasongan kepada masyarakat luas, disadari promosi perlu terus dilakukan antara lain melalui pameran-pameran. “Jangan sampai Kasongan menjadi tertutup atau hilang akibat gempa 2006 lalu. Sekarang sudah mulai bangkit dan nampak lagi,” ungkap Kepala Dukuh yang juga menjadi perajin gerabah sejak 1989 tersebut.

Sejak bencana gempa bumi 2006, disamping jumlah kunjungan wisatawan ke Kasongan menurun drastis, warga pun harus memulai usaha dari awal karena perlu pemulihan rumah, tungku pembakaran gerabah, ataupun peralatan penunjang lainnya. “Perlu waktu untuk pulih kembali. Padahal dulu Kasongan sudah mulai artistik, banyak dikunjungi wisatawan. Namun akibat gempa, banyak yang rusak seperti gapura-gapura roboh,” papar Nangsib, sapaan akrab Hadi.

Pengembangan Kasongan sebagai desa wisata dilakukan pula dengan menerima ide-ide dari warga masyarakat. Untuk mendukung Kasongan sebagai desa wisata, warga menginginkan dibangunnya monumen Kasongan. Saat ini telah tersedia lahan seluas 1.600 meter persegi yang semula merupakan tanah milik pemerintah propinsi DIY, dan telah diserahkan ke Pemda Bantul. “Masukan dari warga, menginginkan dibangunnya Monumen Kasongan. Walaupun belum ada kepastian kapan bisa terwujud,” tambahnya.

Meski mayoritas warga menekuni kerajinan gerabah, namun tidak terjadi persaingan yang tidak sehat. Kerukunan antar warga pun masih terjaga dengan baik. Persaingan lebih pada kualitas produk. “Kehidupan sosial antar tetangga, kerukunannya masih bagus. Selalu gotong-royong karena kita tidak bisa hidup sendiri,” pungkas Buang Mudiarjo disela kegiatannya bersama warga yang lain. -cahpesisiran-
foto: dok.

Thursday, June 12, 2008

Belut Godean

Permintaan Tinggi, Kesulitan Teknik Budidaya

KERIPIK belut dengan mudah dapat ditemukan di Pasar Godean, Sleman, Yogyakarta. Deretan toko kecil yang menjajakan keripik belut dengan display kaca, akan langsung terlihat ketika melintas di depan pasar yang berada di Jalan Godean, sekitar 30 menit perjalanan ke arah barat dari kota Yogyakarta tersebut. Godean memang telah cukup lama dikenal sebagai sentra belut.

Saat ini, di Kecamatan Godean terdapat 36 orang pedagang keripik belut yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Keripik Belut Harapan Mulya. Pada 2007 total produksi mencapai 180.000 kg.

Harga keripik belut di Pasar Godean tergolong relatif mahal yaitu mencapai kisaran Rp 40 ribu per kilogram. Bu Tini, salah seorang pedagang, mengungkapkan sebagian besar bahan baku (belut yang masih hidup) didatangkan dari daerah Jawa Timur, karena pasokan dari Godean sendiri tidak dapat memenuhi kebutuhan. Pasokan belut lokal dari Godean sebagian besar berasal dari para pemburu yang menangkap belut liar di lahan persawahan pada malam hari (nyuluh). “Harga dari pemasok dari Jawa Timur Rp 12 -15 ribu per kilogram. Mendatangkan belut biasanya seminggu sekali 1 atau 1,5 ton, yang kemudian digoreng sendiri,” ungkapnya. Setiap harinya Bu Tini rata-rata dapat menjual 5 – 10 kg keripik belut. Sedangkan pada masa lebaran, penjualan per hari bisa mencapai 50 kilogram.

Meski dikenal sebagai sentra belut, ternyata belum banyak masyarakat Godean yang secara khusus melakukan pembudidayaan. Hal itu dikarenakan belut memang masih relatif sulit dibudidayakan terutama untuk masalah pembibitan. Seperi Hadifa Eels Farm misalnya, usaha pembudidayaan belut yang telah dimulai sejak 2004 tersebut juga mengalami kesulitan serupa. Selain sulitnya mendapatkan pasokan bibit, proses pembesarannya pun ternyata tidak mudah. “Pertama kali masuk bibit 4 kwintal. Tapi karena kesalahan media pembudidayaan, akhirnya panen kurang berhasil. Bibit yang mati hampir 50%”, ungkap Sumarno, pengelola Hadifa Eels Farm.

Pasokan bibit dari Sumpyuh Purwokerto ke Hadifa Eels Farm hanya berjalan sekali kemudian terhenti. Usaha dilanjutkan berupa pengolahan belut dengan bahan baku didatangkan dari luar daerah. Untuk bahan kripik didatangkan dari Jawa Timur. Sedangkan untuk abon dan dendeng, karena diperlukan belut yang besar-besar, maka didatangkan dari Kalimantan dan Sumatera Selatan.

Disamping membuat olahan belut, sejak Januari 2008 Hadifa Eels Farm kemudian juga mencoba melakukan pembibitan sendiri . “Kita belajar sendiri, mengamati sendiri. Dan itu baru mulai ada bibit,” ungkap Sumarno yang kelahiran Godean tersebut. Meski sudah banyak permintaan bibit baik dari calon pembudidaya di Sleman maupun luar daerah seperti Kudus, Semarang, Wonosobo, dan Balikpapan, tapi Hadifa Eels Farm belum bisa memenuhinya. “Ini belum sepenuhnya berhasil. Baru sekitar 50%. Bibit baru masih untuk ternak sendiri dan belum diperjualbelikan,” terangnya. Meski begitu, Sumarno optimistis ke depan akan dapat melakukan pembudidayaan belut dengan pembibitan sendiri, bahkan akan bisa pula menjual bibit.

Dalam pembibitan belut, Sumarno mengaku menghadapi kendala iklim. Karena musim perkembangbiakan belut hanya terjadi sekali dalam setahun, yaitu pada musim penghujan. Kendala lain adalah adanya sifat biologis belut yang unik yaitu perubahan jenis kelamin menjadi jantan setelah dewasan, sehingga tidak bisa lagi sebagai induk. “Belut hanya berkembang biak (bertelur) pada musim hujan saja. Sehingga kita mencoba memanipulasi membuat hujan buatan agar belut bisa bertelur lebih dari sekali dalam setahun,” paparnya.

Sedangkan untuk proses pembesaran belut, dapat dilakukan di kolam beton ataupun di kolam sawah dengan pematang dibuat permanen. Menurut Sumarno, berdasarkan teori yang ia peroleh dari buku, kolam harus diberikan media berlapis berupa jerami, pupuk kandang, gedebog pisang, dan tanah. Media tersebut dibuat dua lapis. “Sedangkan untuk pemberian pakan secara alami seperti cacing dan hewan-hewan air kecil. Kalau pakan pabrik, belut tidak mau,” tambah lelaki yang mengelola pembudidayaan belut di Sokonilo, Sidoluhur, Godean, Sleman tersebut.

Belut dapat dipanen setelah 4 hingga 6 bulan sejak bibit yang berusia tiga bulan ditebar di kolam pembesaran. “Setelah dibesarkan, menurut teori perbandingannya 1:10. Jadi setiap 1 kg bibit bisa menjadi 10 kg belut, atau kondisi paling jelek 1:5,” kata Sumarno sembari menambahkan karena keliru pengaturan media di kolam, pembesaran yang ia lakukan sebelumnya tidak dapat berjalan seperti teori dan panen kurang berhasil. Selain itu, Sumarno menduga banyaknya penggunaan pupuk kimia di lahan persawahan saat ini juga berdampak negatif terhadap perkembangbiakan, peluang hidup, dan pertumbuhan belut.

-inisiatif budidaya-

Meski belum banyak masyarakat Godean yang membudidayakan belut, namun minat masyarakat relatif cukup besar. Salah seorang warga Desa Sidorejo, H. Sardjono (61 tahun) misalnya, tertarik untuk mulai membudidayakan belut sejak awal Mei 2008 lalu. “Baru dalam tahap uji coba,” kata ayah tiga orang anak tersebut.

Sardjono memanfaatkan lahan sawahnya seluas 300 m2 yang ditanami padi untuk sekaligus pembesaran belut. Sebanyak 20 kg benih belut ia tebar di lahan tersebut dengan umur bervariasi yang didapat dari para pemburu belut liar. “Bukan di kolam khusus tapi di sawah. Ditanami padi sekaligus untuk budidaya belut. Di pematangnya diberi pembatas plastik agar belut tidak lepas keluar lahan,” papar lelaki yang juga ketua kelompok tani desa setempat.

Untuk pembesaran belut tersebut, Sardjono melakukan perlakuan khusus terhadap lahan. Sebelum ditanam padi, terlebih dulu disebar pupuk organik berupa pupuk kandang. Selama proses pembesaran juga tidak digunakan pupuk kimia. “Dari pupuk kandang itu nantinya akan menghasilkan sebangsa cacing yang bisa untuk makan belut. Rencana juga akan diberi lampu listrik di atas lahan untuk menarik serangga yang juga bisa sebagai makanan belut. Karena memang belum ada makanan khusus untuk belut yang bisa dibeli,” paparnya.

Direncanakan belut akan dipanen setelah usia 100 hari sejak penebaran benih, bersamaan dengan dipanennya padi di lahan tersebut. Mengenai pemasarannya, Sardjono tidak khawatir akan kesulitan karena permintaan masih tinggi. “Harga antara Rp 14 ribu -17 ribu per kg dari petani ke pembuat keripik belut,” katanya.

-kendala teknik budidaya-

Tidak mudahnya pembudidayaan belut juga diakui oleh Kepala Bidang Perikanan, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Ir. A A Ayu Laksmidewi, MM. Saat ini belum ada rekomendasi teknis resmi tentang budidaya belut yang bisa meyakinkan akan berhasil jika diterapkan. “Rekomendasi teknisnya memang belum ada yang bisa meyakinkan untuk berhasil,” paparnya.

Jika dilihat secara hitung-hitungan di atas kertas, Laksmidewi mengakui budidaya belut memang terlihat sebagai potensi dan peluang yang besar. Tapi kondisi di lapangan ternyata terkendala teknologi, dan secara hitungan bisnis belum tampak keuntungan dari membudidayakan belut. “Kalau hitungan di atas kerta memang besar. Bahkan ada pemberitaan di media massa sekian milyar lari ke Jawa Timur untuk mendatangkan bahan baku belut ke Godean. Sebenarnya masalahnya bukan itu. Di Jawa Timur dengan lahan seluas itu, wajar bila menjadi sumber belut yang besar. Dan di sana pun kemungkinan juga belum budidaya, tapi hasil buruan,” katanya.

Kendati menghadapi kendala dalam hal teknologi budidaya, pemerintah setempat tetap berupaya mempertahankan dan mengembangkan Godean sebagai sentra belut. ”Kalau masyarakat pelaku usaha penggoreng belut mengeluhkan tingginya harga bahan baku, saya menangkapnya bukan kita harus membudidaya sendiri. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan dalam waktu dekat adalah membuat hubungan yang jelas antara pemasok bahan baku dengan pengolah, agar terjadi itung-itungan terbuka. Jadi tidak sepihak saja yang mendapatkan keuntungan besar sementara pihak lain mepet. Mungkin kita bisa berperan sebagai mediator,” kata Laksmidewi menjelaskan. Ia menambahkan, pihaknya tetap merespon dengan pemberian pendampingan jika ada masyarakat yang mengembangkan budidaya belut.

-prospek bagus-

Mengenai prospek ke depan dari pengolahan dan budidaya belut ini, kalangan pelaku usaha melihatnya masih bagus. “Prospek hingga sepuluh tahun ke depan pun saya kira masih bagus karena ini masih kekurangan terus,” kata Sumarno. Bahkan Sumarno mempunyai harapan, Godean tetap dikenal dengan belutnya. “Kita baru merintis produk olahan kemasan yang diberi label belut Godean. Seperti halnya Kentucky yang dikenal dengan Kentucky Fried Chicken-nya, kita ingin mengangkat brand Godean ini dengan belut,” pungkas Sumarno. -cahpesisiran-

Tuesday, May 20, 2008

MerahPutih ku


... Di seluruh pantai Indonesia
Kau tetap pujaan bangsa
Siapa berani menurunkan engkau
Serentak rakyatmu membela
Sang merah putih yang perwira
Berkibarlah slama-lamanya..

(Ibu Sud)

Foto: Pantai Ngrenehan Gunung Kidul (Mei 2008)

Wednesday, May 07, 2008

Lereng Merapi dan Jaman Kolobendu

SEORANG tetua dari masa lalu pernah berkata, “Sesuk wedi lan krikil bakal iso dipangan dening menungsa,” (kelak pasir dan kerikil akan bisa dimakan oleh manusia). Ternyata benar. Pasir dan kerikil bahkan batu, saat ini memang bisa dimakan oleh manusia. Bukan karena ada teknologi yang memungkinkannya bisa diubah menjadi zat makanan.

Namun
karena pasir, kerikil, dan batu -yang pada masa lalu kurang begitu banyak dimanfaatkan-, ternyata di jaman ini banyak dicari dan dibutuhkan manusia. Baik untuk bahan baku pembuatan tempat tinggal ataupun sarana-sarana lain penunjang kehidupan manusia. Dengan kata lain, kini pasir, kerikil, dan batu menjadi mempunyai nilai ekonomis, laku dijual, dan hasil penjualannya bisa digunakan salah satunya untuk memenuhi kebutuhan perut.

-pasir merapi berkah di balik erupsi-

Dibalik aktifnya Gunung Merapi yang terkadang dianggap oleh sebagaian orang sebagai bencana, ternyata juga memberikan sumber penghidupan bagi banyak orang. Setiap erupsi yang menghasilkan material batuan dan pasir, ternyata membawa berkah tersendiri. Tidak sedikit warga Sleman yang merasakan aliran sumber penghidupan dari erupsi tersebut. Dengan menjadi penambang pasir di sungai-sungai alur aliran material Gunung Merapi, mereka mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dan membiayai pendidikan anak-anak mereka. Bahkan, tidak hanya warga Sleman yang mendapat berkah dari menambang pasir. Penambang-penambang dari luar wilayah pun banyak yang mengais rejeki di kawasan penambangan pasir Merapi, seperti dari Klaten, Magelang, dan Purworejo.

Penambangan pasir di Sleman terdapat di sungai-sungai yang mendapatkan pasokan material dari erupsi Merapi. Yaitu meliputi Sungai/Kali Gendol, Kali Opak, Kali Kuning, Kali Boyong, dan Kali Krasak. Namun untuk saat ini, pasokan material terbesar ada di Sungai Gendol.

Kawasan penambangan pasir Merapi –di alur sungai Gendol- yang paling banyak terdapat penambangnya terletak di Desa Kepuharjo, Cangkringan, Sleman. Dalam menambang pasir, para penambang berkelompok 2 hingga 7 orang. Seperti Selam (40 tahun) misalnya, warga Kopeng, Kepuharjo yang telah menambang pasir sejak 1980-an, biasa menambang bersama enam orang dalam kelompoknya. Dalam sehari ia mampu mengumpulakan lima hingga enam rit pasir. Setiap rit dijual dengan kisaran harga 80 hingga 130 ribu rupiah. Hasil dalam sehari dibagi rata kepada anggota kelompok. Setiap harinya, Selam mengaku memperoleh penghasilan rata-rata 50 ribu rupiah. Dari menambang pasir tersebut ia mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan membiayai pendidikan dua orang anaknya. “Kalau dari menambang pendapatan bisa ajeg, rata-rata sehari 50 ribu. Kalau beternak sapi kan pendapatan tidak setiap hari tapi tahunan kalau pas menjual sapi saja,” ungkap lelaki yang juga beternak sapi tersebut.

Berbeda dengan Selam, Parjo (60 tahun) warga Tegal Lurung, Kemalang, Klaten, menjadikan usaha menambang pasir ini sebagai satu-satunya sumber penghasilan. Sejak setahun lalu ia mulai menambang pasir di Kali Gendol Cangkringan. Sebelumnya ia menggantungkan kebutuhan keluarga dari nderes kelapa (mengambil nira kelapa) dijadikan gula jawa. Parjo lebih memilih menjadi penambang pasir karena penghasilan lebih besar dan tidak ribet. “Kalau nderes itu repot, pagi dan sore harus ambil legen (nira),” ungkap lelaki yang mendapat penghasilan 30 hingga 50 ribu rupiah per hari dari menambang pasir tersebut.

Mengenai resiko terkena longsoran pasir atau batu yang dihadapi penambang, Parjo mengaku jarang terjadi. Yang dikhawatirkan penambang adalah datangnya banjir. “Kalau hujan tidak ada yang berani menambang di sungai ini. Terutama yang ada di ujung atas karena takut kalau tiba-tiba terjadi banjir dari atas,” katanya.

Hal senada dikemukakan rekan sekelompok Parjo, Mitro (55 tahun). Menurut Mitro, yang terpenting untuk meminimalisir resiko terjadinya kecelakaan adalah dengan berhati-hati. “Jarang ada yang kelongsoran sampai meninggal. Kalau saya paling hanya lecet atau luka di kuku,” ungkap warga Kepuharjo, Cangkringan yang menambang pasir sejak 2 tahun lalu tersebut. Setiap hari Marto menambang dari pukul 7 pagi hingga pukul 3 sore, dengan rata-rata penghasilan bersih sebesar 30 ribu rupiah.

-kontribusi bagi perekonomian masyarakat-

Pasir dari erupsi Merapi di Kali Gendol, khususnya di kawasan penambangan Desa Kepuharjo, ternyata mampu memberikan kontribusi bagi perekonomian masyarakat sekitar. Penghasilan dari menambang pasir lebih besar jika dibanding dengan penghasilan dari beternak sapi dan bertani. “Lebih untung dari penambangan. Hanya saja kalau usaha sapi kan bisa untuk selamanya, kalau menambang hanya setelah terjadi erupsi saja,” kata Kepala Desa Kepuharjo, Heri Suprapto.

Oleh karena itu, pemerintah desa juga melakukan upaya penataan kawasan penambangan, yang dimaksudkan agar pasir dari erupsi lebih awet. “Kalau banyak ditambang oleh penambang dari luar kan cepat habis. Jadi kita tata,” ujar Heri.

Realitas di lapangan untuk penambangan rakyat, menurut Kepala Bidang Pertambangan dan Energi, Dinas Pengairan Pertambangan dan Penanggulangan Bencana Alam (P3PA) Kabupaten Sleman, Purwanto, lebih bayak penambang yang belum berijin dibanding yang telah memegang ijin. Hal itu jika tidak dikendalikan akan berpotensi juga menimbulkan kerusakan lingkungan. Atas kondisi itu Dinas P3PA Kabupaten Sleman melakukan pengendalian berupa pembinaan dan penjelasan bagi para penambang, dan kemudian dilakukan pengaturan dengan ijin penambangan.

Langkah yang lebih nyata dilakukan dengan mendorong para penambang yang belum berijin, untuk membentuk kelompok-kelompok dan mengajukan permohonan ijin penambangan.


-jaman kolobendu-

Pasir di jaman ini bisa dimakan...?!!

Tapi masih untung, karena mungkin baru pasir yang bisa dimakan manusia.

Jika meminjam istilah pewayangan, kelak akan ada jaman yang bisa dibilang jauh lebih fenomenal lagi, yaitu jaman kolobendu. Yaitu jaman edan, jaman ketika antara pemimpin dengan pencuri tidak bisa lagi dibedakan. Lebih ngerinya lagi, jaman kolobendu adalah jaman ketika manusia memakan manusia. Tentu saja (juga) bukan karena daging manusia lebih gurih dari daging sapi, tapi karena timbulnya keserakahan. Keserakahan akan harta, akan jabatan, dan akan kekuasaan. Kalau boleh meminjam istilah dari negeri sebrang, manusia menjadi homo homini lupus (manusia merupakan srigala bagi sesamaya). Ngeri kalau jaman seperti itu datang. Atau.. jangan-jangan jaman itu sudah datang??

Kembali ke masalah pasir…, menurutku kalau penambangan pasir oleh rakyat sih masih bisa dikendalikan. Yang perlu diwaspadai adalah penambang-penambang dari jaman kolobendu, yang mungkin akan datang. (Atau justru mereka telah menguasai kawasan-kawasan penambangan di negeri ini?? Entah penambangan pasir, penambangan emas, ataupun penambangan minyak dan yang lainnya).


Yah, ngeri memang kalau jaman seperti itu datang.. (walaupun bagi saya nama kolobendu tidak begitu mengerikan, bahkan cenderung lucu bila dilafalkan).

Seorang teman malah bilang “kolobendu” seperti nama makanan. Waduhh jaman apa lagi ini, bila ada manusia memakan kolobendu..?!!