Wednesday, August 06, 2008

sebuah paket untukku

Tidak seperti lirik sebuah lagu “terbangun di pagi ini, jalani hari seperti kemarin. tak ada yang pernah berubah..” (ga’ persis seperti ini sih, tapi intinya sama), hari ini aku mendapatkan sebuah paket dari seorang kawan.

Di pagi yang cerah hari ini, kompi kembali melambaikan tangannya kepadaku tuk menatap wajah bersinarnya. Aku pun tak kuasa menolak, dan ternyata dia memberikan kabar kepadaku. Seorang kawan telah mengunjungi rumah mayaku dan meninggalkan pesan, sebuah undangan untuk berkunjung balik ke ‘rumah’ nya. Aku bergegas memenuhi undangan itu. Dengan senyumnya sang pemilik rumah pun menyambut. Ternyata aku diberi kehormatan untuk menerima sebuah award. “Great Buddy Award” itulah nama penghargaan yang diberikan oleh seorang kawan dengan senyum ramahnya (ciee) kepadaku. Thanks Acy. Dan beberapa hari kemudian aku juga mendapatkan award dari Ney Candy (makasih ya..).

Dan aku ingin membagi Great Buddy Award ini dengan kawan-kawan:

  1. Mbah Im, yang selalu memberi inspirasi.
  2. Land Jangkrik ngerik, yang tak kenal lelah mengabarkan pernikahan kawan kepadaku (kekkekek..).
  3. Jk Yuliantoro, yang mengajarkanku menghargai waktu (jangan tanya kapan nyusul..). thaks 4 d friendship bro!
  4. Groengerine, teman berbagi castle (thanks 4 d lyric.. hehe).
  5. Gadis Rantau, yang selalu menghembuskan sapa dari seberang.
  6. Ivana, teman berbagi pemikiran.
  7. Sita, kawan berjuang di negeri bengawan.

This is the rule :
1) Put the logo on your blog.
2) Add a link to the person who awarded you.
3) Nominate at least 7 other blogs.
4) Add links to those blogs on yours.
5) Leave a message for your nominees on their blogs.

Nb: bwt teman-teman yang belum tersebut pada list, bukan berarti aku tidak berbagi award ini dengan kalian. Tanpa award pun kita ‘kan selalu berbagi. iya kan? (duh.. sok romantis).

Saturday, August 02, 2008

tanda-tanda alam

Di awal musim kemarau beberapa bulan lalu…

Bocah 1: Hoi garengpung!!!!
(menyapa bocah 2 yang sedang menamakan diri garengpung setelah mendengar ocehan serangga-serangga itu di pekarangan belakang rumahnya)

Bocah 2: Hoei juga.... Aku datang, maka kemarau pun akan segera datang...

Bocah 1: Wah jan ilmu titenmu sip.
(Wah ilmu titen mu hebat)

Bocah 2: Sekedar membaca tanda-tanda alam..

Bocah 1: We ek ek ek.. meh nyaingi madam Lauren..?
(Mau menyaingi madam Lauren?)

Bocah 2: Yen aku melu ngelmune Mbah Maridjan wae..
(Kalau aku ikut ilmunya Mbah Marijan aja. -Mbah Marijan: juru kunci gunung Merapi-)

Bocah 1: Wah cari profesi alternatif setelah pensiun ya?

Bocah 2: Lumayan nggo samben..
(lumayan untuk sampingan)
Mungkin ada yang mau kau konsultasikan tentang tanda-tanda alam nak?

Bocah 1: Piye (gimana) mbah berdasarkan tanda tanda alam, temenku yang di Yogya sekarang lagi musim apa?

Bocah 2: Berdasarkan angin yang berhembus ke arah timur.. temenmu yang di Yogya lagi musim ngobrol (suka ngobrol) dengan seseorang di arah timurrr...

Bocah 1: *tersipu*

Bocah 2: Wah ki aku iso nyaingi Mbah Hadi no ya...
(wah aku bisa menyaingi Mbah Hadi ya.. -Mbah Hadi : KRH Darmodipuro, kepala museum Radya Pustaka Solo, pakar ilmu pawukon-)

Bocah 1: Mbah, kapan koncoku iku dolan nang Solo, terus bawa oleh-oleh buat aku?
(Mbah kapan temenku bisa maen ke solo, dan membawa oleh-oleh untuk ku?)

Bocah 2: Jika kelak di Yogya telah tumbuh buah pear.. dia akan membawakannya untukmu..
Tapi sungguh sayang nak.. buah pear tidak bisa tumbuh di kawasan Yogya..

Bocah 1: Waduh !!! Betapa malangnya aku!!
He he.. koe pindah Solo wae nggenteni Mabah Hadi...
(Kamu pindah Solo aja, menggantikan Mbah Hadi)

Bocah 2: Wah yen pawukon aku isih rung terlalu lanyah je.. ki sih meguru karo mbah buyut..
(Wah kalau ilmu pawukon –hitungan penanggalan Jawa- aku masih belum mahir. Ini masih belajar sama nenek buyut)

Bocah 1: Yo banyak belajar, po perlu tak colongne primbone Mbah Hadi?
(Ya banyak belajar. Apa perlu ku curikan buku primbon-nya Mbah Hadi?)

Bocah 2: Gelem, tapi khawatire yen malah katut keseret dadi pesakitan lho.
(Mau, tapi khawatirnya malah ikut terseret jadi pesakitan. –beberapa waktu lalu Mbah Hadi terseret kasus pencurian arca-)
*mengernyitkan dahi*

Bocah 1: Malah seneng no iso mangan tidur gratis.
(Malah seneng dong, bisa makan tidur gratis)

Bocah 2: Iyo sih.. tapi yo sekalian dadi panganan nyamuk-nyamuk..
(Iya sih.. tapi juga sekaligus jadi makanan nyamuk-nyamuk)

Bocah 1: Yo saling memakan aja... biar sama-sama untung.

Bocah 2: *huh*
Tapi jare (kata) Mbah Marijan.. yen (kalau) nyamuk berdatangan, itu suatu pertanda....
bakalan banyak orang terkena gatal-gatal..

Bocah 1: *ennggg...* Ya iya lahhhhh....!!

Bocah 2: Hehe.. namanya juga bo'ong-bo'ongan.. *nyengir*


Sudah sejak lama manusia mencoba memahami alam dengan membaca tanda-tanda yang ada. Sepeti memprediksi datangnya musim kemarau atau penghujan, datangnya badai, gunung meletus, dan lain sebagainya. Tanda-tanda yang biasa dibaca oleh masyarakat tradisional bermacam memang, mulai dari perilaku binatang, tumbuh-tumbuhan, hingga arah angin.

Sepertinya alam memang memberikan ciri-ciri atau pertanda sebelum terjadinya sesuatu (bencana misalnya), tinggal bagaimana kejelian manusia mencermati untuk mewaspadainya. Jadi alangkah indahnya kalau manusia bisa hidup selaras dengan alam dan menjaganya, bukan justru merusaknya.

Thursday, July 24, 2008

Wiji tuwuh


Melintasi Kawat Berduri

tak mudah memang, menggapai apa yang diingini
harus bersabar
pun terkadang harus merangkak dan merayap
belum lagi rintangan yang mesti dihadapi.

tetapi bukankah buah semangka yang memerah,
dihasilkan oleh batang yang tumbuh merambat..

Tuesday, July 22, 2008

Shopping Center Yogyakarta

Konon Pernah Jadi Pusat PKL Buku Terbesar se-Asia Tenggara

BERKUNJUNG ke Yogyakarta tidak lengkap rasanya jika tidak mampir ke Kios Buku Taman Pintar, atau yang lebih dikenal dengan nama Shopping Center. Memasuki Jalan Sriwedari -pararel di sebelah timur Jalan Malioboro- deretan kios-kios yang memajang beragam buku akan langsung terlihat.

Buku yang dijual bermacam-macam, dari buku baru hingga buku bekas. Tiap kios memiliki spesifikasinya masing-masing, dari buku-buku umum, religi, buku pelajaran, hingga novel dan komik. Tak hanya itu, di Shopping center juga tersedia berbagai kebutuhan untuk mahasiswa, dari kliping artikel dan makalah-makalah bekas untuk referensi mengerjakan tugas, hingga buku-buku penunjang kuliah.

Ada 124 kios yang tertata rapi di dua lantai. Para pedagangnya tergabung dalam Koperasi Pedagang Buku (Kopaku Taman Pintar), yang dibentuk sekitar tahun 1988. Jika dibanding harga di toko-toko buku, harga buku di shopping center relatif lebih murah. Untuk buku-buku baru rata-rata diambil langsung dari penerbit, dengan pengambilan keuntungan yang kecil. “Harga di sini jelas lebih rendah. Dari keuntungan yang diambil kan kecil 2,5 – 5 %. Tapi di sini merekrut pelanggan sebanyak-banyaknya. Sehingga walau keuntungan sedikit tapi omzet penjualan lebih banyak dibanding di toko buku,” ungkap Harjono, sekretaris Kopaku Taman Pintar yang juga berjualan buku sejak 1989 tersebut.

Hampir setiap hari shopping center selalu ramai dikunjungi calon-calon pembeli, terlebih lagi pada akhir pekan yaitu Jumat hingga Minggu. Bahkan tidak sedikit pula pembeli yang datang dari luar kota Yogyakarta. Bagi sebagian orang, Shopping Center bisa dijadikan sebagai alternatif pilihan ketika di toko-toko buku tidak bisa menemukan buku yang dicari. “Ada buku yang tidak ada di toko, ternyata bisa ditemukan di sini,” ungkap Muhammad Shokheh, mahasiswa Pasca Sarjana UGM asal Magelang.

Bahkan Shokheh mengaku sering pula mendapat buku menarik yang sebenarnya tidak dicari. ”Setelah melihat-lihat dan tertarik dengan suatu buku, selagi ada dana langsung saya beli,” kata Shokheh di sela perburuannya terhadap salah satu buku Syekh Nawawi al-Banteni (tokoh intelektual muslim).

Lain lagi dengan Endang Warti, mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta ini lebih sering mencari kliping artikel untuk bahan tugas kuliah. “Kalau ada tugas pasti ke sini, hampir tiap 2 atau 3 minggu sekali,” ungkap mahasiswi semester dua tersebut. Selain mencari artikel, Endang mengaku sering juga mencari buku-buku yang berkaitan dengan kuliah. Mengenai harga, “Di sini biasanya lebih miring,” kata gadis asal Magelang tersebut. Bagi mahasiswa, shopping center juga merupakan tempat alternatif untuk mendapatkan buku bekas yang tentu saja harganya jauh lebih murah dibanding buku baru.

Menurut Harjono, shopping center memang lebih lengkap dibanding pasar buku yang ada di kota-kota lain. Bahkan konon, tahun 80an Mahathir Muhammad (mantan PM Malaysia) pernah berkunjung ke shopping center pada waktu masih di lokasi lama, tentu saja kunjungan tidak resmi. Pasalnya, gaung shopping center waktu itu sebagai pusat pedagang kaki lima khusus buku terbesar di Asia Tenggara.

Tak hanya buku-buku bekas untuk perguruan tinggi yang ada di shopping center. Jika beruntung, para kolektor bisa juga mendapatkan buku-buku kuno dan langka di shopping center. “Paling banyak yang dicari buku kuno, seperti babad-babad dari pujangga-pujangga. Biasanya untuk perpustakaan,” ungkap Bu Abbas yang lebih mengkhususkan menjual buku-buku lama.

Mengenai harga buku lama, tergantung ketebalan dan kelangkaannya. “Semakin langka semakin mahal,” ungkap ibu lima orang anak yang pernah menjual buku kuno seharga Rp 2,5 - 3 juta untuk satu buku tersebut. “Itu buku kuno berhuruf Jawa. Kalau sudah laku sulit untuk mendapatkan lagi,” papar wanita yang merintis usaha jualan buku pada tahun 1965 bersama suaminya tersebut. -cahpesisiran-

Sunday, July 20, 2008

Oleh-oleh dari kawan


Berada tertinggi
ketika pandang begitu lega
ketika senyum mentari memberi harapan
ketika dingin dan kabut terasa hangat menyapa










Lembah hijau terhampar
wuihh.. serasa ingin terbang.
i believe i can fly
i believe i can touch the sky
i think about it every night n day
spread my wings n fly away
i believe i can fly..
-R Kelly-






Jejakkan langkah
susuri jalan setapak berbatu
teguhkan tekad
di atas ada asa
Eh.. Green grass around..!!!
ternyata banyak yang bisa dinikmati
meski harus melewati jalan terjal berliku






Saatnya kopi susu cokelat hangat
apa yang ada dalam ranselmu- kawan?
sekedar pengganjal perut dan pelepas dahaga,
ambillah sobat.










Senyap
ada kekuatan di balik kesunyian
ada kekuatan di balik keteguhan hati.









Land, Mbah Im, n Avrilia, Hatur nuhun bwt foto-fotonya..

Foto: Gunung Sindoro dan Sumbing (Polo Pala - Land n Mbah Im cs)
Danau Toba (Avrilia w)


Thursday, July 03, 2008

Gerabah Kasongan

Turun-temurun, Dari Perkakas Rumah Tangga Hingga Keramik Hias

MEMASUKI kampung Kasongan, di halaman-halaman rumah dan pekarangan warga dengan mudah akan terlihat gerabah berbagai bentuk dan ukuran. Baik yang masih alami berwarna merah bata, ataupun yang telah dilakukan finishing dengan pengecatan beraneka warna atau teknik finishing lain. Di sudut-sudut kampung akan terlihat pula tungku-tungku pembakaran. Jika tertarik, wisatawan dapat pula turut membentuk tanah liat menjadi gerabah bersama para perajin.

Desa Wisata Kasongan terletak di Dukuh Kajen, Banguntapan, Kasihan, Bantul Yogyakarta. Di dukuh seluas 49 hektar berpenduduk 1.556 jiwa tersebut, 95% warganya bermata pencaharian sebagai perajin gerabah, sedangkan sisanya petani dan PNS. Pembuatan gerabah di Kasongan memang telah diwariskan secara turun temurun dari generasi terdahulu hingga kini.

-berawal dari perkakas rumah tangga-
Pada awal mulanya, gerabah yang diproduksi warga Kasongan hanya berupa perkakas rumah tangga seperti kwali, cobek, anglo, keren (tungku untuk memasak dengan kayu bakar), dan perkakas lain. Namun setelah dikembangkan sebagai desa wisata, variasi produk gerabah pun berkembang hingga ke gerabah-gerabah hias seperti guci, berbagai patung, meja kursi, dan berbagai hiasan lain.

“Kerajinan gerabah telah turun-temurun digeluti warga. Kemudian mulai berkembang setelah ada arahan dari para tokoh seniman seperti masalah desainnya,” kata Kepala Dukuh Kajen, Muh. Hadi Suprojo.

Buang Mudiarjo misalnya, perajin gerabah yang telah memulai usahanya sejak 1965 mengaku belajar menjadi perajin gerabah dari orangtuanya. Gerabah yang dihasilkannya mulai dari perkakas rumah tangga hingga gerabah hiasan. “Yang paling diminati wisatawan seperti guci, loro blonyo (patung pengantin), dan patung Budha. Harga gerabah berkisar Rp 5 ribu - 500 ribu,” ungkap ayah empat orang anak tersebut. Kerajinan gerabah di Kasongan mulai berkembang setelah dibangunya jembatan di sisi timur kampung pada 1972, sehingga bisa menghubungkan ke kota Bantul dan daerah lain. “Sebelum tahun 72 susah karena belum ada jembatan. Untuk menjual gerabah harus menyeberang sungai. Dulu hanya dijual di pasar-pasar tradisional sekitar,” kenang lelaki kelahiran 55 tahun lalu itu.

Kini, Buang memasarkan 85% gerabahnya hingga ke mancanegara seperti Belanda, Thailand, dan Venezuela. “Mulai ekspor sejak tahun 1990. Awalnya menawarkan ke turis-turis yang berkunjung ke sini, kemudian mereka mulai memesan,” papar lelaki yang menekuni kerajinan keramik bersama puteranya tersebut. Sementara untuk pasar dalam negeri antara lain Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Bali.
Bahan baku tanah liat, didapat Buang, dari Kasongan, Godean, Kebumen, dan Imogiri.

-koperasi untuk pengembangan-
Untuk pengembangan Gerabah di Kasongan, para perajin dan pengusaha membentuk wadah berupa koperasi yang beranggotakan 581 perajin/pengusaha. Wadah yang bernama Kopersi Industri Seni Kerajinan Keramik (Kopinkra) Setya Bawana tersebut terbentuk pada 10 Agustus 2006. Sebenarnya cikal bakal dari koperasi telah ada sejak 1984 berupa kelompok campur sari Setya Bawana. Kelompok tersebut ternyata mendapatkan pesanan membuat gerabah dari turis, hingga kemudian terbentuklah sebuah koperasai. Meski keberadaannya telah lama, namun koperasi baru didaftarkan menjadi berbadan hukum pada 2006. “Ada turis yang memesan gerabah pada kelompok campur sari Setya Bawana. Kemudian terbentuklah koperasi, dan baru didaftarkan berbadan hukum setelah gempa 2006,” ungkap pengurus harian koperasi Setia Bawana, Made Supardi.

Selain fungsi teknis penguatan modal bagi anggota, berupa pijaman berbunga rendah, koperasi juga berperan dalam pengembangan sentra gerabah Kasongan. “Setiap tanggal 15 ada pertemuan pengurus inti untuk membicarakan perkembangan sentra gerabah Kasongan dan bagaimana langkah-langkah ke depan,” kata Made. Sedangkan pelatihan-pelatihan dan pembinaan bagi para perajin dilakukan oleh pemerintah daerah setempat seperti pelatihan manajemen, ekspor, ataupun finishing produk gerabah.

Peran pemerintah desa sendiri lebih pada penataan pokdarwis (kelompok sadar wisata), memberikan arahan, serta menampung keluhan mengenai kesulitan-kesulitan yang dihadapi termasuk masalah permodalan. Beberapa permasalahan yang disampaikan warga Kasongan, kata Hadi Suprojo, antara lain agar pemerintah ataupun perbankan mempermudah akses permodalan untuk pengembangan usaha.

-bangkit pasca gempa-
Sedangkan untuk mengenalkan Kasongan kepada masyarakat luas, disadari promosi perlu terus dilakukan antara lain melalui pameran-pameran. “Jangan sampai Kasongan menjadi tertutup atau hilang akibat gempa 2006 lalu. Sekarang sudah mulai bangkit dan nampak lagi,” ungkap Kepala Dukuh yang juga menjadi perajin gerabah sejak 1989 tersebut.

Sejak bencana gempa bumi 2006, disamping jumlah kunjungan wisatawan ke Kasongan menurun drastis, warga pun harus memulai usaha dari awal karena perlu pemulihan rumah, tungku pembakaran gerabah, ataupun peralatan penunjang lainnya. “Perlu waktu untuk pulih kembali. Padahal dulu Kasongan sudah mulai artistik, banyak dikunjungi wisatawan. Namun akibat gempa, banyak yang rusak seperti gapura-gapura roboh,” papar Nangsib, sapaan akrab Hadi.

Pengembangan Kasongan sebagai desa wisata dilakukan pula dengan menerima ide-ide dari warga masyarakat. Untuk mendukung Kasongan sebagai desa wisata, warga menginginkan dibangunnya monumen Kasongan. Saat ini telah tersedia lahan seluas 1.600 meter persegi yang semula merupakan tanah milik pemerintah propinsi DIY, dan telah diserahkan ke Pemda Bantul. “Masukan dari warga, menginginkan dibangunnya Monumen Kasongan. Walaupun belum ada kepastian kapan bisa terwujud,” tambahnya.

Meski mayoritas warga menekuni kerajinan gerabah, namun tidak terjadi persaingan yang tidak sehat. Kerukunan antar warga pun masih terjaga dengan baik. Persaingan lebih pada kualitas produk. “Kehidupan sosial antar tetangga, kerukunannya masih bagus. Selalu gotong-royong karena kita tidak bisa hidup sendiri,” pungkas Buang Mudiarjo disela kegiatannya bersama warga yang lain. -cahpesisiran-
foto: dok.

Thursday, June 12, 2008

Belut Godean

Permintaan Tinggi, Kesulitan Teknik Budidaya

KERIPIK belut dengan mudah dapat ditemukan di Pasar Godean, Sleman, Yogyakarta. Deretan toko kecil yang menjajakan keripik belut dengan display kaca, akan langsung terlihat ketika melintas di depan pasar yang berada di Jalan Godean, sekitar 30 menit perjalanan ke arah barat dari kota Yogyakarta tersebut. Godean memang telah cukup lama dikenal sebagai sentra belut.

Saat ini, di Kecamatan Godean terdapat 36 orang pedagang keripik belut yang tergabung dalam Paguyuban Pedagang Keripik Belut Harapan Mulya. Pada 2007 total produksi mencapai 180.000 kg.

Harga keripik belut di Pasar Godean tergolong relatif mahal yaitu mencapai kisaran Rp 40 ribu per kilogram. Bu Tini, salah seorang pedagang, mengungkapkan sebagian besar bahan baku (belut yang masih hidup) didatangkan dari daerah Jawa Timur, karena pasokan dari Godean sendiri tidak dapat memenuhi kebutuhan. Pasokan belut lokal dari Godean sebagian besar berasal dari para pemburu yang menangkap belut liar di lahan persawahan pada malam hari (nyuluh). “Harga dari pemasok dari Jawa Timur Rp 12 -15 ribu per kilogram. Mendatangkan belut biasanya seminggu sekali 1 atau 1,5 ton, yang kemudian digoreng sendiri,” ungkapnya. Setiap harinya Bu Tini rata-rata dapat menjual 5 – 10 kg keripik belut. Sedangkan pada masa lebaran, penjualan per hari bisa mencapai 50 kilogram.

Meski dikenal sebagai sentra belut, ternyata belum banyak masyarakat Godean yang secara khusus melakukan pembudidayaan. Hal itu dikarenakan belut memang masih relatif sulit dibudidayakan terutama untuk masalah pembibitan. Seperi Hadifa Eels Farm misalnya, usaha pembudidayaan belut yang telah dimulai sejak 2004 tersebut juga mengalami kesulitan serupa. Selain sulitnya mendapatkan pasokan bibit, proses pembesarannya pun ternyata tidak mudah. “Pertama kali masuk bibit 4 kwintal. Tapi karena kesalahan media pembudidayaan, akhirnya panen kurang berhasil. Bibit yang mati hampir 50%”, ungkap Sumarno, pengelola Hadifa Eels Farm.

Pasokan bibit dari Sumpyuh Purwokerto ke Hadifa Eels Farm hanya berjalan sekali kemudian terhenti. Usaha dilanjutkan berupa pengolahan belut dengan bahan baku didatangkan dari luar daerah. Untuk bahan kripik didatangkan dari Jawa Timur. Sedangkan untuk abon dan dendeng, karena diperlukan belut yang besar-besar, maka didatangkan dari Kalimantan dan Sumatera Selatan.

Disamping membuat olahan belut, sejak Januari 2008 Hadifa Eels Farm kemudian juga mencoba melakukan pembibitan sendiri . “Kita belajar sendiri, mengamati sendiri. Dan itu baru mulai ada bibit,” ungkap Sumarno yang kelahiran Godean tersebut. Meski sudah banyak permintaan bibit baik dari calon pembudidaya di Sleman maupun luar daerah seperti Kudus, Semarang, Wonosobo, dan Balikpapan, tapi Hadifa Eels Farm belum bisa memenuhinya. “Ini belum sepenuhnya berhasil. Baru sekitar 50%. Bibit baru masih untuk ternak sendiri dan belum diperjualbelikan,” terangnya. Meski begitu, Sumarno optimistis ke depan akan dapat melakukan pembudidayaan belut dengan pembibitan sendiri, bahkan akan bisa pula menjual bibit.

Dalam pembibitan belut, Sumarno mengaku menghadapi kendala iklim. Karena musim perkembangbiakan belut hanya terjadi sekali dalam setahun, yaitu pada musim penghujan. Kendala lain adalah adanya sifat biologis belut yang unik yaitu perubahan jenis kelamin menjadi jantan setelah dewasan, sehingga tidak bisa lagi sebagai induk. “Belut hanya berkembang biak (bertelur) pada musim hujan saja. Sehingga kita mencoba memanipulasi membuat hujan buatan agar belut bisa bertelur lebih dari sekali dalam setahun,” paparnya.

Sedangkan untuk proses pembesaran belut, dapat dilakukan di kolam beton ataupun di kolam sawah dengan pematang dibuat permanen. Menurut Sumarno, berdasarkan teori yang ia peroleh dari buku, kolam harus diberikan media berlapis berupa jerami, pupuk kandang, gedebog pisang, dan tanah. Media tersebut dibuat dua lapis. “Sedangkan untuk pemberian pakan secara alami seperti cacing dan hewan-hewan air kecil. Kalau pakan pabrik, belut tidak mau,” tambah lelaki yang mengelola pembudidayaan belut di Sokonilo, Sidoluhur, Godean, Sleman tersebut.

Belut dapat dipanen setelah 4 hingga 6 bulan sejak bibit yang berusia tiga bulan ditebar di kolam pembesaran. “Setelah dibesarkan, menurut teori perbandingannya 1:10. Jadi setiap 1 kg bibit bisa menjadi 10 kg belut, atau kondisi paling jelek 1:5,” kata Sumarno sembari menambahkan karena keliru pengaturan media di kolam, pembesaran yang ia lakukan sebelumnya tidak dapat berjalan seperti teori dan panen kurang berhasil. Selain itu, Sumarno menduga banyaknya penggunaan pupuk kimia di lahan persawahan saat ini juga berdampak negatif terhadap perkembangbiakan, peluang hidup, dan pertumbuhan belut.

-inisiatif budidaya-

Meski belum banyak masyarakat Godean yang membudidayakan belut, namun minat masyarakat relatif cukup besar. Salah seorang warga Desa Sidorejo, H. Sardjono (61 tahun) misalnya, tertarik untuk mulai membudidayakan belut sejak awal Mei 2008 lalu. “Baru dalam tahap uji coba,” kata ayah tiga orang anak tersebut.

Sardjono memanfaatkan lahan sawahnya seluas 300 m2 yang ditanami padi untuk sekaligus pembesaran belut. Sebanyak 20 kg benih belut ia tebar di lahan tersebut dengan umur bervariasi yang didapat dari para pemburu belut liar. “Bukan di kolam khusus tapi di sawah. Ditanami padi sekaligus untuk budidaya belut. Di pematangnya diberi pembatas plastik agar belut tidak lepas keluar lahan,” papar lelaki yang juga ketua kelompok tani desa setempat.

Untuk pembesaran belut tersebut, Sardjono melakukan perlakuan khusus terhadap lahan. Sebelum ditanam padi, terlebih dulu disebar pupuk organik berupa pupuk kandang. Selama proses pembesaran juga tidak digunakan pupuk kimia. “Dari pupuk kandang itu nantinya akan menghasilkan sebangsa cacing yang bisa untuk makan belut. Rencana juga akan diberi lampu listrik di atas lahan untuk menarik serangga yang juga bisa sebagai makanan belut. Karena memang belum ada makanan khusus untuk belut yang bisa dibeli,” paparnya.

Direncanakan belut akan dipanen setelah usia 100 hari sejak penebaran benih, bersamaan dengan dipanennya padi di lahan tersebut. Mengenai pemasarannya, Sardjono tidak khawatir akan kesulitan karena permintaan masih tinggi. “Harga antara Rp 14 ribu -17 ribu per kg dari petani ke pembuat keripik belut,” katanya.

-kendala teknik budidaya-

Tidak mudahnya pembudidayaan belut juga diakui oleh Kepala Bidang Perikanan, Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Ir. A A Ayu Laksmidewi, MM. Saat ini belum ada rekomendasi teknis resmi tentang budidaya belut yang bisa meyakinkan akan berhasil jika diterapkan. “Rekomendasi teknisnya memang belum ada yang bisa meyakinkan untuk berhasil,” paparnya.

Jika dilihat secara hitung-hitungan di atas kertas, Laksmidewi mengakui budidaya belut memang terlihat sebagai potensi dan peluang yang besar. Tapi kondisi di lapangan ternyata terkendala teknologi, dan secara hitungan bisnis belum tampak keuntungan dari membudidayakan belut. “Kalau hitungan di atas kerta memang besar. Bahkan ada pemberitaan di media massa sekian milyar lari ke Jawa Timur untuk mendatangkan bahan baku belut ke Godean. Sebenarnya masalahnya bukan itu. Di Jawa Timur dengan lahan seluas itu, wajar bila menjadi sumber belut yang besar. Dan di sana pun kemungkinan juga belum budidaya, tapi hasil buruan,” katanya.

Kendati menghadapi kendala dalam hal teknologi budidaya, pemerintah setempat tetap berupaya mempertahankan dan mengembangkan Godean sebagai sentra belut. ”Kalau masyarakat pelaku usaha penggoreng belut mengeluhkan tingginya harga bahan baku, saya menangkapnya bukan kita harus membudidaya sendiri. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan dalam waktu dekat adalah membuat hubungan yang jelas antara pemasok bahan baku dengan pengolah, agar terjadi itung-itungan terbuka. Jadi tidak sepihak saja yang mendapatkan keuntungan besar sementara pihak lain mepet. Mungkin kita bisa berperan sebagai mediator,” kata Laksmidewi menjelaskan. Ia menambahkan, pihaknya tetap merespon dengan pemberian pendampingan jika ada masyarakat yang mengembangkan budidaya belut.

-prospek bagus-

Mengenai prospek ke depan dari pengolahan dan budidaya belut ini, kalangan pelaku usaha melihatnya masih bagus. “Prospek hingga sepuluh tahun ke depan pun saya kira masih bagus karena ini masih kekurangan terus,” kata Sumarno. Bahkan Sumarno mempunyai harapan, Godean tetap dikenal dengan belutnya. “Kita baru merintis produk olahan kemasan yang diberi label belut Godean. Seperti halnya Kentucky yang dikenal dengan Kentucky Fried Chicken-nya, kita ingin mengangkat brand Godean ini dengan belut,” pungkas Sumarno. -cahpesisiran-