Tuesday, April 14, 2009

Oleh-oleh Dari Solo

Warung Angkringan Pak Kemin


Kukendarai motorku malam ini melintasi depan Monumen Pers Solo. Udara masih terasa sejuk karena sore tadi hujan mengguyur lumayan deras. Tak begitu banyak kendaraan yang lalu lalang di jalanan, sehingga bisa kuhela napas dalam-dalam tanpa khawatir banyak karbon akan masuk ke rongga paru-paruku. Lampu-lampu yang menyala temaram terlihat sedikit menyilaukan, tapi tidak membuat udara terasa panas seperti malam biasanya.

Kuhentikan laju motorku di sebelah barat Monumen Pers. Tak jauh, hanya beberapa puluh meter dari bangunan bersejarah dan legendaris itu. Kuparkirkan motorku tepat didepan sebuah warung angkringan yang berlantaikan trotoar. Sejenak aku belum beranjak dari jok sepeda motor yang selalu mengantarku kemana saja. Kulihat spanduk yang tertempel di tenda berbentuk seperti atap yang melingkupi warung angkringan. Di spanduk itu tertulis ”Warung Angkringan Tukiyo Kemin”. Memang inilah warung angkringan yang juga legendaris itu, tak kalah dengan bangunan di sebelahnya.

Dari cerita yang kudengar, dulu banyak tokoh sering datang kongkow-kongkow di warung angkringan ini. Seperti Setiawan Djodi, W.S. Rendra, juga tokoh-tokoh lain. Ku dudukkan pantatku di kursi kayu panjang, sembari kupesan teh hangat pada bapak pemilik angkringan.

Sesekali sempat kuperhatikan suasana warung angkringan itu. Sekelompok orang datang, beberapa diantaranya menanyakan menu apa yang ada. “Nasi sambel bandeng ada, oseng ada,” jawab lelaki setengah baya sembari sesekali membenahi arang yang membara memanggang dua ceret berbentuk khas. Lelaki yang telah menjadi penjual angkringan sejak tahun 70 an itu tak lain adalah Tukiyo Kemin, sang pemilik warung.

Setelah memesan, kelompok-kelompok itu pun duduk pada kursi kayu panjang. Di depan mereka terhidang aneka makanan khas angkringan. Nasi kucing, sate usus, sate kikil, tempe dan tahu goreng maupun bacem, pisang goreng, beberapa jajanan pasar, dan banyak lagi. Sebagian dari mereka duduk bersila diatas tikar sembari menikmati menu yang telah dipesan.

Setelah beberapa saat duduk menikmati teh hangat dan Pak Kemin terlihat tidak begitu sibuk, barulah aku bisa sedikit ngobrol dengan ”Sang empunya angkringan”. Pak Kemin pun mulai bercerita. Sebelum di tempat ini, dia membuka warung angkringannya di seberang Monument Pers. Tepatnya di lokasi rumah dinas wakil walikota Solo saat ini.

Ia memutuskan pindah ke lokasinya saat ini sejak tahun 2007. Karena lokasi yang lama akan dibangun rumah dinas bagi wakil walikota. “Tidak masalah pindah. Gimana lagi, tempat itu juga bukan punya saya,” kata Pak Tukiyo yang biasa dipanggil Pak Kemin. Kemin adalah nama ayahnya.

Ayah tiga anak ini menuturkan bahwa usaha warung angkringan yang ia geluti ini meneruskan usaha ayahnya. Semula, ayahnya membuka warung angkringan di Monumen Pers, kemudian sejak tahun 1972 pindah ke lokasi rumdin wawali sebelum mulai dibangun tahun 2007. “Sejak tahun 1966 saya sudah mulai membantu bapak,” ungkap Pak Tukiyo Kemin yang malam itu mengenakan polo shirt putih.

Di lokasi barunya saat ini, warung angkringan ini tak sepi pengunjung. Kalaupun agak berkurang, itu karena sekarang sudah banyak warung-warung angkringan sejenis. “Sekarang sudah banyak, tidak seperti dulu,” kata kelahiran Ngreco, Weru, Sukoharjo tahun 1957 itu.

Pelanggan-pelanggan lama yang dari luar kota pun masih ada yang datang. Seperti dari Jakarta, Kudus, dan Semarang. Aku pun penasaran, benarkah dulu tokoh-tokoh sering datang ke sini. Maka kutanyakan langsung pada Pak Kemin. “Saya sendiri awalnya tidak tahu. Tahu-tahu ada yang memberi tahu saya kalau orang yang datang itu tokoh atau pejabat,” jawabnya. Pak Kemin membuka warung angkringannya dari pukul enam sore hingga dua pagi.

Selain menu-menu yang sudah biasa, ternyata ada yang khas dari menu yang disajikan di warung angkringan Pak Kemin ini, yaitu apolo. Yang ia maksud adalah jadah (dari beras ketan) yang diberi coklat. “Dari dulu sampai sekarang ada. Sudah lima puluh tahun pun ndak karatan. Karena buat baru terus,” selorohnya bercanda.

Sebelum kembali sibuk menyiapkan menu yang dipesan serta meracik kopi dan teh hangat, Pak Kemin masih sempat sesekali bercerita. Dari menjalankan usahanya itu, ia mampu mencukupi kebutuhan keluarganya, bahkan membiayai pendidikan anaknya hingga ke bangku kuliah.

Dan tak terasa, segelas teh hangat yang ku pesan tadi disusul juga apolo sudah hampir punah kupindahkan ke perutku yang kini tak lagi keroncongan. Aku pun kembali menembus udara jalanan yang sudah mulai dingin, tentu setelah membayar dan pamit kepada ”tuan rumah Pak Kemin”. –cahpesisiran, utk Harian Rakyat Merdeka-

[+/-] Selengkapnya...

Sunday, January 18, 2009

Gula Semut Tembus Pasar Amerika

Padi, buah-buahan, ataupun sayuran yang dihasilkan dengan pertanian organik? Sudah biasa! Tapi pernahkah mendengar penerapan sistem pertanian itu untuk menghasilkan gula kelapa?


Nah, itulah yang dilakukan para petani penderes yang tergabung dalam Jatirogo (Jaringan Petani Kulon Progo) di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Gula kelapa organik produksi mereka bahkan telah menembus pasar Amerika, dan kini bersiap menembus pasar Negeri Sakura.


Secara fisik, gula kelapa organik yang diproduksi Jatirogo dibuat dengan wujud berbeda. Disebut gula semut, yaitu berbentuk butiran-butiran kecil seperti gula pasir. Tetapi, ada juga yang dibuat berbentuk silinder.


Pembudidayaannya dilakukan dengan pupuk alami, proses pembuatan terkontrol dari alat, cara pengolahan, hingga penanganannya. Untuk menembus pasar mancanegara, tentu harus lolos uji standar dan sertifikasi mutu. September 2008 lalu, produk gula kelapa organik para petani Jatirogo telah mendapat sertifikat dari lembaga Control Union Belanda.


Selain itu, kontrol kualitas dilakukan juga melalui sistem kontrol internal atau ICS (Internal Controling System) oleh pengurus Jatirogo. ICS melakukan pengontrolan sarana, peralatan, dan proses pengolahan. Sedangkan dinas pertanian setempat mengontrol pemupukan.


“Di luar Kulon Progo ada yang menggunakan zat kimia sebagai pengental agar warna lebih cerah kekuningan. Tapi dalam 3 hingga 5 hari akan meleleh. Sedangkan gula kelapa organic, pengentalan menggunakan bahan-bahan alami seperti laru dari getah manggis,” ungkap Hendrastuti, koordinator Jatirogo yang juga menjadi koordinator ICS.


Gula kelapa organik diproduksi oleh 1.260 petani penderes di empat kecamatan di Kulon Progo yaitu Lendah, Samigaluh, Kokap, dan Girimulyo. Tahun 2009 direncanakan akan masuk juga kecamatan Kalibawang. Untuk bisa masuk, suatu daerah harus mengubah pola pertaniannya menjadi organik dengan masa transisi tiga tahun agar kondisi tanah kembali organik. Ditargetkan, tahun 2009 Jatirogo akan mempunyai 3.000 anggota petani penghasil gula kelapa organik, dengan bergabungnya satu kecamatan itu.


Proses untuk mendapatkan sertifikat dari lembaga Control Union Belanda tidaklah mudah, harus melewati pengujian atau inspeksi yang ketat bahkan sampai pengambilan sampel tanah. “Jadi tidak main-main. Ada satu petani penderes yang di sekitar pohon kelapanya terdapat pohon rambutan yang dipupuk dengan pupuk kimia, akhirnya tidak lolos. Beberapa petani di Kecamatan Kokap di sekitar lokasi penambangan emas juga tidak lolos, karena dikhawatirkan tercemar logam merkuri,” papar Hendrastuti.


Proses sertifikasi Control Union pun tidak singkat, perlu waktu empat bulan dimulai Februari 2008. Mencakup sosialisasi dan pendaftaran petani yang dilanjutkan dengan inspeksi eksternal dari control union. Inspeksi meliputi kondisi tanah, tanaman, peralatan, dan dapur pengolahan. Dalam proses tersebut, pengurus Jatirogo mengikuti sehingga mengetahui bagaimana standar yang harus diterapkan pada saat menjalankan sistem kontrol internal (ICS). Sertifikat akhirnya keluar bulan September 2008 lalu dari lembaga penguji dari Belanda tersebut.


Hendrastuti mengakui, proses sertifikasi control union sangat berat dan ketat. “Kita bisa lolos karena memang lingkungan belum tercemar zat kimia. Air belum tercemar, dan sebagian besar berada di pegunungan. Selain itu di sekitarnya tidak terdapat persawahan yang kebanyakan telah tercemar pupuk kimia,” katanya. Pengurus Jatirogo bertanggung jawab mengontrol dan menjaga kualitas, termasuk mendorong petani menjaga peralatan dan dapur yang higienis. ”Pengurus Jatirogo tiga bulan sekali melakukan pelaporan pengecekan ICS. Juga melakukan pelatihan tungku sehat,” imbuhnya.


Jatirogo sendiri terbentuk tahun 2000 mencakup 12 kecamtan di Kulon Progo. Pada awalnya, mengembangkan tanaman padi organik dengan bibit padi lokal, bertujuan memperbaiki kondisi tanah. Sejak Juli 2008 Jatirogo mulai memproduksi gula kelapa organik dengan pemasaran ke sebuah perusahaan di Bali. Setelah lolos sertifikasi, pemasaran dapat menjangkau Amerika Serikat melalui perusahaan di Bali tersebut.


Kapasitas produksi untuk pengiriman ke Amerika sebanyak 20 ton per bulan. Ke depan pemasaran juga akan meluas ke Jepang yang saat ini sedang proses penjajakan pemesanan. “Konsumen dari Jepang juga berminat akan memesan,” ungkap Hendrastuti. Selain itu pasar lokal di Yogyakarta juga sudah berjalan meskipun kuantitasnya masih sedikit. Pengembangan pemasaran lokal akan dilakukan ke pusat-pusat perbelanjaan.


Pengelolaan gula kelapa organik yang dilakukan terkoordinasi dalam jaringan petani Jatirogo dimaksudkan agar dapat mengangkat kehidupan ekonomi para petani. Selain itu agar hasil kerja petani penderes bisa lebih dihargai. “Penderes itu kan harus kerja keras memanjat pohon kelapa. Itu berisiko. Bahkan hujan pun harus tetap memanjat untuk nderes (mengambil nira),” kata ibu dua anak tersebut.

Dengan dikelola secara terkoordinir dengan sistem pertanian organik, kehidupan para petani pun terangkat. Harga gula kelapa organik bisa lebih tinggi dari harga gula kelapa anorganik. Per kilogram harga jual dari petani bisa mencapai Rp 8 ribu, sedangkan anorganik saat ini hanya Rp 6.500.


Selain itu, dengan dikoordinir dalam jaringan Jatirogo, harga bisa terstandar dan stabil tidak terpengaruh naik turunnya harga gula di pasaran. “Pada saat harga gula di pasaran turun sampai Rp 4 ribu pun harga beli dari petani tetap harga standar Rp 8 ribu per kg,” ungkap Hendrastuti seraya manambahkan bahwa harga gula di pasaran selama setahun hanya bagus dua bulan saja. Dalam sehari rata-rata para petani gula kelapa organik Jatirogo dapat menghasilkan 2,5 hingga 3 kilogram gula.


Kendala yang dihadapi, kata Hendrastuti, disamping kendala peralatan adalah kurang bisa seragamnya hasil produksi karena dikerjakan oleh masing-masing petani penderes. “Tapi kita selalu melakukan pengecekan dan mendorong menghasilkan kualitas produk sebaik mungkin,” ungkap warga Turus, Tanjungharjo, Nanggulan, Kulon Progo tersebut. Sementara mengenai bantuan, dinas terkait diharapkan dapat memberikan bibit unggul lokal untuk regenerasi tanaman kelapa.


Kebanyakan pohon kelapa yang saat ini berproduksi adalah warisan dari petani generasi sebelumnya. Meski pohon kelapa dideres untuk menghasilkan gula, -yang berarti tidak bisa berbuah- namun para petani tetap dapat melakukan regenerasi pohon. “Dari semua pohon kelapa yang dimiliki tidak semuanya dideres. Ada beberapa pohon yang dibuahkan, itu bisa sebagai pembibitan,” ujar isteri dari Pujono tersebut.


Selain pengembangan gula kelapa organik di empat kecamatan itu, jaringan Petani Kulon Progo (Jatirogo) saat ini juga masih mengembangkan padi organik lokal di kecamatan lainnya. Jenis padi lokal yang diusahakan antara lain Menthik Wangi, Pandan Wangi, Menthik Susu, Somali, Slegreng, Beras Merah, Ketan Ireng, Wiji Lestari, Rening, dan Rojo Lele. “Jadi pengembangan pertanian organik dilakukan sesuai potensi masing-masing wilayah atau kecamatan. Seperti umbi-umbian organik di Kecamatan Pengasih, dan padi organik di Nanggulan dan Galur,” tandas koordinator Jatirogo yang telah berbadan hukum sejak tahun 2003 tersebut. –cahpesisiran utk majalah saudagar-


[+/-] Selengkapnya...

Rintisan Saat Respons Pasar Kurang Bagus

Salah satu petani pembudidaya gula semut yang menjadi perintis di Kulon Progo adalah Sugiyo. Ia mulai membuat gula semut pada tahun 1985. Namun setelah berjalan dua tahun, pada 1987 ia memutuskan untuk menghentikan produksi.


“Tanggapan pasar waktu itu belum bagus, sehingga saya berhenti,” ungkap warga Penggung, Hargorejo, Kokap, Kulon Progo tersebut. Namun sepuluh tahun kemudian setelah harga gula pasir (gula tebu) mengalami kenaikan tinggi, ia pun kembali memproduksi gula semut pada 1997.


Bekerja keras memulai usaha dari nol pun harus dijalani. “Ibaratnya seperti mendidik dari bayi baru lahir sampai sarjana,” ungkap peraih penghargaan ketahanan pangan dari presiden SBY tahun 2007 tersebut. Sugiyo kemudian membentuk kelompok Sumber Rejeki yang saat ini beranggotakan 22 petani di desa Hargorejo dengan sistem plasma-inti. Total luas lahan mencapai sekitar 60 hektar dengan kapasitas produksi 6 hingga 8 ton per bulan.


Selain dalam negeri, pemasarannya telah mencapai Amerika Serikat melalui Jaringan Petani Kulon Progo (Jatirogo). “Sebenarnya sebelum sertifikat dari control union Belanda keluar, saya sudah bisa menembus pasar Amerika dan Jepang. Pada waktu mengambil produk, konsumen melakukan uji mutu. Dan produk saya bisa lolos walaupun waktu itu belum bersertifikat,” ungkap Sugiyo yang juga menjadi Community Organizer Jatirogo di kecamatan Kokap. Sedangkan pemasaran dalam negeri meliputi Yogyakarta, Jawa Tengah, Jakarta, Riau, dan Bali.


Untuk bisa menembus pasar Amerika dan Jepang, ungkap Sugiyo kualitas memang harus benar-benar baik. “Dengan kondisi alam pegunungan, gula kelapa secara otomatis 90% sudah organik, tinggal pengelolaan dan pengolahannya harus benar-benar bagus,” imbuhnya. Dalam proses produksi, Sugiyo lebih memilih menggunakan bahan bakar kayu. Selain pemanfaatan sumber energi terbarukan juga lebih alami. Untuk menjaga kebersihan dapur, ia membuat tungku dilengkapi dengan cerobong asap. Dengan begitu asap pembakaran bisa terbuang keluar dan tidak mengotori dapur produksi.


Disamping memproduksi gula semut natural tanpa campuran, Sugiyo pun melakukan inovasi produk dengan menambahkan sari empon-empon (rempah-rempah), seperti jahe, kunyit, dan kencur. “Selain memberi rasa khas juga mempunyai khasiat sesuai kandungan empon-emponnya,” kata lelaki yang juga meraih piagam penghargaan dari Muri sebagai pembuat gula kelapa terbesar berukuran tinggi 3,5 m diameter 3 m, berat 3 ton, pada tahun 2002 tersebut. Tidak hanya itu, pengembangan produk pun dilakukan dengan memproduksi juga Virgin Coconut Oil (VCO) dan sirup empon-empon.


Pengembangan usaha gula semut yang ia lakukan, ungkap Sugiyo, tidak semata-mata untuk kepentingannya sendiri. Ke depan ia berharap usahanya bisa lebih memberdayakan masyarakat banyak hingga dapat meningkatkan taraf hidup, pendapatan, dan pengembangan ketrampilan masyarakat. “Sukur-sukur bisa membantu program pemerintah mengentaskan kemiskinan,” pungkas lelaki yang menekankan pentingnya kejujuran dan moral pada para angota kelompoknya tersebut. –cahpesisiran utk majalah saudagar-

[+/-] Selengkapnya...

Thursday, December 04, 2008

terserak



detik meloncat lewati hari
bulan pun melesat berganti tahun
kemarin tunas hijau tumbuh dan mekar
esok, daun kering terserak
penuhi tanah yang telah berlumut

kemarin tanah itu berdebu
tersengat panasnya mentari kemarau
pagi tadi hujan menjamu lumut
untuk kembali menghijau

debu berteriak,
“air membuat angin tak mampu lagi menerbangkanku”

daun kering pun berlari
coba meraih kembali waktu
yang perlahan menghancurkannya menjadi remah

"aku bukan untuk kau kejar,
tapi untuk tidak kau siakan”
waktu berlalu

[+/-] Selengkapnya...

Award Lagi..

Beberapa award (dan tag) berbondong-bondong dikirimkan ke blog saya oleh seorang kawan, Fatamorgana. Tentu saja award dan tag itu merupakan sesuatu yang berarti dan berharga buat saya.

Salah satu dari award itu telah saya lihat terpampang sebelum saya memperhatikan pemberitahuan dari pemilik blog, juga sebelum saya membaca postingannya. Jujur, saya tertarik dengan award itu begitu melihatnya. (walah koyo opo wae to cah?) Bahkan saya kemudian berandai-andai, jika saja saya mendapatkan award itu tentu saya merasa senang sekali. Karena, itu berarti saya juga akan bisa memberikan sebuah penghargaan kepada blog-blog yang menjadi favorit saya. Dan setelah membaca postingannya, ternyata saya juga mendapat bagian award itu. Hehe.. andai-andaiku ternyata terwujud.



Sekarang saya mendapat kesempatan untuk memberikan sesuatu kepada blog-blog favorit. Mereka adalah:


Thinking Out Of The Box
Blogger Addicter
Andimujahidin
Ipanks
Cerita Senja
Gadis Rantau
Speak Up With Ivana
Fatamorgana

Selain itu ada juga award dan tag ini











yang saya bagi juga untuk teman-teman:

Krucial
Astrid Savitri
Dee
Gelly
Acy
Ryan
Apiscerana
Liputanone
Linagoresan
Aan
David

ps: bagi yang sudah mendapatkannya, gak masalah bos.. tidak harus diposting kok, saya tetap memberikan award ini sebagai pemberian yang ikhlas.

[+/-] Selengkapnya...

Monday, November 24, 2008

Nilam nan Harum Mewangi

Menguak Harumnya Atsiri Nilam

Berapa pun jumlah minyak atsiri nilam pasti diserap pasar. Dipicu oleh misi sosial. Harus terintegrasi, mulai dari pembibitan, penanaman, pascapanen, dan penyulingan.

AROMA harum langsung tercium ketika memasuki lahan pembibitan nilam di Dusun Sambiroto, Desa Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Lahan menghijau di areal persawahan milik Lesto Kusumo itu telah dikembangkan sejak 2004. Ayah satu anak ini mulai terjun pada budidaya nilam tahun 2000 di Bandung. Kini, ia mengembangkan usahanya di Kalasan, Prambanan, dan Magelang.

Ketertarikan Lesto mengembangkan tanaman nilam dipicu oleh misi sosial. Di Jawa, rata-rata petani hanya memiliki lahan seluas 1.000-2.000 meter persegi. Dari perhitungannya, para petani akan lebih diuntungkan membudidayakan tanaman nilam dibanding tanaman lain. “Dari seribu meter persegi, misalnya, dapat ditanami dua ribu bibit. Dengan harga jual Rp 1.000 per kg, setiap empat bulan (masa panen) mendapatkan Rp 2 juta. Dipotong biaya operasional sekitar Rp 350 ribu, maka per siklus petani memperoleh keuntungan Rp 1.650.000,” ujar Lesto.

Itu perolehan pada panen pertama. Kala panen ke empat kalinya, jumlah nilam yang diperoleh meningkat dua kali lipat, dan panen ke delapan meningkat lagi tiga kali lipat,” Lesto menambahkan. Dari kalkulasi tersebut betapa menggiurkan hasilnya.

Pertama kali tanam, Lesto mengambil bibit dari beberapa petani setempat. Ternyata hasilnya tidak memuaskan. Selain hasil panen nilam tidak maksimal, usia bibit juga tidak bertahan lama. Setelah dua kali panen produksi langsung menurun. Dari situ kemudian terpikir oleh Lesto membuat usaha secara terintegrasi, mulai dari pembibitan, penanaman, pascapanen, dan penyulingan.

Jadi dibagi tiga divisi. Divisi yang bertanggung jawab pada pembibitan dan penanaman. Divisi pascapanen bertanggung jawab pada waktu panen, pengeringan dan pemotongan. “Dan, divisi yang bertanggung jawab pada penyulingan, yang menghasilkan minyak atsiri berkualitas, yang bisa diterima oleh pangsa pasar,” ungkap alumni jurusan perminyakan Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta tersebut.

Minyak atsiri nilam produksi Lesto lebih mahal dibanding harga pasar. “Karena kualitas dari penyulingan dijaga kebersihannya, modernisasi perlengkapan dan sebagainya. Itu yang kita tekankan, sehingga bisa masuk kualitas ekspor,” tambah laki-laki kelahiran Bandung, 1972 tersebut. Harga minyak nilam produksinya mampu menembus Rp 50 ribu – 150 ribu di atas harga pasar. Saat ini, per kg minyak nilam dihargai Rp 400 ribu.

Dalam bisnis ini, Lesto bekerja sama dengan perusahaan dari Jepang, Prancis, Swis, dan Singapura untuk ekspor minyak nilamnya. Kapasitas produksinya per bulan mencapai 200 kg. Direncanakan, November 2008 dan Maret 2009 dilakukan peningkatan produksi hingga mencapai target per bulan 400 kg. “Dengan perluasan lahan dan penambahan kapasitas penyulingan,” imbuhnya.

Meski begitu Lesto merasa belum berhasil, sehingga ia pun mengalokasikan anggaran untuk R&D (reseach and development). “Sebagian yang kita dapat, kita putar lagi untuk R&D. Untuk mendapatkan tanaman dan minyak nilam yang berkualitas,” kata Lesto yang juga berprofesi sebagai konsultan di bidang perminyakan dan petrokimia itu.

Dalam usaha nilam, menurut dia, yang paling utama adalah bibit, karena akan menentukan kadar kualitas dan rendemen minyak. Untuk mencapai bibit unggul dia melakukan penelitian bibit selama satu tahun dan berhasil. Bahkan Aceh yang merupakan sumber nilam mengambil bibit darinya. Juga sebagian petani di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.

Kapasitas produksi bibit per bulan berkisar 100 - 200 ribu bibit. Pesanan terbesar dari luar Jawa. Untuk Sumatera rata-rata per bulan menyerap 50 ribu bibit, begitu pula Kalimantan. “Pernah terima permintaan bibit sampai sejuta buah,” kata Lesto yang berharap tahap research bisa selesai tahun ini, selanjutnya tinggal pengembangan.

Proses pembibitan dilakukan dengan mekanisme standar sesuai pengalaman. Bibit yang dilepas, sebelumnya diujikan di lahan kering dengan pengairan dan pupuk minimal. Dan, ternyata tingkat kematiannya kurang dari 10%. Biasanya yang terjadi tingkat kematian dari perpindahan bibit ke lahan 50%, dan kematian setelah ditanam 50% lagi.

Dalam budidaya nilam ini Lesto melibatkan petani 15 orang di Yogyakarta dengan masing-masing mengelola seribu hingga dua ribu meter persegi lahan. Sedangkan di Magelang sekitar 20 orang dengan total luas lahan sekitar 40 – 48 hektare. “Lahan pertanian dengan sistem kerja sama dengan petani,” katanya. Karena misi pertamanya untuk mengangkat petani setempat. “Jadi kami koordinir para petani dengan lahan mereka masing-masing,” papar lelaki yang juga sebagai koordinator penanggulangan bencana daerah Jateng-DIY Kelompok Balerante 907 tersebut.

Sementara jumlah karyawan dengan sistem penggajian sekitar 25 orang di bagian penyulingan dan laboratorium bibit. Demi misi sosial, area penyulingan dan laboratorium pembibitan (seluas setengah hektare) pun ia sewa dari warga. Selain bibit, Lesto juga meriset sistem produksi dan hasil olahan minyak atsiri nilam. “Hasil olahan ini berupa aroma therapy. Baru mulai membuka pasar, dan permintaan dari luar negeri sudah cukup banyak.” Harga produk tersebut berkisar Rp 90 ribu hingga Rp 160 ribu per kemasan 200 mililiter. Antara lain, berupa Pure Essentiao Oil, Pure Essential Oil Blending, Low Concentration, Body Oil, Body Lotion, dan Massage Oil.

Selain itu dari peralatan penyulingan yang ia rancang juga menghasilkan hidrosol, di luar minyak nilam. “Hidrosol sebagai bahan dasar kosmetik. Lebih murah dibanding menggunakan bahan dasar minyak nilam. Ini bisa menjadi pendapatan tambahan. Di luar negeri pun harganya cukup tinggi. Rp 40 ribu per liter di dalam negeri, sementara di luar negeri sekitar Rp 400 ribu – Rp 500 ribu. Kita mulai mengenalkan pada beberapa industri kosmetik dan mereka sudah mulai mengambil,” paparnya.

Omset dari kapasitas produksi atsiri nilam 200 kg per bulan ditambah produk lain bisa mencapai hampir Rp 200 juta. “Tapi kita alokasikan juga keuntungan untuk R&D bisa dikatakan 30-40%,” ungkapnya. Sementara total aset dari usahanya saat ini, Lesto mengaku Rp 1,8 milyar termasuk untuk research and development.

Asalkan menjaga kualitas, prospek usaha nilam ke depan masih akan bagus. “Minyak nilam ini seperti kacang goreng, laris. Berapa pun yang kita punya pasti habis,” pungkas Lesto yang mengembangkan dua jenis tanaman nilam tapak tuan dan sidi kalang tersebut. –cahpesisiran, telah diedit utk majalah saudagar-

Baca juga: Kalkulasi Bisnis Nilam

[+/-] Selengkapnya...

Kalkulasi Bisnis Nilam

INVESTASI nilam tidak sedikit biayanya. “Tetapi bila berjalan, banyak masyarakat yang tertolong karena padat karya,” kata Lesto. Bagaimana dengan perhitungan modal?

“Kalau mau memulai usaha nilam secara terintegrasi, diperhitungkan dari alatnya dulu. Direncanakan mau memproduksi berapa banyak minyak nilam per minggu. Setting alatnya. Dari situ kemudian diseting luasan lahan tanaman nilam yang dibutuhkan. Untuk 1 kg bahan kering harus dikalikan empat,” papar Lesto.

Contoh. Untuk kapasitas alat 200 kg dengan dua kali penyulingan sehari, paling tidak membutuhkan lahan 16 hektare. Dan bisa ditambahkan lagi peralatan sampai kapasitas 800 kg, sehingga sehari dapat menyuling 1.600 kg. “Dengan kapasitas 200 kg, minimal dibutuhkan 12 hektare lahan. Kelipatan berikutnya sama. Return dari investasi lahan dan peralatan tidak sampai dua tahun sudah kembali, walaupun harga naik turun,” paparnya.

Untuk sehektare lahan paling tidak biaya investasinya Rp 35-40 juta. Kalau sehektare ditanami 25 ribu bibit, dan rata-rata produksi--dengan penanaman yang baik-- 1 kg dari 1 pohon, maka akan menghasilkan 25 ton. Harga 1 kg tanaman nilam Rp 1.000 atau berarti Rp 25 juta. Biaya lahan dan bibit kurang lebih Rp 40 juta. Berarti dua kali panen, sudah kembali modal.

Tapi untuk biaya perawatan dan sebagainya dihitung tiga kali panen atau setahun baru kembali modal. Pada tahun berikutnya sudah murni pendapatan. “Jadi setahun BEP, tapi secara linear kita anggap saja dua tahun BEP,” jelasnya. Demikian juga untuk alat, dengan tiga kali panen atau satu tahun sudah tertutup. Dengan demikian, pada lahan 16 hektare dibutuhkan biaya Rp 30 juta x 16 = Rp 480 juta. Ini anggaran untuk lahannya saja.

Untuk kebutuhan alat, 1 boiler Rp 90 jutaan. Autoklep Rp 60-70 juta. Kalau punya dua autoklep atau alat penyulingan berarti Rp 120 juta + Rp 90 juta = Rp 210 juta. Ditambah instalasi dan lain-lainnya sekitar Rp 40 juta, total Rp 250 juta. Kemudian plus anggaran lahan Rp 480 juta = Rp 700 juta. “Total anggaran tersebut tahun kedua sudah kembali. Tanaman nilam dapat hidup sampai umur tiga tahun. Tahun kedua hingga ketiga murni keuntungan,” ujar Lesto. Menggiurkan bukan? –cahpesisiran, telah diedit utk majalah saudagar-

Baca juga: Menguak Harum Bisnis Atsiri Nilam

[+/-] Selengkapnya...