Showing posts with label dongengan. Show all posts
Showing posts with label dongengan. Show all posts

Tuesday, October 28, 2008

Theme song film animasi dan seorang sahabat

Theme song sebuah film animasi membuatku teringat pada seorang sahabat. Seorang sahabat yang biasa memanggilku om. “Untuk mengingatkan janjimu pada keponakan, menjenguknya,” katamu. Ok deh, maka kupanggil juga kamu dengan panggilan tante. Setahun labih kita berbeda kota, intensitas komunikasipun berkurang. Tapi aku tak mungkin melupakanmu sobat. Tentu saja, seperti dulu pernah kukatakan padamu. “Aku tak kan pernah lupa. Suatu saat waktu aku liputan dan kelaperan, ada seorang wartawan sebuah koran harian yang memberikanku rotinya dan air mineral,”
Ciee so sweet.. (hueks hueks..)

Ah, tapi kamu pelit. Kenapa cuma memberiku air mineral. Kenapa bukan pepsi, coca-cola, atau apa lah yang lebih segar??!! Haha, tentu saja cuma becanda.
Walaupun cuma (bukan “cuma” tepatnya) roti dan air mineral, tapi itu sangat berarti bagiku sobat.

Bukan semata-mata cerita kecil itu sobat, tapi banyak hal. Sungguh, aku tak kan lupa persahabatan kita. Walaupun tak pernah terucap diantara kita bahwa kita bersahabat.

Tetaplah tersenyum dan ceria sobat! Seperti biasa dulu aku melihatmu.
Seperti banyak keceriaan dalam film animasi itu, yang dulu menjadi favoritmu.

Friday, October 10, 2008

Kepiting dan Rahasia Tuhan

~~~

Seiring pendar semburat jingga, langkahku terarah ke suatu pantai berpasir luas terhampar. Seorang gadis tengah duduk beralaskan pasir diteduhi daun nyiur yang tak berhenti melambai pelan bersama hembusan angin. Ia pandangi lautan bergelombang membiru. Di tepian, air tak pernah bosan mendatangi butir-butir pasir. Mengajaknya bermain bersama ikan-ikan dan kepiting-kepiting kecil yang entah mengapa selalu berjalan dan berlari menyamping. Mungkin, hanya Tuhan yang tau jawaban mengapa kepiting-kepiting kecil itu selalu berjalan menyamping.

Matahari tinggal menampakkan separuh wajahnya yang merona jingga di garis cakrawala pertemuan langit dan laut. Separuh lagi wajahnya telah tersembunyi seolah menyelam di kedalaman samudera jauh di depan sana. Namun mentari pun belum benar-benar ingin berpisah dengan awan dan langit. Masih ia tinggalkan cahaya yang memberi warna jingga kemerahan berpendar bagi langit dan awan. Menjadikan langit jingga sebagai kubah luas tak berbatas bagi air, bagi hamparan pasir, bagi kepiting kecil. (Ah, kepiting-kepiting kecil itu masih selalu berjalan menyamping). Menjadi kubah bagi semua yang ada di bawahnya.

Gadis itu masih duduk di sana. Bersama tenang suara alam dan gemuruh ombak, ia senandungkan harmoni keindahan dalam jiwanya, meski ada perih. Rambut panjang lurusnya dibiarkan terurai menyambut sapaan angin yang bertiup pelan. Membuatnya sedikit terangkat dari bahunya. Entah angin apa membawaku mendekatinya. Aku pun duduk tak begitu jauh darinya. Aku telah mengenal dia, pun dia telah mengenalku.

Aku tak tau kapan pernah bertemu dia, juga tak tau kapan pernah berbincang dengannya. Bahkan, aku tak tau sejak kapan mulai mengenalnya. Karena, baru kali itu aku bertemu dengannya.

-kepiting kecil dan rahasia Tuhan-

cahpesisiran, Solo 2004 ~ re edit Yogya 2008

Tuesday, April 08, 2008

Angsa dan gadis kecil

Ku awali post ku dengan kalimat,

-Once upon a time, in a land far far away.. sak wijining dina ing sakwijining papan.. atau pada suatu ketika di negeri antah berantah..- (Halah, koyok dongeng aja..)


Pada suatu ketika, hiduplah seekor angsa yang tidak berbeda dengan kebanyakan angsa pada umumnya. Suatu pagi, ia keluar dari peraduannya dan berjalan menuju sebuah telaga tak jauh dari sarangnya. Dedaunan masih basah oleh beningnya embun. Angin semilir pun masih terasa dingin, membuat bulu-bulu angsa sedikit terangkat. Beberapa langkah berjalan, ia berpapasan dengan seekor burung nuri yang terbang rendah pagi itu.

“Hai angsa, hendak ke telaga ya.. Eh angsa, kok warna bulumu hanya putih?” kata burung itu.

“Iya. Buluku hanaya berwarna putih, dan aku menerimanya,” kata angsa singkat sembari berjalan.


Tak lama kemudian kembali ia berpapasan dengan seekor burung gagak yang tengah bertengger di sebuah ranting pohon. Butir embun jatuh ke tanah dari beberapa helai daun saat gagak hinggap.

“Hai angsa, kenapa paruhmu pipih seperti itu?” tanya gagak yang kemudian terbang menjauh dengan ber-kaok. Suaranya makin lama semakin sayup dan menghilang.

“Iya. Paruhku pipih, dan aku menerimanya,” jawab angsa.


Angsa pun melanjutkan langkah, dan air telaga jernih membiru mulai terlihat olehnya. Kali ini ia berpapasan dengan seekor puyuh yang sedang mencari makan di sela-sela rerumputan dan belukar.

“Hai angsa, kenapa lehermu panjang sekali?” tanya si puyuh.

“Iya. Leherku panjang, dan aku menerimanya,” kata angsa kembali memberi jawaban singkat.


Sampailah ia di tepi telaga. Dengan bergegas, angsa mendekati air yang memang masih dingin sepagi itu. Diulurkannya salah satu kaki ke air, namun beberapa saat sebelum menyentuh dinginnya air telaga, kembali terdengar sebuah pertanyaan untuknya.

“Hai angsa, kenapa kakimu berselaput?” kali ini suara berasal dari seekor elang yang baru saja menyambar ikan buruannya di telaga. Ikan malang itu masih ada di cengkeraman, saat elang terbang melintas di atas angsa.

“Iya. Kakiku berselaput, dan aku menerimanya,” jawab angsa singkat.


Angsa pun berenang di jernihnya air telaga.

“Bisa saja aku men-cat buluku dengan warna-warni indah ataupun warna emas.

Bisa saja aku mengganti paruhku dengan paruh tajam dan kuat, seperti paruh gagak.

Bisa saja aku memotong leherku agar tak sepanjang ini.

Bisa saja aku mengganti kakiku yang berselaput dengan cakar yang kuat, sekuat cakar elang. Hanya, jika aku tak menerima apa yang ada ini,” senandung angsa sambil berenang di jernihnya

air telaga. Entah telah berapa lama angsa berada di telaga, namun kini mentari telah mulai tinggi dan memancarkan sinar hangatnya.


“Mama lihat..! Ada bebek cantik Ma..!” kata seorang anak di tepi telaga memacah kesunyian.

“Oh itu bukan bebek, tapi angsa,” jawab si ibu setelah mengarahkan pandangan mengikuti telunjuk si kecil.

“Oh angsa.. Angsa yang cantik ya Ma..?!” rengeknya.

“Iya sayang, angsa yang cantik. Seperti putri mama ini,” jawab si ibu kepada putri kecilnya seraya menggandeng tangan mungilnya.


Ada senyum kecil di paruh angsa saat ia berenang menghampiri kawanan angsa-angsa lain di seberang sisi telaga. “Iya. Aku menerimanya,” kata angsa dalam hati.

The end

Tiga keponakanku telah terlelap, aku pun ikut terlelap.

-pesisiran kidul, suatu ketika-